
“Ocha, Aarav ayo kemari sayang. Om Eric ingin berbicara dengan kalian berdua”
“om Eric datang ke sini, mana mah?” ujar Aarav dengan semangat
“bukan sayang. Om Eric melakukan panggilan vidio pada kita, lihat ini”
“halo Aarav, bagaimana hari harimu?”
“halo om Eric, hari Aarav terasa biasa saja. Om Eric kenapa tidak datang ke rumah kami lagi?”
“om Eric sedang di luar kota karena pekerjaan. Saya akan datang kesana lusa”
“benarkah?”
“benar dong, om Eric kan tidak pernah berbohong”
Ocha berlari dari kamarnya ke taman belakang rumah dimana sudah ada Alyosha dan Aarav yang sedang asyik bertelpon dengan Eric. Ocha langsung mengambil tempat duduk bersampingan dengan Aarav. Ia juga ingin bergabung bersama untuk berbicara dengan Eric.
“halo om Eric”
“halo Ocha, kamu dari mana saja?”
“Ocha baru saja menyelesaikan pekerjaan sekolah”
“apakah kamu menyelesaikan semuanya dengan baik ?”
“iya om Eric, semua soal soalnya mudah sekali. Oh iya, kami akan pergi ke taman Sunni hari ini bersama dengan tante Meera”
“wahh, pasti sangat seru. Om Eric juga ingin bergabung bersama kalian”
“benar om Eric, Ocha juga merasa sedih karena Ocha sangat berharap om Eric ikut serta bersama kami”
“jangan sedih sayang. Saat om Eric sudah pulang ke kota S, om Eric akan mengajak kalian berlibur ke pantai. Bagaimana ?”
“asyikk..., tapi om Eric harus menepati janji”
“iya sayang”
“saat berlibur om Eric juga harus mengajarkan Aarav ilmu komputer lagi ya” saut Aarav
“tetapi kamu sudah sangat pintar. Ilmu om Eric saja masih jauh dari kamu, bagaimana kalau yang lain?”
“yang lain?”
“ohh.. bagaimana kalau kamu datang ke perusahaan om Eric saja, agar kamu tau perusahaan seperti apa yang sistemnya sudah kamu retas dulu”
“Aarav tidak mau. Nanti Aarav malah diintimidasi di sana”
“tidak akan ada yang berani melakukan itu pada Aarav. Om Eric akan selalu melindungi Aarav dan Ocha.”
“benarkah?”
“iya, aduh... sayang sekali om Eric harus kembali bekerja. Maaf ya sayang, nanti om Eric akan menghubungi kalian lagi.”
“baik om, om Eric kembalilah bekerja dan kami juga akan berangkat karena tante Meera sudah dalam perjalanan kemari”
__ADS_1
“oke Ocha. Bisa berikan ponselnya pada mama kamu?”
“Ini mah, om Eric ingin berbicara pada mama. Ayo Aarav kita bersiap siap sebelum tante Meera sampai”
Ocha memberikan ponsel pada Alyosha lalu menarik tangan Aarav masuk ke dalam rumah. Ia meninggalkan Alyosha berbicara dengan Eric melalui panggilan tersebut agar mereka berdua dapat memiliki waktu privasi sebagaimana dua orang dewasa yang sedang berduaan.
“bagaimana pekerjaanmu di sana?” tanya Alyosha
“kami sudah mulai membangun dan besok adalah perobohan rumahmu. Apakah kamu memiliki permintaan terkait dengan itu?”
“tidak ada. Kamu lakukan saja sesuai kesepakatan karena kami juga akan mendapat keuntungan dari itu. Jadi aku rasa tidak ada yang perlu aku katakan”
“baiklah, tapi kamu tenang saja. Lahan rumahmu akan kami bangun khusus untuk kantor pribadiku.”
“baguslah kalau begitu”
“hanya begitu saja respon dari mu?”
“lalu aku harus bagaimana?”
“aku juga tidak tau. Yasudah kamu pergilah bersiap siap nanti Meera terlalu lama menunggumu berdandan”
“aku tidak pernah berdandan dalam waktu yang lama”
“benarkah?, setauku wanita itu selalu menghabiskan waktu para lelaki hanya untuk menunggu mereka berdandan atau kamu berbohong karena masih ingin berlama lama berduaan denganku”
“kamu jangan berharap. Aku pergi dulu bye”
“eh tunggu, tunggu, jangan dimatikan dulu sayang”
“ada apa lagi?”
“aku tidak akan memberatkanmu”
“aku tidak berat. Aku ini adalah pria terkaya di Negara M, jika aku ingin menghamburkan uangku di lautan itu juga tidak masalah. Bersenang senanglah”
“jika kamu sudah berkata seperti itu, aku juga bisa apa?. Itu sudah aku kirimkan melalui pesan.”
“oke sudah aku terima, kamu harus menjaga anak anak kita dengan baik saat di luar sana. Tunggu aku pulang dan aku akan menyelesaikan masalahku lalu kita bisa bersama selamanya”
“emang kamu punya masalah apa?”
“sebenarnya...”
Eric menghentikan perkataannya setelah mendengar teriakan wanita yang sangat melengking.
“ASTAGA ALYOSHAAA”
Meera berteriak keras dari pintu dapur melihat Alyosha yang masih memakai piama dan duduk bersantai di taman belakang. Teriakan yang membuat semua burung burung yang menemani kencan virtual Alyosha dan Eric berterbangan ke segala arah. Dengan cepat Meera menyambar ponsel dari tangan Alyosha dan apa yang ada di layar ponsel Alyosha membuat ia bertambah kesal.
“ternyata kamu yang membuat Alyosha bermalas malasan di pagi hari yang cerah ini. Kamu dengar ya Eric, kamu itu boleh mendekati sahabat tercintaku tetapi jangan coba coba mencuri waktu aku dengan dia. Kita harus bagi rata, kamu jangan
egois dong”
“sepertinya aku harus melanjutkan pekerjaanku bye Meera. Tolong bersikap baik baik pada calon istriku ya”
__ADS_1
“KAMU BILANG APA BARUSAN. CALON ISTRI?”
Tut... tut...
Panggilan vidio dengan Alyosha segera Eric akhiri dengan cepat karena mendengar Meera yang sepertinya akan terus memarahinya di panggilan tersebut. Kekesalan Meera terus meningkat dilihat dari raut wajahnya yang sudah muram.
“apakah kamu akan bersama dengan Eric selamanya?”
“siapa yang tau?, mungkin iya dan mungkin juga tidak. Semua terserah pada dia”
“Aku akan kesusahan berjumpa dengan kamu kedepannya jika kamu sudah hidup bersama dengan pria seperti dia. kamu jangan mau sama Eric please..”
“Meera...”
“Dia itu pria yang mendominasi pada orang yang berstatus di bawahnya dan satu lagi yang harus kamu tau. Biarpun dia kaya raya, dia itu pelit sekali tau.”
Tring...
Pesan masuk pada ponsel Alyosha. Meera segera melihat pesan yang masuk tersebut karena ia masih menggenggam ponsel yang ia rebut dari Alyosha barusan. Mata Meera membelalak membaca pesan yang masuk.
“ini tidak mungkin”
“ada apa Meera?”
“mungkin orang ini salah kirim pada kamu Alyosha. Jangan pernah percaya, atau mungkin tidak lama lagi dia akan meminta kamu untuk menggantikan semua nominal yang sudah kamu pakai sebanyak dua kali lipat”
“kamu kenapa sih?”
Alyosha mengambil ponselnya dari Meera. Mata Alyosha juga membelalak melihat nominal uang yang ada di layar ponsel.
Sayang ini bukti transfernya telah berhasil, silahkan kamu pakai sepuasmu. Jika bisa habiskanlah dalam satu hari, besok aku akan kirim kembali. Semoga kamu senang.
“lima miliar dalam satu hari?, apakah ini masih masuk dalam kategori orang pelit?”
“e..mmm. Yah itu sangat pelit, dia kan orang terkaya di Negara ini. Masa untuk orang yang ia sayangi hanya di transfer segitu doang”
“kamu jangan keterlaluan Meera. Emang kamu pernah bersenang senang menghabiskan uang sebesar lima miliar dalam satu hari?”
“tidak sih. Tapikan...”
Tring...
Pesan dari Eric kembali masuk pada ponsel Alyosha.
Maaf ya sayang hanya bisa memberikan kamu segitu saja, karena aku menggunakan atm biasa jadi uang yang di transfer dibatasi. Atm premiumku tertinggal di rumah beserta ponsel yang sudah terdaftarkan dengan atm tersebut.
“aku mau ikut baca”ujar Meera penasaran
“kemarilah”
“kenapa bisa ada pria sombong seperti dia di muka bumi ini ?”
“jangan membenci secara berlebihan Meera. Itu tidak baik”
“aku tidak membenci Eric, aku hanya tidak menyukainya saja”
__ADS_1
“yasudah terserah kamu saja. Aku mau bersiap siap dulu. Ayo”
Alyosha menarik tangan Meera dengan lembut. Pikiran Meera masih terus bekerja untuk mencari kesalahan Eric di depan mata Alyosha. Ia masih tidak rela sahabatnya diambil oleh orang lain.