
"Hanya apa? Kau ini pria bukan banci. Kalau kau seperti ini, ku rasa mama lah yang gagal mendidik mu," ucap sang mama sambil menangis.
"Ma, aku mau tidur dulu," beberapa menit kemudian Anton terpejam.
...-n
...
Anton.
...----------------...
Awan tersenyum menatap sang adik yang sudah sah menjadi suami Aini. Pandangan nya tak luput dari wanita yang ada di sebelah nya. Tak kalah cantik dari sang pengantin. Sama-sama memakai baju warna putih. Bedanya Aini pakai kebaya putih dengan hijab dan Tara memakai dress lengan panjang dengan rambut yang di gerai.
Sungguh wanita itu terasa dekat namun jarak jauh masih membentang di antara mereka. Awan hanya mampu menyebut nya dalam doa. Kalau pun mereka tidak jodoh hal itu tak apa untuk Awan.
"Itu yang namanya Tara?" tanya ibu Awan.
"Iya, bu. Cantik kan? Dia wanita yang aku sebut dalam doa. Dekat namun terasa jauh." Jawab Awan.
__ADS_1
"Apakah dia teman Aini?" tanya lagi sang Ibu.
"Iya dia teman Aini. Awal nya dia menolak untuk datang. Setelah aku bujuk akhirnya mau datang ke Salatiga bersama dengan ku."
"Dia yatim piatu bu, wanita baik dan terlihat ceria tapi menyimpan banyak luka." Lanjutnya kemudian.
"Dan juga cantik. Ibu minta jangan kau lukai lagi dia!" Pinta ibu Awan.
"Tidak akan bu."
"Ada kisah cinta yang begitu menyentuh dan banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari mereka. Pertama adalah kisah Fatimah Az Zahra dan kedua adalah kisah Lailla Qais. Kau mau yang mana?" tanya ibu Awan.
"Kenapa harus Laila dan Qais bu?"
Deg...
Awan membenarkan ucapan sang ibu. Terlalu sulit untuk berakhir bahagia. Dan harapan bersatu sangat tipis, seperti selembar tisu yang artinya harus berakhir tragis.
" Kenapa kau diam? Apakah ibu salah? " tanya ibu Awan.
" Tidak bu, aku tidak akan memaksa dia. Aku tidak berharap berakhir bahagia seperti Ali Bin Abi Thalib dan Fatimah dan aku juga tak mau berakhir tragis seperti Qais dan Laila. Aku tidak akan terpuruk hanya karena cinta yang tidak di satukan oleh Allah. Bukan kah manusia selalu berlalu lalang dalam hidup. Dan sakit ataupun bahagia sudah biasa kita rasa. Lagi pula dunia tak akan runtuh hanya karena aku tak bersatu dengan Tara." Jelas Awan dengan mantap.
Pria itu legowo, tidak ada paksaan dan tidak akan terpuruk karena cinta. Karena susah, sedih, senang semua akan ada masa nya. Saat cinta nya hilang sakit adalah pasti. Ikhlas itu susah. Rela adalah sebuah kata penenang saja dan pada akhirnya terbiasa lah yang menjadikan manusia itu bisa lepas dari rasa sakit.
__ADS_1
Pandangan Awan masih tak lepas dari Tara. Wanita itu sedang asyik mencicipi beberapa hidangan yang tersaji di acara tersebut.
"Sana, di samperin!" Pinta ibu Awan.
"Iya bu, Awan ke sana dulu ya!" Setelah berpamitan ia segera menuju ke tempat Tara.
"Bagaimana di sini, suka ngga?" tanya Awan saat sudah sampai di depan tempat duduk Tara.
"Suka."
"Mau setiap tiga bulan sekali pulang ke sini ngga?" tanya Awan lagi.
Tara menautkan alisnya. Sedikit bingung dengan maksud Awan. Setiap tiga bulan? Harus keluar uang berapa juta buat ia beli tiket pesawat untuk sekedar ke rumah Aini, itulah yang ada di pikiran Tara.
" Jangan tiga bulan sekali lah, boros. Uang ku bisa habis ntar." Tolak Tara.
Dulu bahasa Tara seperti anak gaul pada umumnya. Menggunakan bahasa elu dan gue tapi, sejak ia kenal Awan, ia selalu menggunakan aku dan kamu. Cinta itu bisa mengubah seseorang dari yang baik bisa tidak baik begitupun sebaliknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
👣 Kisah antara Fatimah Az Zahra dengan Ali bin Abi Thalib serta Laila dan Qais saya mendapatkan nya dari ig dan juga membaca beberapa artikel. Dari kisah itu kita bisa mengambil banyak pelajaran. Dan saya terinspirasi untuk menuangkan nya sedikit ide dalam cerita saya.
Menulis apa yang ingin di tulis dan berharap bisa memberikan pesan dan kesan dari setiap kata yang saya tulis.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ya, makasih 🙏❤️