Antara Cinta Dan Cinta

Antara Cinta Dan Cinta
Butuh bantuan tapi gengsi.


__ADS_3

Tara tidak melanjutkan ucapannya. Karena Tante Desi berjalan ke arah mereka membawa minuman dan beberapa camilan di atas nampan.


"Jangan lagi apa Tara?" tanya Desi penasaran.


"Ngga apa-apa tante." Jawab Tara sedikit gugup.


"Hayo, kalian ngga main rahasia sama tante kan?" Desi memandang Tara dan Anton bergantian.


Anton yang di pandang dengan tatapan tajam sontak kaget lalu berkata. "Ngga ada yang Anton sembunyiin dari Tante."


"Hem, oke tante percaya sama kalian. Udah, lanjutin ngobrol nya tante mau ke dalam dulu." Pamit Desi.


Tara, Anton dan Salma bernapas lega. Akhirnya Desi pergi tanpa curiga sedikit pun.


"Ah... lo sih pakai hampir keceplosan segala." Ucap Salma.


"Sorry, gue ngga nyangka nyokap lo tiba-tiba datang tak di minta dan pergi begitu saja"


"Lo kira nyokap gue jailangkung." Salma tidak terima dengan ucapan Tara.


"Lah, emang gue ada bilang nyokap lo jailangkung? Yang datang tiba-tiba dan pergi begitu saja kan mantan." Jelas Tara.


Sontak Salma dan Anton tertawa lepas mendengar penjelasan Tara. Iya, juga karena mantan itu kan datang nya tiba-tiba dan pergi begitu saja.


" Ada-ada saja lo ya, Tara."


" Dia ada'in dong biar ada. Kalau ngga gini Salma ngga akan tertawa kan?"


"Iya, lagi sahabat gue yang paling baik." Salma berambur memeluk Tara.


"Gue juga mau dong di peluk. Masa iya, gue peluk tiang listrik di depan." Celetuk Anton.


"Ogah." Jawab Tara dan Salma secara bersamaan.


Begitulah persahabatan mereka berdua. Saat salah satu bersedih yang lainnya mampu mencairkan suasana. Saat Tara sedih atau melakukan kesalahan pun, Salma selalu menghibur dan juga menasihati Tara. Maka sekarang juga saatnya Tara melakukan hal yang sama.


Desi yang diam-diam mendengar percakapan Salma dan sahabatnya tersebut tersenyum lega. Rasa syukur ia panjatkan kepada Allah SWT karena Salma di kelilingi teman-teman baik seperti Tara dan Anton.

__ADS_1


"Udah jangan lagi berhubungan dengan yang namanya Darren! Kau yang beruntung karena bisa lepas dari dia. Jangan lagi larut dengan masa lalu. Tata hidupmu karena gue akan selalu ada buat lo." Ucap Tara.


"Iya, makasih."


"Lo masih beruntung. Lihat orang yang lebih menderita dari lo banyak kok. Jangan lagi mengejar dia yang tak pantas di perjuangkan!" Pinta Tara.


"Iya ngga lagi. Mulai hari ini gue ikhlas kan apa yang terjadi sama gue. Ngga akan lagi melihat ke belakang. Gue akan fokus ke masa depan gue." Salma berucap dengan penuh semangat.


Tara menggenggam kedua tangan Salma. Seolah sedang memberi kekuatan padanya. Sebagai sahabat tentu Tara sangat paham apa yang di rasakan sahabatnya. Sudah menyerahkan segalanya tapi di tinggal begitu saja. Bahkan ingin rasanya Tara mengumpat pada Darren. Tapi, mereka tidak pernah bertemu lagi.


Inilah yang juga menjadi pertimbangan Tara belum bisa membuka hati. Darren yang terlihat tanpa cela di mata Tara saja mampu mengkhianati sahabatnya. Tentu saja untuk dia yang tingkat kepercayaan setipis tisu tak akan mudah memulai hubungan dengan siapapun. Bahkan Anton yang jelas-jelas selalu memberinya perhatian belum bisa menyentuh hati Tara.


Keesokan harinya...


Awan bersiap berangkat ke masjid. Seperti biasa ia akan berjalan membelah jalanan yang masih sepi dan sedikit gelap.


"Ternyata masih gerimis. Ambil payung dulu deh, dari pada bajuku basah." Ucap Awan pada dirinya sendiri.


Ia kembali masuk ke dalam dan mengambil payung lipat kecil berwarna biru.


"Assalamualaikum mbak? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Awan. Ia berjalan mendekat ke arah Tara yang kesusahan membuka botol.


"Waalaikumsalam, mas. Ngga usah, ntar juga bisa sendiri mas." Tolak Tara. Ia merasa tidak enak menerima bantuan dari Awan.


"Kelihatannya mba Tara kesusahan. Sini saya bantu mbak!" Awan kembali menawarkan bantuan kepada Tara. Ia merasa iba melihat wanita yang ada di depannya itu kesulitan.


"Hah... yasudah ini kalau mas maksa." Akhirnya Tara menyerahkan botol minum miliknya kepada Awan. Karena ia juga sudah kehausan.


Awan tersenyum melihat tingkah menggemaskan Tara. Wanita yang ada di hadapannya terlihat butuh pertolongan tapi gengsi untuk menerima bantuan darinya.


Dengan sekali putar botol Tara terbuka. Awan segera menyerahkan kepada Tara.


"Ini mba, minum lah!"


Tara langsung meneguk dengan cepat air putih yang ada dalam botol tersebut. Karena ia sudah menahan haus dari tadi.


"Hah... makasih ya? Air minum dalam galon gue habis. Tinggal yang di dalam botol ini saja. Udah kehausan malah ngga bisa di buka. Botol rese emang ini, ngga tahu gue hampir layu karena belum minum air." Ucap Tara.

__ADS_1


"Layu? Emang mbak tanaman?"


"Anggaplah begitu. Udah makasih, kalau ngga ada mas, bisa minum air kran gue mas."


Sayup terdengar iqomah dari masjid. Dengan cepat Awan menghentikan percakapannya dengan Tara.


"Maaf mba, aku ke masjid dulu. Udah iqomah," Awan meninggalkan Tara dan segera berlari ke masjid.


"Iya, hati-hati." Jawab Tara dengan lirih.


"Ngapain gue suruh dia hati-hati. Emang sejak kapan gue dekat sama dia. Udah lah, mending mandi, lalu doa." Ucap Tara pada dirinya sendiri.


Tara kembali masuk ke dalam kamar. Ia segera melakukan kegiatan paginya dengan di awali doa pagi.


Beberapa hari kemudian...


" Apa? Gue pergi sama pria yang ke sini waktu itu ya?" tanya Tara sambil tangan kanan menggebrak meja kerja yang ada di depannya.


Ia masih tidak terima harus ke lokasi pembangunan bersama Awan dalam beberapa hari ke depan. Kalau biasanya ia akan bersama Anton atau Salma kali ini berbeda. Walaupun beberapa kali Awan membantu dirinya tapi Tara masih merasa asing dengan sosok Awan.


Salma, Anton dan beberapa rekan kerjanya kaget karena ulah Tara.


"Sekalian di lempar kursi sama mejanya! Nanggung cuma gebrak meja aja. Kalau ngagetin orang jangan nanggung." Pinta Salma.


Tara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Merasa tidak enak hati dengan rekan kerjanya yang lain.


"Hi... maafin gue ya guys?" ucapnya kemudian dengan melipat kedua tangan di dada.


"Traktir kopi dulu. Ngagetin gue, kalau jantungan gimana?" Salma masih tidak terima dengan perbuatan Tara.


"Tanggal tua ini. Besok lah, kalau udah gajian ke tiga belas." Jawab Tara asal.


"Emang lo pikir pegawai negeri ada gaji ke tiga belas. Emang ngajakin ribut ya lo."


"Ya, siapa tahu pak bos khilaf ngasih gue gaji lebih gitu."


"Siapa yang mau ngasih gaji lebih?" tanya seseorang yang baru saja masuk ke ruangan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2