Anak Genius Pasangan Elit

Anak Genius Pasangan Elit
Anak Kandung


__ADS_3

Setelah melaksanakan pembukaan pembangun cabang baru bersama para anak anak desa Hala, Eric tampak sibuk dalam menjadwalkan persiapan untuk membuka sekolah baru dan rumah sakit Baru di desa Hala yang sudah selesai pembangunannya. Serah terima telah dilakukan bersama dengan kepala desa Hala dan semua pengurus sekolah dan rumah sakit. Setelah melalui semua kesibukan yang sangat padat, besok adalah waktunya untuk meratakan tanah sekolah dan pusat kesehatan lama.


Eric, galen dan Nathan akan mensurvei kembali lokasi tersebut bersama para tim mereka untuk memastikan jika bangunan tersebut sudah benar benar kosong. Pada saat mereka sampai di lokasi tersebut Eric, Galen dan Nathan tidak bisa percaya dengan apa yang mereka lihat. Rumah Alyosha yang sudah terbakar dan mereka bertiga tidak tau mengenai kejadian tersebut.


“apa yang sudah terjadi di sini pak?” tanya Eric pada kepala desa.


“kemarin ada kebakaran yang menimpa rumah ini pak Eric, dan sekarang pemiliknya sudah kembali ke kota S. Jadi untuk konfirmasi mengenai dua rumah ini bisa langsung ke saya saja pak”


“kalau begitu nanti Nathan akan konfirmasi ke pak


kepala desa”


“iya pak Eric”


“kebakara ini kapan ya pak tepatnya?” tanya Galen


“kebakaran ini bertepatan terjadi pada pembukaan yang dilakukan oleh perusahaan pak Eric di siang hari”


“pantas saja kami tidak tau.”


“bolehkah kami masuk ke dalam pak?”


“boleh pak Eric, silahkan”


Eric, Galen dan Nathan memasuki rumah Alyosha yang sudah terbakar sebagian. Ada beberapa barang yang sengaja ditingalkan seperti tempat tidur dan meja makan di dalam rumah tersebut. Eric menyuruh Nathan dan Galen untuk memeriksa barang berharga yang tertinggal untuk dikembalikan pada pemiliknya.


Eric memasuki kamar yang masih utuh. Ia mengamati kamar yang dipenuhi dengan gambar bunga matahari. Eric memeriksa lemari yang masih menyisahkan beberapa pakaian. Lalu memeriksa meja rias yang ada disebelah tempat tidur. Eric mendapatkan berkas berkas dan memeriksa satu persatu untuk melihat apakah ada berkas penting yang tertinggal. Eric menemukan di antara berkas tersebut sebuah amplop yang berisikan kertas bertulisan yang di tandai nama Alyosha. Saat Eric membuka surat tersebut selembar foto terjatuh ke lantai.


Foto tersebut jatuh terbalik dan dibaliknya tertera tiga nama. Aarav Alyosha, Alyosha Gauri dan Ocha Digna.


Wow siapa Ocha ini, kenapa begitu berani menyandingkan namanya dengan nama besar keluarga Digna, pikir Eric


Eric membalik foto yang ia pegang karena penasaran. Orang yang berada dalam foto itu membuat Eric kaget dan berpikir dengan keras. Di dalam foto itu terdapat seorang wanita yang sedang duduk dengan dua anak kecil kembar. Dua anak yang bersama dengan Alyosha memiliki wajah yang sangat mirip dengan Eric. Eric lalu teringat dengan perkataan Galen mengenai warna mata yang dimiliki anak kecil yang mereka jumpai di rumah makan Alyosha.


Eric menyimpan foto Alyosha dengan Ocha dan Aarav di dalam saku jasnya. Lalu kembali mengitari kamar yang ditinggali oleh mereka. Eric melihat mantel malam yang dulu sengaja ia tinggalkan buat Alyosha tersangkut dikamar mandi. Muka Eric mulai panas merasa malu.


Apakah ini juga termasuk melihat dia sedang mandi, pikir Eric


“sepertinya tidak ada sesuatu yang berharga di rumah ini” ujar Nathan


“sepertinya begitu” ujar Galen


Eric tidak menyauti mereka karena rumah ini adalah rumah yang ditempati oleh Alyosha dan Eric merasa semua ini sangat berharga.


“Nathan, kamu mintalah nomor yang bisa dihubungi kepada kepala desa seperti yang dikatakannya tadi.”


“baik tuan Eric”


Mereka bertiga lalu keluar dari rumah Alyosha dan bergabung bersama yang lainnya. Semua lokasi sudah selesai dikosongkan dan peruntuhan bangunan sekolah akan dilakukan sebagai yang pertama. Satu persatu puing puing bangunan sekolah berjatuhan hingga tidak menyisahkan satu tiang pun.


“Galen boleh kembali duluan karena ada yang ingin aku bicarakan dengan kepala desa”


“baik kak Eric”


Eric dan Nathan mendatangi rumah kepala desa di sore hari karena kepala desa sudah kembali duluan karena mengerjakan tugasnya yang lain. Mereka berdua disuguhkan makanan ringan dan juga minuman sambil menunggu kedatangan kepala desa.


“pak Eric sudah lama menunggu saya, maaf yah” ujar kepala desa setelah sampai di rumah.

__ADS_1


“jadi apakah masih ada yang penting yang perlu bantuan saya?”


“saya ingin bertanya mengenai kedatangan Alyosha ke desa Hala ini untuk pertama kalinya.”


“oh itu, dulu dia datang ke desa kami ini sendirian dalam keadaan mengandung anak anaknya. Katanya sih kenapa dia pindah ke desa ini karena alasannya ingin mendidik anak anaknya dengan baik begitu. Saya tidak banyak bertanya mengenai privasinya, yang penting dia datang ke desa kami dengan niat yang baik.”


“lalu kenapa dia kembali ke kota S pak?, Bukankah dia bisa membangun rumah baru di desa ini.”


“pada malam kejadian rumahnya terbakar, Ocha sakit parah jadi harus di rujuk ke rumah sakit yang ada di kota. Saya sangat salut dan bangga pada Alyosha karena sudah menjadi ibu tunggal buat kedua anaknya”


Mendengar semua perkataan kepala desa membuat Eric terguncang. Walaupun ia masih belum memiliki bukti jika dua anak kembar yang bersama Alyosha adalah anak kandungnya tapi ia memiliki firasat yang sangat kuat terhadap mereka.


“kalau begitu terima kasih pak atas informasi dan nomornya, kami kembali dulu.”


“iya pak Eric dan pak Nathan, jangan sungkan untuk singgah ke rumah saya”


“baik pak. Sampai jumpa”


Eric dan Nathan berjalan bersama mengitari pedesaan Hala. Ia lalu mengeluarkan selembar foto dan memberikannya pada Nathan. Nathan merasa bingung karena diberikan foto oleh Eric.


“balik fotonya”


Nathan lalu membalik foto tersebut dan terkejut dengan apa yang ia lihat. Ia langsung mengingat kejadian pada malam hari di sebuah taman.


“apakah mungkin itu anak anakku?”


“saya juga tidak terlalu yakin tuan, tetapi jika melihat dari umur mereka berdua sepertinya sangat sesuai bila di sandingkan dengan waktu kalian berdua membuatnya, tapi mungkin juga itu anaknya dengan pria lain.”


“aku pernah mendengar dari sahabatnya yang dulu mengikutiku seperti papparazi, ia mengatakan kalau Alyosha adalah wanita baik baik.”


“kalau begitu kita sepertinya perlu menyelidiki mereka berdua”


berjumpa dengan Alyosha di rumah sakit Wijaya. Tapi aku juga tidak yakin apa keperluan dia datang ke sana”


“apakah perlu aku menghubungi Alan untuk memeriksanya?”


Drt... drt...


Ponsel Eric berdering di dalam sakunya. Ia melihat nama Alan tertera di layar depan.


“baru saja kita mau menghubunginya tapi dia sudah duluan memanggil kita.” Ujar Nathan


“halo”


“halo Eric, apakah kamu sedang sibuk?”


“tidak. Ada apa Alan?”


“aku ingin memberitahu kamu sesuatu kalau aku memiliki pasien anak kecil yang sangat mirip denganmu namanya Ocha”


Eric membaca nama yang tertera di balik foto yang masih ia simpan sama dengan nama yang Alan katakan.


“kamu tidak salah lihat kan?”


“tidak Eric, dan yang paling aku pertanyakan adalah dia memakai nama belakang dengan nama keluarga Digna. Pertama kali mereka datang, aku


mengira mereka adalah keluargamu”

__ADS_1


“mereka memang keluargaku. Aku ingin kamu memeriksa sesuatu”


“tumben sekali ketua Elang meminta bantuan padaku yang hanya anggota rendahan”


“ini masalah serius. Aku ingin kamu mencari tahu apakah mereka benar benar anak kandungku. Aku akan pulang malam ini. Tetapi jangan beritahu siapapun termasuk mereka bertiga.”


“baik, akan aku siapkan semua”


Eric mengakhiri panggilan dari Alan. Ia dan Nathan kembali ke perusahaan manufatur.


“aku akan kembali ke kota S. Sekarang aku menyerahkan perusahaan padamu Galen. Lakukanlah dengan baik”


“baik kak, hati hati di jalan”


Nathan memanggil petugas pembawa helikopter milik Eric sebagai kendaraan mereka berdua ke kota S. Eric yang sangat penasaran mengenai kebenaran dari Ocha dan Aarav membuatnya tanpa berpikir panjang segera menggunakan helikopternya agar lebih cepat sampai ke rumah sakit wijaya. Helikopter Eric berhenti di lapangan khusus sesampai di rumah sakit wijaya. Alan yang menunggu Eric langsung menyambutnya dan membawanya ke ruangan laboratorium.


“kalian tunggu disini. Sample untuk ujinya sudah aku dapatkan dan sekarang aku membutuhkan sample darimu”


“ini, lakukan dengan teliti”


Eric memberikan satu helai rambut hitam miliknya pada Alan untuk menguji kesamaan dengan rambut Ocha dan Aarav. Eric menunggu dengan gusar di luar ruangan, ia sangat berharap jika Ocha dan Aarav adalah anak kandungnya sendiri. Setengah jam berlalu Alan akhirnya keluar dengan membawa hasil dari uji laboratorium yang ia lakukan.


Senyum sumringah di bibir Alan membuat jantung Eric berdetak kencang tak beraturan. Alan yang seperti mempermainkan Eric dengan memperlambat memberitahu hasil uji pada Eric membuatnya kesal.


“KAMU JANGAN MEMPERMAINKANKU ALAN” ujar Eric dengan penuh penegasan pada setiap kata.


“selamat Eric, selama ini kamu telah menelantarkan dua anak yang cantik dan tampan.”


“apa?” ujar Nathan


Wajah Eric berubah derastis penuh dengan penyesalan. Pertumbuhan dua anak kandungnya sudah ia lewatkan begitu saja. Eric duduk di kursi tunggu dan memegangi kepalanya berpikir keras mengenai Alyosha yang tidak memberitahu ia jika sudah memiliki anak kandung.


“kamu kan tidak mengetahui semua ini sebelumnya, jadi itu mungkin tidak masalah. Ikut aku, aku akan menunjukkan kamu dua anak tersebut. Mereka sedang berada di ruangan pasien.”


“siapa yang sedang di rawat?” tanya Nathan


“anak perempuan Eric. Namun ada syaratnya, ingat Eric kita hanya melihat mereka dan tidak untuk bertemu apalagi menyapa mereka berdua.”


“MEREKA ITU ANAKKU”


“kamu sedang berada dibawah emosi marah, Alyosha pasti memiliki alasan sendiri kenapa tidak memberitahu kamu. Jika kamu ingin ke depannya berjalan lancar maka ikutilah kataku Eric”


Eric mengangguk dengan pelan. Mereka bertiga berjalan menuju ruangan Ocha. Eric mengintip dari luar melalui kaca pintu. Dua anak kecil sedang berada di dalam sana. Aarav yang sedang tidur nyenyak di sofa dan Ocha yang melihat dengan tatapan hampa keluar jendela. Jarum yang menusuk tangan anak kecil dan selang infus yang tergantung di sampingnya membuat Eric terisak.


Eric hendak membuka pintu tidak tahan melihat keadaan anaknya yang sedang melawan penyakit tersebut, tetapi Alan menahannya.


“jangan bertindak gegabah. Kamu kira bocah yang tidur dengan nyenyak di atas sofa itu bocah biasa?. Ingat dia adalah keturunanmu dan kamu lebih tahu bagaimana dirimu.”


Ini adalah pertama kali bagi Nathan dan Alan melihat Eric dengan keadaan sedih seperti sekarang. Eric berjongkok di depan pintu ruangan Ocha dan menutupi wajahnya dalam dekapan tangannya sendiri.


“kamu harus kuat tuan Eric. ke depannya kamu harus berjuang dengan keras untuk mendapatkan mereka”


“benar Eric. Sekarang kamu kembalilah karena Alyosha akan pulang sebentar lagi”


“Alan, kamu adalah sahabat sejatiku. Tolong berikan yang terbaik untuk kesembuhan anakku. Berapa pun biayanya akan aku bayar”


“kamu terlambat Eric. Alyosha sudah membuat perjanjian untuk melakukan pembayaran melalui dirinya saja dan sudah ia tanda tangani dan itu tidak bisa diganggu gugat jika tidak dengan persetujuan dari Alyosha.”

__ADS_1


“apapun itu, yang penting kamu harus meyelamatkan anakku. Untuk itu adalah masalah akhir”


“aku akan melakukannya dengan maksimal mungkin. Mari aku akan mengantar kalian kembali”


__ADS_2