Antara Cinta Dan Cinta

Antara Cinta Dan Cinta
Bunga itu layu sebelum mekar, seperti harapanku.


__ADS_3

Aku mencinta dia karena Allah, dan aku memilih tidak bersama juga karena Allah. Ini keputusan ku." Ucap Awan dengan lirih.


" Apapun keputusan mu bapak hargai itu. Dan jangan ada penyesalan di kemudian hari." Ujar bapak.


Bapak hanya ingin memastikan lagi keputusan Awan. Karena tidak mau nantinya akan ada penyesalan setelahnya. Mobil yang di kemudian Hafis sudah berhenti di depan rumah pagar hitam tinggi berwarna hitam.


"Alhamdulillah, sudah sampai ayo kita turun!" ajak bapak.


Ibu, Awan dan Hafis segera turun mengikuti langkah bapak. Beberapa buah tangan di bawa untuk hadiah kepada keluarga Aini.


"Assalamualaikum," ucap bapak memberi salam.


Wa' alaikum salam, "jawab seorang wanita paruh baya yang membuka kan gerbang.


Awan dan keluarga segera masuk dan duduk di ruang kursi ruang tamu setelah di persilahkan pemilik rumah. Setelah berbincang menanyakan kabar satu sama lain mereka langsung ke inti pembicaraan yang ingin menjodohkan anak mereka.


"Umi, panggil Aini kemari!" pinta Abah Aini.


"Iya."


Setelah beberapa saat, Umi keluar dengan Aini. Kerudung warna navy dengan pakaian gamis yang senada. Setelah berpikir akhirnya Aini juga menyetujui perjodohan tersebut.


"Wah, masya Allah cantik sekali." Puji ibu Awan yang melihat wajah Aini.


Hafis dan yang lainnya langsung melihat ke arah Aini tapi tidak dengan Awan. Ia masih menunduk dan tidak ingin melihat calon istrinya tersebut.


"Kamu, kok bisa ada di sini?" tanya Hafis dengan terkejut.


Aini yang di tunjuk Hafis pun tak kalah kaget. Ternyata pria yang beberapa minggu lalu ia lihat hari ini datang ke rumahnya. Timbul tanya dalam benak Aini, apakah dia yang akan di jodohkan dengan dia? Atau pria yang sedang menunduk sambil melihat benda pipih miliknya?


"Kok mas, juga ada di sini?" tanya balik Aini.


"Kalian sudah saling kenal ya?" tanya Abah.

__ADS_1


"Iya, dia adalah wanita yang -" Hafis tidak melanjutkan ucapannya. Seketika ia tersadar bahwa wanita yang ada di hadapannya telah dibaca jodohkan dengan sang kakak.


"Adalah siapa Fis?" tanya umi yang penasaran.


"Dia adalah wanita yang aku temui kemarin pas nikahan mas Hasan, umi." Jawab Hafis.


Ia tentu saja tidak akan cerita kalau sudah menaruh rasa kagum kepada Aini. Bagaimanapun wanita yang ada di hadapan nya saat ini adalah calon kakak iparnya. Bukankah harus ada beberapa hati yang di jaga kedua orang tuanya.


" Kamu kenal dengan laki-laki itu nduk?" tanya ibu Aini.


"Ngga kenal umi, karena kami belum kenalan. Seperti yang dia bilang, kita bertemu di nikahan mbak Nur dan mas Hasan. Sempat tanya nama, tapi belum dapat jawab aku sudah di panggil tante waktu itu." Jawab Aini jujur.


"Oh, Umi pikir kalian sudah saling kenal."


Awan yang mendengar percakapan mereka beralih menatap Aini.


"Loh, mbak Aini ya? Yang ketemu di festival food kan?" tanya Awan. Sambil mengingat Aini.


"Iya mbak." Jawab Awan.


Hati Awan semakin nyeri. Takdir apa ini? Dia malah menerima perjodohan ini dan wanita yang akan menjadi istrinya adalah teman dari Tara. Bukankah hal ini akan semakin melukai hati Tara. Sungguh Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Tara tahu hal ini.


"Nah, sepertinya kalian sudah saling kenal. Jadi tidak ada yang harus di tunda. Sudah ayo, kita tentukan tanggal pernikahannya gimana pak?" tanya bapak Awan.


Hafis yang mendengar hal itu hanya bisa beristighfar dalam hati. Rasa sesak sedang melingkupi rongga paru-paru nya. Bahkan udara yang sejuk karena rintikan hujan terasa panas untuk nya. Bunganya harus layu sebelum mekar, harapan nya harus pupus di tengah jalan.


"Saya setuju saja pak, orang mereka sudah setuju juga. Lebih cepat lebih baik." Jawab Abah Aini.


"Bagaimana kalau eman bulan lagi?" usul ibu Awan.


Awan dan Aini kompak menundukkan kepala mereka diam tanpa bersuara sepatah kata pun. Bagaimana pun juga mereka sudah setuju untuk menikah tanpa saling melihat foto satu sama lain. Rasanya sulit untuk menarik kembali ucapannya.


Apakah Aini akan tega menikah dengan pria yang pernah menjadi kekasih dari teman dekatnya? Dia akan mencari tahu bagaimana mungkin Awan dan Tara berpisah. Karena Aini tahu kalau Awan sangat mencintai Tara. Walaupun Aini hanya melihat Awan sekali tapi, dari pandangannya ke Tara sudah menunjukkan betapa besarnya cinta Awan.

__ADS_1


"Ya, semakin cepat semakin baik. Kalau mas ngga mau sama saya aja. Dari pada nanti saya pusing cari jodoh." Celetuk Hafis yang berusaha mencairkan suasana tegang antara Aini dan Awan.


Sontak semua yang ada di ruangan itu pun tertawa.


"Hust! Ngawur aja kalau ngomong kamu. Emang perlu di jewer ini telinga ya," tegur sang ibu yang sudah bersiap menjewer telinga Hafis.


"Kan cuma bercanda bu, ngga usah serius. Cukup dua kali serius aja." Bukannya meralat ucapannya Hafis malah kembali bercanda.


"Bercanda nya ngga lucu ya, nak."


"Tadi pada ketawa kok ngga lucu dari mana ya bu?" Hafis menumpu dagu di atas tangan seolah-olah ia sedang berpikir.


"Sudah, jangan di ladeni ngga selesai sampai besok pagi kalau lagi debat gitu." Ucap Bapak melerai istri dan anaknya.


Bercanda untuk menghibur dirinya yang sedang merasa sedih itulah ya g sebenarnya Hafis lakukan. Diam-diam ia memandang wajah cantik Aini. Wanita yang ia sebut dalam doa nya di sepertiga malam walaupun belum tahu namanya. Berharap bisa bertemu dan mereka bisa berjodoh. Tapi kenyataannya, Aini adalah calon kakak iparnya.


Tara sedang berkemas beberapa baju sudah ia masukkan dalam koper besar miliknya. Lusa ia akan pergi jauh. Rasanya terlalu pengecut kalau dia harus pergi jauh. Tapi, inilah jalan yang harus ia ambil agar bisa melupakan Awan dan membuang semua kenangan bersama pria itu. Beberapa bulan ia berusaha keras menutupi perasaannya, selalu tersenyum saat berpapasan dengan Awan sungguh itu tidak mudah untuknya. Lukanya tidak terlihat tapi perih di rasa. Saling mencintai tapi tidak nisa bersama.


"Ra, apa lo yakin akan pergi dari sini? Tega banget ninggalin gue sih. Ajak gue ikut lo ya? Ngga sanggup gue sendiri tanpa lo. Ra, jangan seperti ini dong," Salma bertanya dengan sesenggukan yang tidak ingin sahabatnya pergi.


Salma sudah tahu semuanya. Pagi tadi Tara bercerita soal hubungan nya dan Awan yang harus dengan terpaksa kandas. Tentu saja sahabatnya tersebut akan mengalah, dan dia memilih pergi. Jika ada bidadari di surga, sungguh Tara adalah bidadari di dunia. Semua kebaikan Tara luka yang ia alami semangat hidupnya dan rasa sabarnya yang luar biasa adalah bukti nyata tulusnya hati wanita itu.


"Jangan nangis! Gue akan baik-baik saja. Oh, ini aku titip. Berikan Awan kalau dia sudah balik ke sini," Tara menyerahkan box warna merah muda kepada Salma.


Catatan author :


Terima kasih atas telah menyempatkan membaca karya ku 🙏


Tebak-tebak tidak berhadiah yuk guys 🤭Kira-kira apa isi box nya ya? 🤔


Ikuti terus kisah mereka, jangan lupa like komen vote atau gift boleh juga 😉


Aku sayang kalian ❤️

__ADS_1


__ADS_2