
Sesampainya Eric, Galen, dan Nathan di perusahaan setelah melakukan pemeriksaan sekolah dan pusat kesehatan di desa Hala mereka bertiga menuju kantor. Lalu mereka melakukan rapat kedua bersama kepala bagian yang masih tinggal di penginapan yang sudah disediakan. Rata rata kepala bagian di perusahaan manufaktur masih muda dan berbakat. Mereka datang dari kota S ke sebuah desa untuk melamar pekerjaan.
Jadi mereka menginap di penginapan yang sudah Eric sediakan karena merasa kasihan jika mereka harus putus asa mengenai tempat tinggal. Selama mereka bekerja di perusahaan Eric mereka jadi terbiasa dan merasa nyaman tinggal di penginapan tersebut.
Setengah jam berlalu Eric menutup rapat. Para peserta rapat bubar meninggalkan ruangan tersebut.
"Nathan kamu siapkan surat permohonan untuk pertemuan saya dengan pemilik rumah yang berada di sekitar sekolah”
“baik tuan Eric, saya akan menyelesaikannya malam ini”
“aku kembali ke kamar duluan ya kak Eric dan Nathan” ujar Galen
“yasudah kamu istirahat lah karena kita masih memiliki banyak jadwal untuk besok.”
Galen meninggalkan Eric dan Nathan yang sedang berdiskusi di kantor perusahaan. Nathan sibuk mengetik di atas keyboard komputer sedang membuat surat resmi permohonan bertemu dengan Alyosha untuk membicarakan mengenai permintaan lahan rumahnya.
Eric merogoh saku mendengar ponselnya sedang berdering. Panggilan vidio dari Viana tertera di layar ponsel, Eric lalu menerima panggilan tersebut.
“halo sayang, kamu lagi ngapain?” tanya Viana di ujung telepon
“sedang berdiskusi bersama Nathan di kantor mengenai pekerjaan”
“ini sudah malam kenapa kalian masih belum istirahat ?”
“sebentar lagi kami akan istirahat. Bagaimana dengan undanganmu”
“semua berjalan dengan lancar. Teman temanku juga memperlakukan aku dengan baik. Aku akan menyusul kalian besok siang kesana"
“kamu tidak perlu datang ke sini, sebentar lagi kami akan balik ke kota S”
“tapi kan aku rindu sama kamu, aku gak mau tau yang penting besok aku harus sudah berjumpa dengan kamu”
__ADS_1
“terserah kamu saja, kalau begitu sampai sini saja. Aku dan Nathan akan beristirahat”
“oke sayang. Istirahatlah dengan nyaman”
Viana mengakhiri panggilan vidio mereka berdua. Nathan memberika selembar surat di dalam sebuah map pada Eric. Eric memeriksa surat tersebut lalu menanda tangani surat itu.
“apakah kamu ingin makan sesuatu?” tanya Eric
“tidak tuan Eric, saya langsung istirahat saja”
“oke, kalau begitu aku juga kembali ke kamarku”
Eric melirik jam tangan yang menunjukkan pukul delapan malam. Ia menyusuri jalanan menuju kamarnya lalu ia berbalik menuju parkiran. Eric menyalakan mobil dan mengendarainya tanpa tau tujuan. Ia mengendarai mobil dengan santai menikmati malam di pedesaan.
Setelah beberapa menit Eric memberhentikan mobilnya lalu ia tersadar ternyata ia berhenti tepat di depan rumah Alyosha. Orang orang yang membeli makanan di rumah makan Alyosha menatap ke arahnya. Ia ragu untuk turun tetapi ia juga takut mereka mengira ia akan berbuat jahat jika ia pergi. Eric turun dan melangkah dengan canggung lalu duduk di meja makan yang kosong. Erik menyunggingkan senyum pada pembeli yang masih menatapnya.
“selamat datang di rumah makan kami, anda ingin memesan apa?” tanya Alyosha dengan profesional.
“maaf saya tidak ingat makanan yang anda pesan tadi pagi”
“kamu masih muda tetapi memiliki ingatan yang buruk”
Mendengar perkataan Eric Alyosha pergi menuju meja pembeli lainnya. Ia menanyakan pesanan pembeli tersebut lalu menyiapkan hidangan makanan yang mereka pesan. Setelah memberikan hidangan kepada pembeli tersebut Alyosha lalu kembali.
Dua orang pembeli yang Alyosha dahulukan menatap Eric dengan lekat. Eric bangkit dan pergi menuju tempat Alyosha memasak karena risih ditatap terus terusan oleh mereka berdua.
“hei saya pesan ayam panggang saja, saya ingin ayamnya utuh satu ekor bukan yang dipotong potong” ujar Eric dengan suara berbisik.
“kamu kira ini di kota sana. Ini pedesaan, mana ada jual ayam satu ekor untuk dimakan di rumah makan kecil seperti ini. Kamu jangan menyusahkan saya”
“kalau begitu aku pesan seperti yang tadi pagi saja, aku sudah lupa makanan apa yang aku pesan. Lagian kamu tidak memberikan daftar menunya seperti tadi pagi."
__ADS_1
“mama kami pulang” ujar anak anak Alyosha.
Alyosha melihat kedua anaknya berjalan memasuki rumah dan tidak menatapnya. Alyosha buru buru memasangkan topi yang ia pakai pada Eric. Eric tidak mengerti apa yang Alyosha lakukan padanya sekarang.
“mama, apa yang harus kami lakukan”ujar Ocha
Ocha dan Aarav keluar rumah setelah meletakkan tas dan sepatu di dalam rumah. Lalu mereka menyalami Alyosha yang sedang berdiri membelakangi Eric. Alyosha membenarkan rambut kedua anaknya hingga menutupi sediki wajah Ocha dan Aarav.
Eric terdiam mendengar seorang anak kecil yang memanggil Alyosha dengan panggilan MAMA. Ia tidak bisa menerima kenyataan yang barusan ia dengar dengan membenarkan pemikiran yang ia buat. Ia berpikir jika anak tersebut adalah anak dari orang lain.
“kalian boleh bantu mama ambil piring yang ada di meja ujung sana tidak?”
“kamu saja deh kak” ujar Aarav
“tidak, kalian berdua yang mama suruh. Piringnya terlalu banyak jadi kak Ocha tidak bisa membawanya sendirian. Bisa kan Aarav, Aarav anak mama paling tampan deh”
Alyosha berusaha membujuk mereka berdua agar tidak bertemu dengan Eric. Eric yang mendengar Alyosha menyebut dirinya sendiri dengan sebutan mama membuat hatinya terasa hancur. Eric menatap dua anak kecil yang sedang berjalan membelakanginya mengikuti perintah ibu mereka.
“ka..”
Eric memakaikan topi yang Alyosha berikan padanya saat Alyosha berbalik melihat Eric. Gerakan secara tiba tiba dari Eric membuat Alyosha menghentikan perkataannya. Alyosha melepaskan topinya dan melihat wajah Eric yang kecewa. Eric berbalik meninggalkan Alyosha yang masih bingung melihat tingkah laku Eric.
“kok dia pergi. Bagaimana dengan pesanannya? tapi itu bagus juga sih.” ujar Alyosha
Eric mengendarai mobilnya pergi tanpa mengatakan satu kata pun pada Alyosha. Alyosha kemudian menghiraukan apa yang sudah terjadi barusan. Alyosha laly melanjutkan pekerjaannya.
Eric mencoba menahan amarahnya dengan tidak mengendarai mobil dengan kencang. Ia sadar jika ia masih berada di pedesaan yang sunyi. Ia tidak ingin mengganggu para penduduk yang sudah beristirahat di malam hari itu. Eric tidak mengerti dengan apa yang sedang ia rasakan di hatinya.
Eric merebahkan tubuhnya di atas kasur setelah sampai di kamar penginapan. Ia mengambil ponsel yang berada di atas meja lalu membuka galeri foto. Ia melihat hasil foto yang ia ambil tadi siang yang membuat Eric merasa malu karena kilatan cahaya dari ponselnya. Foto Alyosha yang berdiri mengarahkan kamera di depan wajahnya pada objek yang akan ia foto.
“ternyata kamu disini Alyosha. kamu masih sama seperti dulu selalu berlaku cuek padaku. Walaupun hidup di desa dan bekerja berat tapi kamu malah menjadi semakin cantik dari sebelumnya. Dan sekarang kamu telah menjadi seorang ibu dan aku juga sudah memiliki tunangan. Kita berdua memiliki jalan kita masing masing.” ujar Eric bermonolog
__ADS_1
Eric menatap foto Alyosha yang berada di layar ponselnya hingga ia terlelap dalam tidur. Ia ingin menghapus ingatan yang terjadi barusan. Dua anak kecil memanggil wanita yang ia cintai dengan sebutan mama sedangkan ia akan di panggil oleh anak Alyosha dengan sebutan paman. Sebuah gelar yang memiliki pasangan gelar masing masing dan tidak dapat bersatu karena itu pasti akan menyakiti orang lain jika dipaksakan.