Antara Cinta Dan Cinta

Antara Cinta Dan Cinta
Kekuatan sebuah doa.


__ADS_3

Ponsel Tara langsung di simpan kembali. Ia melanjutkan pekerjaan nya yang belum selesai. Ia menyibukkan diri bukan karena pekerjaan yang tak kunjung usai. Tapi ia, sengaja mengalihkan perhatian nya dari pikiran nya yang selalu terbesit nama Awan.


"Kenapa susah sekali membuang dia dalam ingatanku. Dulu, dengan Anton saja aku tidak seperti ini. Padahal kita masih bisa bersama bekerja bersama di kantor dan pergi selalu bersama. Dan jantung ku berdecak kencang saat aku memikirkannya dan menyebut namanya dalam hati." Ucap Tara lirih.


Tara berkali-kali menarik napas panjang. Rasanya ia semakin bingung tentang perasaan nya. Sepertinya menjauh adalah tindakan yang salah.


Di Jakarta


Seorang pria sedang bersimpuh di atas sajadah. Sujud nya begitu lama ia sedang bercerita kepada Allah tentang semua yang ia alami. Bukankah, Dia sang maha membolak-balik balikan hati manusia? Hanya pada-Nya dia meminta. Doa nya di dalam hati air mata nya menetes deras membasahi sajadah warna biru navy miliknya.


Orang bilang ibadah seumur hidup adalah menikah. Dan Awan ingin menemukan wanita yang ia cintai begitupun mencintai dirinya dengan tulus karena Allah. Satu sisi dia meminta maaf dan sisi lain ia meminta untuk di satukan dengan Tara dalam ikatan suci pernikahan.


Apakah itu semua bisa terwujud? Maukah salah satu dari mereka mengalah, atau salah keduanya akan terluka? Satu kata pasrah. Mereka akan menyerahkan semua nya kepada Allah SWT.

__ADS_1


Jantung Tara berdecak kencang karena doa dari Awan. Mata tidak saling menatap, suara tak saling menyapa. Raga terpisah jauh tapi hati masih terpaut dan bergetar karena sebuah doa.


Keesokan harinya


Tara merasakan badannya demam dari malam. Ia tetap bangun dengan rutinitas paginya. Mengambil rosario miliknya dan dia melakukan doa pagi. Tubuhnya sedikit menggigil tapi ia abaikan. Setelah hampir satu jam selesai, ia memutuskan untuk keluar kamar mengambil obat dan meminumnya.


"Tara, kamu sakit?" tanya Ratna.


Ia bertanya saat melihat Tara yang ingin mengambil obat demam.


"Sini mbak carikan obat, kamu istirahat lah di kamar!" Pinta Ratna.


Karena menurut apa yang Ratna katakan. Ia segera kembali ke kamar untuk beristirahat.

__ADS_1


Ratna mengambil obat penurunan demam dan ia letakkan di atas meja. Lalu bergegas ke dapur dan membuatkan Tara bubur serta teh hangat. Setalah semua siap di letakkan di nampan dan segera menemui Tara.


"Ini makan, lalu minum obatnya!" Perintah Ratna.


Tara bangun dan duduk bersandar di sandaran ranjang. Wajahnya pucat dan bibir nya terlihat pecah-pecah. Banyak pikiran dan juga kelelahan adalah faktor utama penyebab ia sakit.


"Iya, makasih mbak," Tara menerima mangkuk yang berisi bubur tersebut.


Dengan pelan kunyahan demi kunyahan ia telan dengan susah payah. Pahit di lidah nya membuat ia kesusahan menelan makanan.


"Kenapa? Kau tidak berselera? Mau makan apa aku buat kan sekarang." tanya Ratna.


"Ngga mau apa-apa mbak. Lidah ku pahit jadi rasanya malas makan aku mbak."

__ADS_1


"Tapi harus tetap makan agar bisa minum obat dan sehat kembali. Atau kita ke dokter saja ya?" Ratna yang merasa khawatir tentang kondisi nya Tara berinisiatif untuk mengajak Tara ke dokter untuk di periksa dan segera sembuh.


__ADS_2