Antara Cinta Dan Cinta

Antara Cinta Dan Cinta
Aku tidak terima penolakan.


__ADS_3

"Aku panggil dokter lagi aja," Awan segera berlari meninggalkan Tara untuk memanggil dokter.


Tara menarik napas dalam. Awan masih sama, selalu perhatian. Tapi, ia tidak boleh goyah hanya dengan sedikit perhatian.


Beberapa menit kemudian Awan datang bersama seorang dokter.


" Bagaimana, apakah masih pusing? Jangan bandel lagi ya! Sudah tahu punya asam lambung tapi malah sengaja sering makan terlambat. Itu pusing nya belum hilang karena demam. Istirahat jangan telat makan, serta minum obat teratur. InsyaAllah segera sehat." Ujar dokter tersebut saat selesai memeriksa Tara.


"Iya, dokter." Jawab Tara.


" Yasudah, saya pamit dulu. Jangan lupa obat nya di minum ya!" Perintah sang dokter.


"Baik dokter, terima kasih. Saya pastikan tidak akan lupa minum obat nya," jawab Awan dengan menundukkan kepala.


"Maksudnya apa bilang gitu?" tanya Tara dengan sewot.


"Ngga ada maksud apa-apa." Jawab Awan.


Ia segera mengambil bubur yang terletak di meja kecil di sebelah ranjang. Tak lupa ia membuka lebih dulu air mineral dalam kemasan botol yang masih tersegel.


"Ayo, makan dulu! Setelah itu minum obat," ucap Awan. Tangan kanannya sudah terulur dengan sendok yang berisi bubur.

__ADS_1


"Aku bisa makan sendiri." Tolak Tara dengan halus.


"Aku bisa menyuapi kamu." Ucap Awan yang tidak ingin menerima penolakan dari Tara.


"Suka nya maksa sih."


"Suka nya kamu nolak sih."


"Jangan ngikutin aku terus," protes Tara.


"Jangan bandel. Ayo, makan! Aku suapi dan aku tidak terima penolakan."


"Alhamdulillah, pintar sekali calon ibu dari anak-anak ku ini," ucap Awan. Ia letakkan piring yang kosong kembali ke meja dan beralih mengambil air minum.


"Percaya diri sekali sih aku mau jadi ibu dari anak-anak kamu. Iya, kalau orang tuamu setuju. Kalau tidak, bagaimana?" tanya Tara.


"Kita lihat saja nanti. Sudah, sekarang waktunya minum obat ya!" Awan menyerahkan beberapa butir obat kepada Awan.


Seseorang sedang berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka sambil mengepalkan tangan kanan nya erat. Benar apa yang di katakan Ratna bahwa Tara sudah mencintai orang lain dan orang tersebut sekarang sudah berada di sisi Tara. Ada sedikit guratan sesal dan bercampur kesedihan. Walaupun ia sadar bahwa hati tidak bisa di paksakan bukankah hal wajar ia sakit?


"Lo, Damar kenapa kamu ngga masuk?" tanya Ratna.

__ADS_1


Mereka datang berdua, saat sudah turun dari mobil Ratna melupakan sesuatu jadi Damar di minta masuk duluan ke dalam ruangan Tara. Bukannya masuk malah Damar berdiri di depan pintu.


Ratna mendengar Tara sedang tertawa. Dari situ ia mengambil kesimpulan pasti Damar mendengar percakapan antara Awan dan Tara.


"Ayo, ikut kaka ke kantin sebentar!" Ajak Ratna.


Ia menggandeng tangan Damar dengan paksa untuk mengikuti nya ke kantin rumah sakit.


"Kakak ini apa-apa an sih," ucap Damar dengan melepas gandengan tangan dari Ratna.


"Pokoknya ikut kakak!"


Damar pun menurut, ia mengikuti Ratna tanpa ada penolakan lagi.


Di tempat lain


Teriakan seorang pria menggema di sebuah ruangan. Ia membuang semua benda yang terletak di meja kerjanya.


Tok...tok...


"Mas, di panggil tuan. Mas..." Ucap seorang asisten rumah tangga yang terus memanggil dari balik pintu.

__ADS_1


__ADS_2