
Jangan suka menirukan om Damar. Ngga bagus kayak gitu. Nanti tante Rara adukan ke mama!" Ancam Tara pada Azam.
" Jangan dong tante. Kan Azam cuma ikutan aja."
"Maka dari itu jangan ikut-ikutan lagi ya!"
Azam pun mengangguk paham. Anak kecil ini memberi sedikit warna dan hidup Tara. Saat ia sedang bersedih, ada Azam yang selalu menghibur dirinya dengan celotehannya yang lucu.
"Azam! Kamu ngapain di situ lama-lama nak," tegur seorang wanita cantik berhijab yang berjalan ke arah kamar Tara.
"Iya ma, ini udah mau keluar." Jawab Azam.
"Ayo, makan dulu sayang!" ajak sang mama saat sudah melihat anaknya keluar dari kamar Tara.
"Oke mama."
Azam segera berlari ke arah meja makan. Sementara sang mama masih berada di pintu kamar sambil tersenyum memandang Tara.
"Mbak kenapa senyum-senyum sendiri gitu. Adalah yang lucu mbak?" tanya Tara.
"Dek, kenapa kamu memilih menghindar dari semua nya? Bukan kah semua baik dan sayang sama kamu," tanya mama Azam yang mendudukkan tubuhnya di samping Tara.
__ADS_1
"Ngga ada yang di hindari mbak. Semua nya baik dan sayang tapi Tara ngga bisa di sana." Jawab Tara .
"Apa alasannya? Karena cinta kamu ke Awan atau cinta masa lalu mu Anton? Kedua pria itu baik dan mbak lihat mereka tulus padamu. Bukankah tidak adil untuk untuk mereka kalau kau pergi dari mereka dengan cara seperti ini?"
"Semua baik dan tulus mbak. Tara lah, yang tidak pantas berada di samping salah satu dari mereka. Anton, pernah berharap dan rasa kagum ku luar biasa. Terbesit keinginan menua bersama dan membina keluarga yang bahagia. Tapi, di patahkan dengan status sosial kami yang berbeda. Jadi, aku kubur semua sendiri mbak. Bahkan, Anton tak tahu perasaan ku. Dan Awan pria baik yang mampu mengobati luka Tara. Mampu mencairkan hati yang beku tidak pernah memberi janji dan tidak pernah mengobrol kata manis. Semua hanya tersirat tanpa terucap dan Tara suka itu. Lagi-lagi Tuhan tidak berkehendak mbak. Aku terbiasa sendiri dan akan terus begini mbak. " Jawab Tara panjang lebar.
Mama Azam langsung memeluk Tara. Air matanya tumpah begitu saja. Seorang wanita yang ia dekap sungguh rapuh. Bagaimana mungkin harapan nya selalu patah berkali-kali. Bagaimana ia melewati luka nya seorang diri? Sepertinya ungkapan seorang wanita itu kuat adalah benar adanya.
Di Jakarta
"Salma tolong, kasih tahu di mana alamat Tara di Surabaya. aku beberapa kali hubungi dia ngga bisa." Ucap Awan berkali-kali meminta alamat Tara.
Saat ini ia sedang duduk berhadapan dengan Salma di sebuah cafe yang terletak tidak jauh dari kantor Salma. Awan sedang berusaha membujuk sahabat Tara agar memberikan alamat Tara di Surabaya.
Kadang kita perlu di fase seperti ini. Pergi jauh dari orang yang mengenal kita dan memulai hidup yang baru di tempat lain. Bukan untuk menghindari masalah atau apapun itu tapi, tempat baru akan menjadikan hati kita lebih tenang.
"Awan, sebenarnya gue ngga tahu Tara di mana. Waktu itu dia pergi juga mendadak dan kita semua kaget. Waktu itu bilang mau ke Surabaya. Kali pikir dia akan ke panti asuhan tempat nya di rawat. Ternyata dia ngga di sana. Merry juga sudah memastikan bahwa dia ngga di sana. Dan nomor teleponnya ngga bisa di hubungi. Gue juga sedih, gue khawatir dan bingung harus cari dia di mana," ujar Salma dengan sesenggukan. Dia tak mampu menahan air mata yang terus menetes tanpa permisi.
" Apa maksudnya ngga tahu? Bukankah dia bilangnya ke Surabaya. Kenapa ngga bisa dihubungi? Tolong beri aku alamat panti asuhan di Surabaya. Mau ku susul dia kalau memang dia ngga di sana." Pinta Awan.
"Merry sudah memastikan hal itu. Saudaranya ada yang di Surabaya dan tempatnya dekat dengan panti asuhan Tara. Dia ngga ada di sana. Di sini yang sedih bukan hanya lo aja. Gue dan yang lain juga sedih. Tapi sebisa mungkin kita semua hargai keputusan Tara. Mungkin dia butuh waktu sendiri dulu."
__ADS_1
Awan menunduk. Ini semua karena dia, kalau saja ia tidak memulai hubungan dengan Tara kalau saja ia bisa lebih berani mengambil sikap, kalau saja ia tidak buru-buru mengambil keputusan pasti wanita itu masih di sini berkumpul bersama mereka. Bagaimana mungkin seorang wanita bisa sekuat itu, sendiri dari lama terbiasa di hantam dengan kesedihan yang seolah tak berkesudahan. Harapannya harus di patahkan berkali-kali. Bagaimana ada wanita sekuat ini?
"Tara nitipin sesuatu sama gue. Besok gue antar ke kos lo."
"Oke aku tunggu! Makasih ya?"
"Sama-sama."
Keesokan harinya.
Awan telah menerima paket dari Salma yang beberapa menit lalu di antar oleh kurir paket barang. Dengan cepat ia membuka paket tersebut.
"Kira-kira ini apa," ucapnya yang penasaran.
Betapa terkejutnya ia saat membuka paket tersebut. Beberapa buku ia lihat dengan seksama. Kisah para nabi dan para sahabat. Ini semua adalah kisah dari nabi yang ia pernah ceritakan. Tanpa ia tahu, ternyata Tara membaca buku ini. Air mata Awan menetes seketika. Pandangannya teralih ke buku yang mengisahkan tentang anak baginda Nabi Muhammad SAW yaitu Fatimah Az Zahra.
Di sampul depan buku tertulis.
Sungguh aku ingin meresahkan bagaimana menjadi anak perempuan yang di sayang. Tapi, Tuhan tidak mengizinkan. Tapi, aku tidak akan menyalahkan Tuhan akan apa yang menjadi takdir ku. Tapi, aku berharap akan menjadi istri yang di cintai dan juga mencintai. Dan aku ingin menjadi ibu yang juga mencintai anak-anaknya dengan sepenuh hati dan segenap jiwa. Aku ingin sebuah keluarga. Sebuah rumah sederhana, dan banyak cinta di dalamnya.
Awan menangis tanpa suara. Dadanya terasa sesak. Rongga paru-parunya seolah tak mendapatkan oksigen. Sebuah keluarga, se sederhana itukah harapan Tara. Bagaimana mungkin ia tidak peka akan hal ini. Apa yang di katakan Hafis benar, ia tidak berjuang. Ia mematahkan harapan seorang wanita. Dan sekarang ia menyesali semua itu.
__ADS_1
"Ya, Allah lindungi lah Tara di manapun berada. Bahagiakan ia di setiap deru langkah nya. Ya, Allah... -" Awan tidak sanggup meneruskan doanya. Ia tak mampu lagi berucap. Air matanya tumpah terus menerus tanpa permisi.