
Kalau aku dan dia tidak jadi kita ngga apa-apa yang penting dia selalu bahagia dan dalam keadaan baik-baik saja itu sudah cukup. Karena aku cinta dan rela memberi tanpa mengharap kembali.
- ***Anton*** -
Salma memegang pundak Tara malu berkata." "Sayang, semua ekspresi yang kau tunjukkan itu sudah kelihatan. Itu, artinya kau sedang jatuh cinta.
Tara memutar bola matanya malas. Ia rasa sahabatnya tersebut salah dalam menilai perasaan nya. Anton saja yang sudah satu tahun lebih mengejar dirinya tidak mampu membuatnya luluh. Apalagi Awan yang hanya beberapa bulan saja. Itulah yang dipikirkan Tara saat ini. Tapi, bukankah Tuhan mampu membolak- balikan perasaan manusia.
"Sadarlah, akan perasan lo. Ngga ada salahnya buka hati. Gue lihat Abang nasi uduk itu baik kok. Ikuti kata hati lo Ra!" Ujar Salma meyakinkan sahabat nya akan perasaan nya kepada Awan.
"Hah, udahlah kita lihat aja ntar. Yuk, kita makan saja oleh-oleh dari mas Awan," ucap Tara ia beralih mengambil lumpia dan wingko babat dan meletakkan nya di piring.
Salma akhirnya diam, ia tidak lagi membahas perihal perasaan Tara kepada Awan. Dan juga dirinya tidak ingin urus campur terlalu jauh masalah pribadi Tara walaupun mereka sahabat. Karena bagaimanapun itu privasi Tara.
"Wah, lumpia nya basah ternyata Salma. Harus di goreng dulu. Gue goreng sebentar." Tara segera menuju dapur dan menggoreng lumpia tersebut.
Tak butuh waktu lama lumpia hangat sudah tersaji di atas piring. Dengan lahap mereka menikmati lumpia dan tak lupa ditemani kopi hangat.
" Ah... gue kenyang jadi ngantuk deh." Salma mengelus perutnya yang terasa penuh karena habis makan dua lumpia berukuran besar.
"Sebentar lagi kan waktu maghrib kau sholat dulu, baru tidur!" Ujar Tara.
"Iya gue sholat dulu ntar baru tidur."
Inilah salah satu yang di sukai Salma dari Tara. Sahabatnya selalu mengingatkan dirinya akan kewajiban nya sebagai seorang muslim. Yang bahkan Tara sendiri seorang katholik. Mereka tetap menghargai dan saling menyayangi satu sama lain. Rasa sayang yang tulus mampu mempererat hubungan mereka walaupun mereka berbeda keyakinan.
Beberapa hari kemudian...
"Motornya kenapa mbak?" tanya Awan pada Tara yang baru keluar dari gerbang kost. Ia melihat Tara yang sedang kesulitan menyalakan mesin motor nya.
__ADS_1
"Ngga tahu nih, ngga mau nyala mesinnya. Udah jam setengah delapan lagi. Ntar gue meeting jadi telat kalau gini deh." Jawab Tara.
Ia terlihat bingung karena harus meeting pagi ini. Dan motor nya tidak bisa di ajak kerja sama.
"Bareng saya saja mbak. Kebetulan saya mau ke kantor mbak Tara."
Tara sejenak diam. Ia tidak ingin merepotkan tapi juga tidak ada pilihan lain selain menerima bantuan dari Awan. Ia melihat jam yang melingkar di tangan kirinya lalu beralih menatap Awan yang masih setia menunggu jawaban dari Tara. Tanpa pikir panjang lagi ia segera memasukkan kembali motornya dan menerima bantuan Awan.
"Oke, ayo mas kita berangkat! Makasih ya mas." Ucap Tara.
Anton berjalan ke sana kemari keluar masuk ruangan kerjanya. Entahlah seolah ada yang sedang ia tunggu. Pandangannya melihat ke arah jam yang ada di dinding dan bergantian melihat kearah jendela. Rasa khawatir mulai mengusik dirinya. Ini sudah hampir jam delapan tapi, Tara belum juga datang. Hari ini ada meeting tidak biasanya Tara terlambat. Tak hanya sekali ia melakukan panggilan lewat telepon genggam miliknya. Tapi ponsel Tara tidak bisa dihubungi.
"Lo jangan mondar mandir kayak setrikaan bisa ngga kang siomay? Gue udah pusing tambah pusing lihat lo dari tadi ngga berhenti." Keluh Salma.
"Gue nungguin Tara. Ngga biasanya dia telat kalau ada meeting penting gini. Di hubungi dari tadi juga ponsel nya ngga aktif. Bikin khawatir gue aja." Anton masih terlihat uring-uringan memikirkan Tara.
"Tapi ini sudah jam delapan Salma." Ucap Anton.
Ceklek...Pintu ruangan terbuka terlihat sosok wanita cantik yang sedang di tunggu Anton dari tadi. Napasnya tersengal, ia berlari dari parkiran sampai ke ruangannya.
"Huh, capek banget gue," ucap Tara. Ia segera duduk dan menyadarkan tubuhnya di sandaran kursi.
Anton seketika merasa lega saat melihat Tara baik-baik saja. Entahlah, pria ini merasa khawatir akan kehilangan Tara.
"Ini, minum dulu!" Ucap Anton menyerahkan segelas air putih kepada Tara.
Sungguh tidak perlu di ragukan ketulusan Anton kepada Tara. Kebaikan pria tersebut tidak di ragukan lagi. Tapi, wanita yang sedang duduk di hadapannya itu seolah tidak mampu melihat semua itu. Selalu membentengi dirinya dengan kuat yang bahkan Anton sendiri bingung harus mendobrak tembok pembatas itu dengan cara apa lagi.
"Kenapa kau sampai terlihat kelelahan?" Lanjut Anton bertanya pada Tara.
__ADS_1
"Gue lari dari parkiran ke sini. Motor gue juga mogok."
"Kok bisa? Belum kamu servis ya?"
"Bisa lah, buktinya itu mogok. Ngga tahu kenapa kayaknya minta di lem biru itu motor." Jawab Tara.
"Yasudah lem biru aja, besok kan komisi cair bisa buat beli motor baru." Saut Salma yang ikut nimbrung percakapan Anton dan Salma.
"Ntar aja lah, gampang servis aja. Nabung dulu buat kebutuhan yang lain."
"Yasudah baiknya bagaimana kamu aja. Besok motor nya di servis aja. Biar ngga kejadian kayak gini lagi." Anton memberikan saran kepada Tara.
"Iya, untung ada abang nasi uduk yang nganter gue tadi. Kalau ngga entahlah ngga tahu gue."
"Ha, abang nasi uduk nganterin lo sampai sini? Baik banget dia sih. Fiks no debat kalau gue udah pasti kesengsem sama dia." Ujar Salma.
"Abang nasi uduk? Kok bisa di antar kamu?" tanya Anton yang mulai ingin tahu tentang abang nasi uduk yang di maksud Salma dari beberapa hari lalu.
"Akang siomay mulai kepo maksimal. Kemarin aja ngga mau tahu sekarang ingin tahu banget ya?" Ledek Salma.
Anton tetap stay cool. Ia tidak mau terlihat seperti pria yang kepo dengan urusan orang lain. Tapi ini menyangkut Tara jadi, sedikit ingin tahu tidak ada salahnya bukan?
" Sejak kapan gue kepo sama hidup orang? Inikan Tara jadi gue ingin tahu saja. Memastikan siapa yang mengantar Tara. Kalau punya niat ngga baik gimana? Sebagai pria sejati yang selalu menyayangi Tara gue harus memastikannya dong." Kilah Anton.
"Halah jujur aja napa sih kalau lo itu kepo sama pria tampan yang dekat dengan Tara. Oh, iya, sepertinya pria itu juga suka sama Tara. Lo hati-hati aja deh saingan li berat kang siomay." Salma sengaja memanas-manasi Anton.
"Kalau pria itu lebih baik, bisa jaga Tara. Gue akan relakan Tara buat dia. Karena cinta itu tidak harus aku dan dia jadi kita. Karena tidak semua cinta di dunia ini bisa bersatu dalam ikatan suci pernikahan. Dan gue bisa nerima apapun kemungkinan yang terjadi." Jawab Anton dengan bijak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1