
Hafis berjalan ke arah sang kakak. Ia menggandeng tangan Aini mesra, hal itu sengaja ia lakukan untuk memanas-manasi sang kakak.
"Ehem, kapan nih, nyusul kita?" tanya Hafis yang sengaja berdehem saat sudah di depan Awan dan Tara.
"Nyusul ke mana?" tanya balik Awan.
Dia tahu apa yang di maksud Hafis, tapi Awan pura-pura tidak mengerti. Karena pasti ia akan jadi bahan ledekan Hafis.
"Dih, pura-pura ngga tahu."
"Siapa yang pura-pura?"
"Anak ayam noh!" Jawab Hafis dengan sewot.
"Oh, anak ayam di makan musang, anak ayam... eh, lupa lirik,"
"Ngga apa-apa yang penting ngga lupa aja sama aku." Celetuk Tara.
Awan, Hafis dan Aini langsung mengarahkan pandangan nya ke arah Tara. Wanita itu tidak biasanya bicara seperti itu. Karena Tara akan cenderung menutupi apa yang ia rasakan.
"Mbak Tara kenapa bicara kayak gitu? Tentu saja kita ngga akan lupa mbak Tara." Ujar Aini.
__ADS_1
"Iya, makasih."
"Jadi, gimana? Mau ngga tiga bulan sekali pulang ke Salatiga?" tanya Awan lagi.
"Mau, tapi kamu yang keluar biaya ya? Aku bisa bokek kalau keluar uang tiga bulan sekali buat beli tiket pesawat dari Aceh ke Salatiga."
"Tentu saja, aku yang akan keluar uang. Yang penting kamu mau aja, ntar ke sawah mandi di sungai. Terus apa lagi ya," Awan masih berpikir apa lagi yang akan di lakukan Tara di kampung nya.
"Memasak nasi ngga pakai magic com ngga pakai kompor. Masak nya di tunggu yang namanya pawon." Lanjutnya kemudian.
"Iya, aku tahu semua itu kok." Jawab Tara.
"Ngomong kamu gampang dan lancar banget kayak jalan tol aja."
"Udah di kasih pelumas tadi makanya lancar jaya mas,"
Awan menautkan alis nya. Masih sejenak berpikir apa yang di maksud sang adik dengan pelumas.
"Sini, aku bisikin mas!" Hafis meminta Awan mendekatkan telinga nya.
" Bertukar saliva," bisik Hafis di telinga Awan.
__ADS_1
"Kau ini baru sehari aja sudah seperti ini apalagi kalau sudah melewati nanti malam dan malam-malam selanjutnya."
"Kan ini namanya naluri mas. Biar mas Awan segera hamilin mbak Tara." Ucap Hafis.
Plak... Telapak tangan Awan melayang ke pundak sang adik. Dari bunyinya saja sudah nyaring begitu, pasti terlihat sakit sekali itu.
"Maksudnya halalin mas, bukan hamilin. Kebiasaan lidah ku terpeleset jadi suka beda apa yang ada di pikiran sama yang di ucapkan." Bukannya minta maaf, Hafis malah sengaja mencari pembenaran atas ucapannya.
"Berarti itu yang ada di hatimu selama ini, ya? Pikiran mu entah kemana itu," Awan menepuk pelan kening. Ia tidak habis pikir dengan perkataan sang adik.
"Iya, mas. Aku kan ngga serius. Tapi, dua kali serius," ucap Hafis lalu menggandeng Aini menjauhi Awan dan Tara.
"Hei bocah, mau kemana kau?"
"Mau ke sana dulu, mas. Teman ku sebentar lagi datang, ia tamu dari Semarang." Jawab Hafis sedikit meninggikan suara. Karena ia sudah berjalan sedikit jauh dari tempat Awan duduk.
"Jangan di masukkan hati apa yang di katakan Hafis. Dia memang suka bercanda." Ucap Awan menjelaskan pada Tara.
Ia takut kalau Tara salah sangka, atau mengira ucapan Hafis tadi serius.
"Iya, tentu saja aku tahu." Jawab Tara.
__ADS_1