Antara Cinta Dan Cinta

Antara Cinta Dan Cinta
Dia lebih suka menunjukkan sikap, dan aku jadi suka.


__ADS_3

Ya Allah, apakah dia benar akan menjadi takdir ku?" ucap Aini lirih, tanpa di sadari air matanya menetes tanpa permisi.


" Kamu sudah lihat dia nduk? " tanya Abah.


" Sudah abah. Beri Aini waktu untuk berpikir ya, abah. " Pinta Aini.


Abah menepuk pelan pundak putri bungsu kesayangannya." Sekali lagi abah katakan, pilihan tetap ada padamu."


Lalu abah meninggalkan Aini yang masih diam di tempat. Tanpa abah sadari yang di tunjuk dia tadi adalah Awan. Tapi, saat Aini melihat ke arah yang di tunjuk abah Hafis lah yang duduk di sana. Karena keduanya sama-sama memakai kemeja putih. Dan abah juga tidak melihat ke arah itu lagi. Apakah ini jalan Allah untuk Hafis dan Aini, atau tetap akan bersama Awan? Dari peristiwa ini kita mengambil satu pelajaran. Manusia itu sudah menentukan pilihan. Tapi, Allah lah yang akan memilihkan untukmu.


"Ntar yang nyetir gantian kamu ya, mas? Aku capek banget rasanya hari ini." Hafis bertanya kepada sang kakak Awan.


"Iya, nanti mas yang nyetir."


Hafis melihat ke kanan dan kiri , pandangannya menyapu setiap sudut rumah Aini.

__ADS_1


"Lagi cari siapa dek?" Tanya Awan.


"Cari calon makmum mas. Tadi pas baru datang lihat dia. Ngobrol juga, sayangnya belum sempat minta no telepon dianya udah pergi."


"Mungkin dia salah satu tamu di sini jadi, sudah pulang lah."


"Bukan mas, dia sepertinya adik mbak Nur. Soale tadi aku lihat dia masuk ke dalam."


Awan pun ikut mencari sosok yang di sebut adiknya itu. Tapi lama pandangannya menyapu keramaian tidak juga menemukan sosok yang di ceritakan Adiknya.


"Iya mas makasih sarannya. Nanti aku tanya mbak Nur saja."


"Nah gitu dong, kalau sudah jodoh InsyaAllah ngga akan lari kemana-mana. Banyakin doa, dan tentu saja jangan lupa dengan usaha." Ucap Awan memberi nasihat kepada sang adik.


Drett... Drett... Gerakan dari ponsel di saku celana Awan membuat pandangan nya teralihkan ke benda pipih tersebut. Ia tersenyum saat mengetahui pesan itu dari Tara. Dengan pelan ia baca kata demi kata pesan dari Tara. Dan tanpa sengaja ia meneteskan air mata.

__ADS_1


...----------------...


Tara sudah memikirkan baik-baik apa yang akan dilakukan nya nanti. Dia dari lahir sudah kehilangan pundaknya. Tak tahu rasanya belaian kasih kasang orang tua. Dan beberapa bulan ini ia mendapatkan itu dari Awan. Pria itu ingin menjadi sandaran buat Tara.


"Lo, yakin mau jalan sama abang nasi uduk?" tanya Salma.


"Yakin. Lo mau tahu apa yang gue suka dari dia?" Setelah menjawab Salma ia berbalik bertanya kepada sahabatnya tersebut.


"Apa itu? Gue penasaran seperti apa sih pesona dari Awan, sehingga mampu menggeser Anton yang sudah lama ngejar lo."


"Bukan paras yang utama, bukan kata manis penenang hati. Tapi semua sikap nya dia nyata. Dia bisa jadi pelawak saat aku sedih. Dia bisa jadi kakak yang hebat dan masih banyak lagi dari dia yang bikin gue ingin jelanin hubungan dengan dia." Ucap Tara panjang lebar.


" Nyaman ya, Ra? Lalu kalau dengan Anton bukankah rasa nyaman juga yang kau dapat?"


" Anton adalah teman terbaik. Dia ngga ada duanya buat gue. Sempat berpikir mungkin dia bisa jadi rumah dan pundaknya bisa ku jadikan sandaran tapi, lagi-lagi aku di tampar kenyataan bahwa aku dan dia berbeda. Dulu sempat aku ke rumah dia merayakan natal bersama kelurahan besarnya. Kamu tahu apa yang aku alami?" Tara memejamkan mata sejenak sambil menarik napas. Rasanya ia tidak sanggup mengucapkan hal itu.

__ADS_1


" Apa itu? " Salma semakin penasaran dengan apa yang di ucapkan Tara.


__ADS_2