Antara Cinta Dan Cinta

Antara Cinta Dan Cinta
Surat untuk Anton.


__ADS_3

Jodoh itu memang di tangan Tuhan tapi semua itu harus di perjuangkan juga agar bisa berjodoh. Di perjuangkan!


- ***Anton*** -


Ya, Allah lindungi lah Tara di manapun berada. Bahagiakan ia di setiap deru langkah nya. Ya, Allah... -" Awan tidak sanggup meneruskan doanya. Ia tak mampu lagi berucap. Air matanya tumpah terus menerus tanpa permisi.


Lantai keramik berwarna putih yang dingin itu menjadi saksi bagaimana seorang pria meraung menangisi seorang wanita yang ia cintai dengan tulus. Dalam hati tak henti mengucapkan doa untuk wanita itu. Bagaimana hatinya menahan cinta agar tidak muncul, bagaimana ia harus melepas begitu saja tanpa ada sedikit perjuangan.


Di tempat lain seorang pria mencengkram erat selembar kertas yang baru saja ia terima dari Salma. Sama halnya dengan Awan, ia juga merasakan kesakitan karena sebuah cinta. Baru beberapa menit yang lalu ia membaca kata demi kata surat dari Tara. Air matanya menetes begitu saja membaca surat tersebut.


Dear Anton


Hai, pria baik yang pernah aku kenal. Terima kasih sudah menjadi bagian cerita hidupku. Maaf ya, aku sering buat kamu sakit hati. Sungguh aku tidak bermaksud seperti itu. Aku akan merindukan saat hari minggu pagi kita ke gereja bersama duduk di barisan belakang. Aku akan rindu saat-saat itu. Ku mohon, bukalah hatimu untuk wanita lain. Bukan kamu yang tidak baik untukku, tapi aku yang tak layak buatmu. Bahagia lah, dengan seseorang yang lebih baik dariku. Karena kita hanya sebatas teman baik, walaupun ada terbesit rasa ingin bersama itu ada. Terima kasih teman baik. Mengenalmu adalah sebuah bahagia.


Yang selalu menyayangimu Tara.


Seperti nya terlalu kuno untuk mengirim surat kepada seseorang. Tapi, tidak untuk Tara. Dia menuliskan kata demi kata di dalam selembar kertas. Ia tuangkan sedikit rasa yang pernah ia miliki kepada Anton. Sempat berharap namun harus di patahkan karena status sosial. Pada akhirnya hanya bisa bersama tapi tidak untuk bersatu.

__ADS_1


"Sempat terbesit untuk bersama? Apakah itu artinya Tara juga pernah memiliki perasan yang lebih dari teman? Pasti ada sesuatu yang tidak beres ini." Ucap Anton pada dirinya sendiri. Ia menerka apa yang terjadi dengan Tara.


Awal mereka bertemu semua baik saja. Semakin lama semakin dekat karena mereka satu gereja dan sering terlihat acara bersama. Bukan kah, orang bilang cinta itu karena terbiasa? Dan Tara mulai terbiasa akan hal itu. Saat ia membuka perlahan pintu hati yang tertutup rapat. Harapan yang ingin bersama mulai menanjak tinggi di jatuhkan lagi karena sebuah kasta. Ya, yang kaya dengan yang kaya, lalu yang miskin apakah tidak boleh juga dengan yang kaya? Dalam sebuah cinta katanya yang penting dari hati. Tapi, pada kenyataannya semua hanya di lihat dari mata, telinga seolah tuli dan hati tak bisa menilai sebuah rasa yang tulus.


Anton segera berjalan keluar kamar untuk mengambil air minum. Langkah nya terhenti saat ia mendengar percakapan sang mama dengan nenek nya di telepon. Ia masih diam di tempat mendengarkan sang mama.


"Tara itu wanita yang baik. Akan sangat suka dengan dia. Tidak peduli status sosial dan bahkan dia anak yatim piatu yang ngga tahu asal usulnya aku ngga peduli ma. Anton juga sangat menyukai Tara. Pantas saja ia setahun ini menghindari kami, semua karena mama. Lihat dia dari mata dan nilai dia dari hati ma. Jangan lihat masa lalu dia, bukankah Tara tidak salah apa-apa dalam hal ini. Aku ngga habis pikir dengan pemikiran mama. Aku ngga peduli mama setuju atau ngga. Yang aku inginkan adalah kebahagiaan putraku dan aku mau -" mama Anton tidak jadi melanjutkan ucapannya.


" Jadi, Tara begitu karena nenek?" tanya Anton memotong pembicaraan sang mama. Ia semakin berjalan mendekat ke arah mamanya.


Mama Anton menoleh ke belakang mengikuti arah suara tersebut. Lalu berkata ." Kamu dengar semua nya, Anton?"


"Anton pinjam ponsel mama sebentar," ucapnya.


"Mau apa kamu? Udah jangan macam-macam kamu!" tanya sang mama dan juga memperingati Anton.


Mama nya takut kalau ia akan marah kepada sang nenek.

__ADS_1


"Percaya sama Anton ma, ngga akan marah." Ucap Anton dengan lirih.


Dengan ragu-ragu sang mama menyerahkan benda pipih tersebut kepada sang putra.


"Nek, terima kasih. Berkat nenek wanita yang aku cintai tidak mau membuka hatinya untuk ku bahkan setelah mampir satu tahun perjuangan ku dia tidak sedikitpun luluh. Bukan dia yang terlalu keras hati, tapi dari awal dia mencegah rasa cinta nya muncul karena ulah nenek. Jodoh itu di tangan Tuhan, tapi kalau tidak di perjuangkan tidak akan berjodoh. Bukankah nenek pernah bilang seperti itu. Dan sepertinya aku tidak berjodoh dengan Tara. Itu semua berkat nenek," Anton menyudahi telepon nya dengan sang nenek . Ia kembalikan ponsel tersebut kepada sang mama.


" Anton, apa maksudnya kamu bilang seperti itu nak?" tanya sang mama.


" Tara udah resign dari kantor ma. Dan dia pergi entah kemana kita semua ngga ada yang tahu. Pamitnya mau kembali ke panti asuhan di Surabaya. Tapi Merry sudah mencari informasi dari saudara nya yang di sana ia tidak di sana. Dan pihak panti asuhan tidak tahu di mana Tara. Mereka hanya sesekali berhubungan lewat telepon dan menerima uang dari Tara untuk membantu keperluan panti asuhan. Wanita yang aku cintai pergi ma, dan bodohnya aku ngga tahu perasaan dia juga sama dengan ku. Dan pada akhirnya dia membuka hati untuk pria lain dan akhirnya harus terluka juga. Dia wanita yang baik ma, dia baik dia layak bahagia," ucap Anton dengan kepala tertunduk.


Sang mama berhambur memeluk Anton. Ia tahu bagaimana perasaan putranya saat ini. Perjuangan sang anak selama kurang lebih satu tahun untuk memenangkan hati Tara. Tidak berbuah apapun.


"Mama bantu bujuk Tara. Jangan pedulikan ucapan nenek kamu. Kita cari tahu keberadaan Tara. Nanti mama bilang pada papa biar di bantu cari. Banyak teman bisnis yang pasti bisa membantu keberadaan Tara." Ucap sang mama.


"Ngga perlu ma, Tara sudah mencintai pria lain."


"Kamu kenapa jadi seperti ini. Usaha kali satu tahun harus lenyap gitu aja. Kalau kalian berjodoh pasti akan bersatu." Mama Anton terus menyemangati sang putra agar tidak menyerah.

__ADS_1


"Ma, bukankah hati itu tidak bisa di paksa? Aku sudah kehilangan timing ku ma."


__ADS_2