
Viana dan ibunya memasuki laboratorium pribadi ayahnya. Di dalam laboratorium tersebut sudah ada ayah Viana yang sedang mengerjakan penelitian terhadap penyakit adiknya Hana. Ayah Viana memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi sehingga ia bisa dengan sendirinya meneliti penyakit Hana yang sangat langka dan karena itu jugalah kakek Viana dengan mudah memberikan semua hal yang diperlukan oleh ayah Viana dalam menjalankan penelitiannya. Mau sebesar apapun biaya tersebut pasti akan diberikan oleh kakek Viana.
“apakah kalian sudah mendapatkan sampelnya?”
“sudah ayah. Tetapi saat kami sedang beraksi mama malah bertindak sangat ceroboh jadi sampel rambutnya tertukar. Kami membawa dua helai rambut yang berbeda”
“ayah.., masa mama dipanggil omah sama anak kecil. Wajah mama kan masih cantik dan terlihat muda, mama tidak bisa menerima itu”
“tidak apa apa mah. Tidak ada salahnya dia memanggil mama dengan panggilan omah karena dia juga masih anak kecil kan. Yasudah kalau begitu, mama pergi perawatan saja hari ini. Biar ayah saja yang menyelesaikannya.” Ujar ayah Viana
“tidak usah deh yah, mama lebih sayang Viana. Mama ingin menemani kalian menyelesaikan masalah Viana”
“mamaa..., Viana sayang banget sama mama. Mama lebih memilih Viana dari pada perawatan wajah mama.”
Viana memeluk ibu yang duduk disampingnya dan ibunya juga membalas pelukan Viana. Ibu Viana mengelus elus rambut putri kesayangannya itu saat mereka berdua masih berpelukan.
“mama juga sayang sama Viana. Tentu dong sayang mama lebih memilih kamu, kamu kan anak mama yang paling cantik. Sesekali ajak mama perawatan bersama kamu ya”
“tapi disana khusus untuk para gadis mah”
“yah mama jadi sedih”
“Oh iya Viana ingat ada perawatan wajah yang Viana rasa juga bagus dan itu untuk semua kalangan perempuan”
“benarkah sayang?”
“silahkan kalian lanjutkan, ayah akan memeriksa ini dulu. Kalian tunggu saja di sini”
“tapi ayah, rambut Eric kan belum ada. Apakah bisa kita lakukan sekarang?”
“sudah Viana, kamu tenang saja. Tidak usah dipikirkan, ayah tau apa yang akan ayah kerjakan”
Viana dan ibunya melanjutkan perbincangan mengenai perawatan wajah yang akan mereka berdua lakukan bersama sama. Dua jam kemudian ayah Viana telah menyelesaikan pemeriksaan identitas anak kecil yang bersama dengan Eric yang Viana foto secara diam diam.
“bagaimana hasilnya ayah?”
“sembilan puluh persen memiliki kesamaan sayang. Anak itu memang anak kandung dari Eric”
“AKHHHH...”
“sayang kamu tenang dulu. Mama dan ayah akan membantu kamu”
“benar sayang, ayah pikir sepertinya Eric mendekati Alyosha hanya karena kedua anaknya saja.”
__ADS_1
“benar sayang. Mama juga berpikir seperti itu. Eric kan tidak suka dengan wanita yang tidak jelas asal usulnya”
“hmm..., mama dan ayah benar. Jadi apa yang harus kita lakukan?”
“karena Eric sangat menyayangi anak anaknya ini maka kita harus membuat siasat sehingga semua yang sudah terjadi dikarenakan Alyosha. Dengan itu kita juga sudah membantunya untuk menjauhi Alyosha dan mendapatkan anak kandungnya.”
“mama memang sangat cerdas. Secara cepat sudah bisa menyusun rencana yang bagus”
“terima kasih sayang”
“lalu kita akan mulai dari mana?”
“kita akan menculik dua anak Eric pada saat
Alyosha membawa kedua anaknya keluar rumah. Jadi nanti, Eric pasti akan membenci Alyosha karena dia tidak bisa menjaga anak anaknya dengan baik.”
“itu terdengar sangat bagus, dengan begitu Eric akan menjauhi Alyosha karena di nilai tidak layak menjadi ibu dari anak anaknya dan Eric akan kembali pada Viana yang baik hati ini”
“iya sayang, kamu itu adalah segalanya bagi mama dan ayah. Jadi kami akan selalu mendukung semua keputusan kamu”
“sebentar, ayah menjawab telepon dari kakek kamu dulu”
“baik ayah”
Viana dan ibunya menunggu ayah yang menjawab telepon dari keluarga ayah Viana. Ayah Viana mondar mandir di tempatnya sambil sesekali menyauti orang yang ada di ujung telepon. Sedikit lama mereka berbincang dalam panggilan masuk tersebut akhirnya selesai juga.
“apakah sesuatu telah terjadi ayah?”
“kakek menyuruh ayah untuk membawa Hana pulang ke kediaman kakek untuk melanjutkan perawatannya”
“Hana lagi..., Hana lagi.., Viana kapan di bawa ke sana sih yah?. Dari viana kecil Viana tidak pernah menginjakkan kaki di kediaman kakek”
“sayang, tidak lama lagi kamu akan diberikan izin kesana. Hana kan punya penyakit yang parah makanya diizinkan kesana. Emang Viana mau punya penyakit seperti Hana?”
“enggak dong mah. Viana gak mau hidup dalam penyakitan. Viana akan menikah dengan Eric dalam waktu yang dekat dan memiliki anak bersamanya.”
“bagus sayang. Ayah sangat bangga dengan semangatmu itu”
“Sepertiya kita harus menunda rencana kita ini terlebih dahulu, bukan begitu kan yah ?”
“benar sekali mah. Kita selesaikan urusan dengan Hana dulu baru melanjutkan semua ini”
“TIDAK BISA”
__ADS_1
“kenapa sayang?”
“mamah, kalau sekarang Viana belum bergerak juga maka Alyosha yang akan maju duluan. Ayah dan mama pergi saja, Viana akan melakukannya dengan sendiri”
“jangan sayang. Ini berbahaya untuk kamu”
“mama tenang saja. Viana bisa mengerjakannya dengan sendiri, lagian Viana juga memiliki Arya”
“bagaimana yah. Apakah ayah mengijinkannya?”
“ayah percayakan pada Viana?, Viana kan anak ayah dan mama, jadi sudah memiliki semua kelebihan mama dan ayah”
“baiklah Viana. Tetapi kamu harus berhati hati dalam bertindak”
“baik ayah. Terima kasih, Viana sayang banget sama ayah dan mama”
“ayo kita pulang. kita harus bersiap siap lagi karena harus berangkat sekarang”
“let’s go”
Viana pun pulang ke rumah ayah dan ibunya bersama sama dengan mereka berdua. Sesampai di rumah, ibu Viana segera menyuruh pelayan untuk menyiapan keperluan Hana dan keperluan mereka. Setelah selesai bersiap siap mereka pun mulai berpamitan satu sama lain.
“jaga diri baik baik ya sayang. Kami akan segera kembali”
“iya mah, Viana akan menjaga diri Viana dengan baik. Kirim salam buat kakek di sana”
“oke sayang. Mama dan ayah pergi dulu ya”
“iya mah. Hana tunggu sebentar”
Viana memanggil Hana yang hendak membuka pintu mobil, sedangkan ayah dan ibu Viana sudah masuk ke mobil tersebut. Hana menghentikan langkahnya dan berbalik menuju Viana yang memanggilnya barusan. Viana berdiri di tempatnya menunggu Hana untuk menghampirinya. Dalam genggaman Viana, ia sudah membawa kotak kue yang akan ia berikan pada Hana.
“ini buat kamu. Kakak minta maaf karena sudah berkata kasar padamu. kamu mau kan memaafkan kakak?”
“iya kak Viana, Hana sudah memaafkan kakak”
“kamu bisakan melupakan semua yang kakak lakukan padamu”
“iya kak Viana, Hana tidak akan memberitahu kepada kakek ataupun keluarga ayah yang lainnya”
“bagus Hana. Kamu memang pantas jadi adikku”
“kalau begitu Hana pergi dulu ya kak. Ayah dan mama sudah menunggu Hana”
__ADS_1
“silahkan, bye Hana”
Hana kembali ke mobil karena ayah dan ibunya sudah menunggu. Viana melambaikan tangan pada mobil yang melaju pergi meninggalkannya. Ini adalah salah satu momen yang paling Viana benci dalam hidupnya karena melihat keluarganya pergi ke kediaman kakeknya yang memiliki kekayaan yang sangat kaya raya dan meninggalkan Viana sendirian.