Antara Cinta Dan Cinta

Antara Cinta Dan Cinta
Cintaku terhalang restu.


__ADS_3

Kamu kenapa diam? Apa kamu sudah ada wanita lain yang kamu cintai?" tanya ayah, ia melihat Awan tertunduk dan diam membuatnya heran.


Awan masih terdiam, ia bingung harus berkata apa . Tadi saat perjalanan pulang ke dari acara pernikahan saudaranya ia menerima pesan dari Tara. Wanita itu bilang kalau dia juga suka dengan Awan dan ingin mengenal nya lebih dekat. Bagaimana mungkin saat Awan bilang ingin menjalin hubungan dengan Tara, ternyata sang ayah ingin menjodohkan dirinya.


"Awan, kenapa kamu diam?" tanya Ayah lagi.


"Bolehkah Awan berpikir sejenak, ayah?" tanya balik Awan dengan mengangkat wajahnya.


"Apa yang ingin membuat kamu ingin berpikir lagi nak? Bukankah kau pernah bilang pada ibu akan menurut pada pilihan ibu." Saut sang ibu. Ia menanyakan atas dasar apa Awan terlihat keberatan dengan perjodohan ini.


"Kalau aku menolak, apakah kalian akan marah? Sebenarnya aku sudah mempunyai gadis yang aku cintai. Dia seorang yatim piatu wanita cantik pintar dan pekerja kerasa. Itu yang di lihat orang dari luar. Tapi, sebenarnya hatinya rapuh. Aku ingin menjadi tempat nya pulang. Aku ingin menjadi sandaran ternyaman. Ingin aku curahkan semua kasih dan sayang ku. Aku ingin-" Awan tak sanggup meneruskan ucapannya. Suaranya bergetar dan buliran bening lolos begitu saja tanpa permisi dari pelupuk mata.


Apa yang harus Awan jelaskan ke Tara. Jalan manakah yang harus dia pilih. Apapun yang ia pilih keduanya akan terluka. Saat memilih Tara ia melukai orang tuanya begitupun sebaliknya.


Ibu Awan mendekat dengan penuh kasih ia mengusap pundak sang putra. "Nak, ajaklah gadis pilihan kamu kemari. Kami ingin mengenalnya. Tidak peduli dia yatim piatu asalkan sesama muslim dan ia mencintai kamu karena Allah, ibu akan merestui kalian."


"Iya, kamu pernah bilang akan menurut apapun pilihan kami. Tapi kalau ku sendiri tidak mau tentu saja kami tidak memaksa." Jelas Ayah.


"Dia bukan seorang muslim." Jawab Awan dengan lirih.


Ibu dan Ayah Sontak terdiam. Mereka kaget karena apa yang di katakan sang putra. Bagaimana mungkin anaknya bisa menjalin hubungan dengan wanita beda keyakinan?


"Ayah jadi ingat cerita Ali bin Abi Tholib. Ia adalah pria yang kuat pada masanya. Saat perang saja mampu menghancurkan benteng tembok dengan kedua tangannya tanpa senjata. Tapi, saat ia mengangkat jenazah Fatimah Az Zahra istrinya ia meminta bantuan. Cinta itu sungguh bisa membuat kuat dan juga bisa membuat lemah. " Ucap ayah panjang lebar.

__ADS_1


Sejatinya cinta itu adalah perasaan bahagia dan perih yang hadir bersamaan. Bisa menguatkan dan juga melemahkan. Melihat dengan mata menilai dari hati dan membuat logika lumpuh seketika.


" Iya, sungguh kisah cinta yang indah dan Sayidah Fatimah adalah salah satu panutan wanita muslim di seluruh dunia." Awan mengemukakan pendapat nya.


"Ayah tidak ingin kau terlalu menyukai wanita itu. Bukan karena status sosial atau dia seorang yatim piatu sungguh bulan itu. Tapi, karena ia beda keyakinan dengan kita. Ayah, harap kau tidak terlalu larut dengan perasaanmu." Pinta Ayah.


Awan tahu pasti ayahnya akan menolak hubungan nya dengan Tara. Lagi, perasaan cinta itu tidak akan bisa di cegah. Sekeras apapun berusaha tidak akan mampu menghentikannya. Akan ada yang terluka, apakah Tara atau Awan? Hanya waktu yang akan menjawab semua.


"Iya, aku paham yah." Jawab Awan.


"Ibu harap kamu bijak dalam mengambil keputusan. Jangan lukai hati orang lain. Cinta yang terlihat manis di awal belum tentu bahagia sampai akhir." Ujar ibu Awan.


"Iya, Awan mengerti bu."


Setelah bicara dengan orang tuanya. Awan segera ke kamar untuk menenangkan diri. Rasanya tidak ada yang ingin ia lukai. Tapi bukankah tidak bisa. Tetap saja akan ada yang terluka nanti.


Tara masih dengan rutinitasnya berangkat bekerja seperti biasa dan saat sore hari ia menghabiskan waktu dengan bermain game di kost nya. Waktunya lebih sering di dalam kamar.


Sudut bibirnya tiba-tiba terangkat saat ia membaca pesan dari Awan. Nanti malam jam tujuh ia akan di ajak nonton dan makan malam. Setelah beberapa hari tidak ngobrol rasanya ia sungguh rindu. Dengan cepat ia membalas pesan tersebut dan akan segera bersiap untuk pergi bersama.


"Aku mandi dulu ah, lalu pakai baju yang bagus kemudian dandan yang cantik." Ucap Tara pada dirinya sendiri.


Ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

__ADS_1


Awan yang sudah selesai melaksanakan sholat isya segera berganti baju dan bersiap untuk menjemput Tara. Malam ini rencananya Awan akan mengatakan perihal perjodohannya. Apapun itu walau sakit sekalipun Awan harus jujur pada Tara. Bukankah lebih baik sakit di awal dari pada di akhir? Hatinya tidak ingin melepas wanita itu tapi harus ia lakukan untuk kebaikan bersama.


Awan mungkin akan menerima wanita yang di jodohkan orang tuanya walaupun sama sekali belum tahu wajahnya. Karena beberapa hari lalu ia menolak untuk bertemu dengan wanita tersebut.


"Aku ngga tahu nanti gimana perasaan Tara. Tapi aku harus jujur kalau hubungan ku ngga bisa di lanjutkan lagi. Maafkan aku, Tara." Lirih Awan dengan suara berat.


Dengan berat hati ia melangkah keluar berjalan ke depan untuk memanggil Tara. Saat sudah sampai di depan pintu tiba-tiba pintu terbuka. Dengan memakai dress warna putih serta rambut yang di gerai indah dan perpaduan make up tipis yang natural semakin terlihat cantik.


"Subhanallah, cantik sekali ciptaan mu, ya Allah," puji Awan yang tersenyum sambil memandang Tara.


"Makasih, tahu lah aku kan dari lahir udah cantik. Banyak yang muji juga kok." Ujar Tara dengan membanggakan dirinya.


"Jadi nyesel aku muji kamu. Ngga jadi, aku tarik. Kamu, cantiknya biasa aja."


"Ngga bisa dong, kan udah di puji tadi."


"Ngga jadi pokoknya. Titik no debat. Yuk, berangkat!" Ajak Awan.


"Oke kita berangkat."


Mereka pun berjalan ke arah di mana mobil Awan di parkir. Berjalan beriringan tak sedikit yang menegur mereka yang mengatakan mereka pasangan serasi. Dan ada juga beberapa anak kost pria yang bersiul dan menyorakki mereka.


"Udah, bawa pulang aja Wan! Ngga ada lagi nemu kayak dia deh. Pakit komplit pokoknya neng Tara." Ujar seorang ibu yang berada di teras depan rumah.

__ADS_1


"Pakai karung ya, bu saya bungkusnya? Di paketin aja ntar barang kali free ongkir." Awan membalas ucapan ibu itu dengan candaan.


Inilah yang membuat Tara nyaman. Tidak hanya baik Awan juga sangat humoris. Sungguh bisa menghibur dirinya saat sedang sedih. Tak hanya nyaman dari perhatian tapi juga sifat humoris Awan.


__ADS_2