
Dua tahun kemudian.
Seorang wanita berjuang antara hidup dan mati demi melahirkan sang buah hati. Peluh menetes membasahi dahi dan seluruh wajahnya. Kedua tangan nya mencengkeram erat seprai putih alas ranjang tempat nya berbaring.
"Ayo, bu sedikit lagi!" Seru seorang dokter kandungan yang membantu persalinan wanita tersebut.
"Iya, bu sedikit lagi. Ayo terus bu!" Ucap salah seorang perawat yang membantu sang dokter.
"Oek... Oek....Tangisan bayi menggema di sudut ruangan yang berukuran empat kali tiga tersebut.
Seorang pria yang mendampingi persalinan sang istri menangis karena bahagia. Anak nya lahir ke dunia dengan selamat.
" Alhamdulillah sudah lahir dengan selamat." Ucap seseorang yang juga ikut menunggu persalinan. Ia berada di luar ruangan.
Sang bayi langsung di berikan pada ibunya untuk di susui. Agar mendapatkan asi pertama yang di sebut kolostrum yang berfungsi untuk kekebalan tubuh bayi.
"Sayang, anak mama. Kau tampan sekali seperti ayah mu. Sungguh tak adil, mama yang mengandung tapi tak sedikit pun ada kemiripan di antara kita." Ucapnya sambil menyusui buah hati.
Di tempat lain.
"Ayo dong cepat, aku kan pengen lihat bayi nya." Ucap seorang wanita hamil yang sudah berusia delapan bulan.
"Iya, ini kan sudah siap juga dek. Heran deh, nikah nya duluan siapa, yang lahiran duluan siapa. Kejar setoran benar deh itu mereka."
__ADS_1
"Ayo, mas!" Seru sang istri.
Mereka berdua pun berjalan beriringan dengan langkah kaki yang cepat. Rasanya tak sabar untuk sampai di rumah sakit melihat keponakan nya sudah lahir di dunia.
Tak butuh waktu lama mereka akhirnya sampai di sebuah rumah sakit swasta di kota Jakarta.
"Ayo dong, katanya sudah lahiran lo dia. Aku ngga sabar lihat anak nya."
"Kamu itu hamil jangan lari- lari kenapa sih?" protes sang suami.
"Ngga apa-apa, mas. Kan aku ibu hamil yang sehat." Bantahnya pada sang suami.
"Dek, jangan ngeyel napa sih."
"Dek, di depan umum ini."
"Kenapa? Kan sama suami sendiri, ngga suami orang lain."
"Semenjak hamil jamu jadi ngeyel sih."
"Ngga kok."
"Iya dek,"
__ADS_1
"Ngga, hiks mas gitu. Cuma gitu doang ngatain aku ngeyel. Apa karena aku gendut jadi kamu gini. Apa jangan-jangan setelah melahirkan anak kita kamu makin sering protes sama aku?" wanita itu pura-pura menangis dan seolah menunjukkan wajah sedih nya.
"Mulai drama, istri ku cocok kalau jadi aktris."
"Mas ngomong apa?"
"Ngga apa-apa. Udah yuk, kita segera masuk."
Seorang wanita yang tadi menunggu di luar ruangan menyambut sepasang suami istri itu dengan lambaian tangan. Dari kejauhan ia sudah bisa tersenyum senang melihat keduanya datang. Sudah hampir dua minggu ia tak bertemu dengan pasangan suami istri tersebut. Hanya lewat panggilan telepon dan pesan singkat sesekali ia bertukar kabar.
"Kamu udah lama di sini?" tanya sang wanita hamil tersebut.
"Iya, Aini aku udah dari tadi di sini." Jawabnya.
"Udah lahir kan ya, bayi nya? Aku mau masuk ah, lihat ponakan ku mirip siapa? Mama nya atau papa nya ya?" Ucap Aini antusias.
"Yang jelas ngga mirip aku lah dek." Celetuk Hafis.
"Mau ku timpuk pakai sepatu kau ya!" Seru Aini.
"Ngga kok, sayang."
"Kalian ini, ribut aja. Apakah, begini yang namanya bahagia mempunyai keluarga?" Tanya seorang wanita yang tadi menunggu persalinan di depan ruangan.
__ADS_1