
Mas, kamar nya sudah kosong. Mbak Tara pulang ke Surabaya beberapa hari yang lalu." Ucap seorang perempuan yang kos nya sebelahan dengan Tara.
" Pulang, ke Surabaya?" tanya Awan.
" Iya mas, dia sudah pamitan sama kita kok. Sudah resign juga kemungkinan ngga akan ke sini lagi deh." Ujar perempuan tersebut.
" Makasih informasinya mbak." Ucap Awan.
"Sama-sama mas."
Awan berjalan dengan gontai menuju ke kos nya. Wanita yang ia cintai dan belum sempat ia perjuangan kan sudah pergi. Ia berpikir apa yang di katakan Hafis benar. Harusnya di perjuangan dulu, bahkan bisa di ibarat kan dia sudah menyerah sebelum berperang.
Ia ingat seseorang yang pasti tahu alamat pasti Tara di Surabaya. Awan segera menghubungi orang tersebut untuk meminta alamat Tara. Satu menit dua menit ia mencoba beberapa kali menghubungi Salma belum juga ada jawaban.
__ADS_1
"Kenapa ngga bisa di hubungi." Keluh Awan.
Jam sudah menunjukkan pukul 07.20wib ia harus segera bersiap berangkat ke kantor.
Di tempat lain.
Tara sedang menata beberapa buku di atas meja. Beberapa bacaan tentang kisah nabi Muhammad dan para sahabatnya telah ia baca. Dari cerita Awan yang mengisahkan putri kesayangan rasulullah, yaitu Fatimah Az Zahra ia menjadi suka dengan kisah rasulullah saw.
" Besok aku ke toko buku lagi ah, banyak kisah lagi yang harus aku baca seperti kisah istri Firaun. Dulu Awan sekilas ceritanya jadi aku penasaran deh." Ucap Tara lirih yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.
Tara membuang napas kasar. Anak kecil yang ada di balik kamar kos nya itu pasti di suruh sang mama untuk mengantar camilan untuknya. Tara sudah sering bilang untuk tidak mengirim camilan setiap hari tapi masih saja di kirim. Ia segera bangkit dan beranjak membuka pintu untuk anak tersebut.
"Iya, anak kecil yang manis, silahkan masuk Azam yang ganteng," Tara membuka pintu dan menyuruh Azam masuk.
__ADS_1
Anak kecil yang mengetuk pintu itu adalah Azam cucu dari Ibu Nur, orang yang menolong Tara saat pertama kali datang ke Jakarta. Mama dari Azam lah yang meminta Tara untuk membantu usahanya di Aceh. Karena semenjak sang suami meninggal ia pindah ke Aceh untuk meneruskan usaha dari warisan orang tua sang suami yang berada di Aceh.
"Jangan panggil aku anak kecil. Aku sudah makan buah sayur dan juga minum susu kata mama aku akan segera tumbuh tinggi jadi jangan panggil aku anak kecil," protes Azam yang cemberut sambil melipat tangannya di atas dada.
"Iya Azam pintar yang udah gede," Tara mensejajarkan tinggi nya dengan Azam.
"Kan aku mau nikah sama Tara. Jadi harus tumbuh besar dan kuat biar bisa jaga Tara dong." Lanjutnya kemudian.
"Panggil tante, jangan Tara. Ingat tante Tara! Oh, iya kamu mau nikah sama tante?"
"Iya dong tante kan Azam ganteng dan baik tante mau ya?" pinta Azam.
Bocah berusia kurang dari tujuh tahun itu selalu begitu. Ia menirukan ucapan Om nya yang juga keponakan dari sang mama yang juga suka menggoda Tara.
__ADS_1
"Jangan suka menirukan om Damar. Ngga bagus kayak gitu. Nanti tante Rara adukan ke mama!" Ancam Tara pada Azam.