
"Lo ngomong kayak gitu, karena belum pernah jatuh cinta. Lihat aja, kalau lo jatuh cinta pasti akan beda cara pandang lo." Ujar Anton.
"Makanya gue ngga mau jatuh cinta. Udah jomblo bahagia aja, sayang diri sendiri kemana-mana sendiri liburan sendiri juga asyik." Merry masih berpendapat kalau sendiri adalah hal yang membahagiakan.
"Iya, sendiri asyik. Berdua jauh lebih asyik." Celetuk Salma.
Merry memutar bola matanya malas. Satu-satunya hal yang membuat dirinya malas adalah obrolan tentang cinta. Tidak ada yang membuat bahagia untuk nya hanya karena mendapat cinta dari manusia. Karena semua akan berakhir luka, itulah yang Merry pikirkan.
"Merry, dulu aku berpikir seperti itu. Beberapa cinta membuat ku luka. Tapi, sepertinya pikiran itu salah. Ngga semua membuat sakit kok. Iya, ada sesak nya. Tapi aku merasakan banyak bahagianya. Jangan lihat segala sesuatu itu dari satu sisi. Belajar nya menilai dari berbagai sisi. " Tara memberi nasihat pada Merry.
" Ngga janji, Ra. Karena gue itu hidup dari luka dan sakit hati. Bukan dari cinta, apalagi cinta dari pria. Gue ngga percaya." Merry tetap kekeh akan pendirian nya.
" Yaudah kalau kamu tetap kekeh dengan pendirian mu." Akhirnya Tara tidak berpendapat tentang cinta lagi pada Merry.
Tidak ada gunanya berdebat dengan orang yang tidak mau mengerti. Sejatinya kita tidak bisa melaksanakan satu hal kepada orang lain. Apalagi itu berurusan dengan hati.
__ADS_1
" Oke, " Merry kembali menyesap cairan hitam pekat dalam cangkir miliknya.
"Jadi, mau kembali atau tidak?" tanya Tara pada Salma.
"Em..." Salma menggantungkan ucapannya. Lagi-lagi ia bingung harus mengambil keputusan apa.
"Jangan bingung, turuti kata hatimu. Kita sebagai teman hanya memberikan saran, hidup mu tetap kau lah yang tentukan. Kalau kau yakin, dan masih cinta terimalah uluran tangan nya. Semua orang pernah berbuat salah, jadi maafkan kesalahan nya lupakan lukamu dan jangan kau ungkit lagi, itu kalau kau terima dia. Tapi, kalau kau masih ragu, tinggalkan dia! Jauhi dia! Abaikan segala hal tentang nya."
Salma diam mencerna sejenak nasihat Tara. Hatinya masih berdebar saat melihat Darren. Rasa cinta nya lebih besar dari rasa sakitnya. Lagi pula, Darren berbuat demikian ada sebab nya.
Tara, Anton dan Merry saling menatap satu sama lain. Terkejut dengan ucapan Salma yang ingin pergi begitu saja.
"Mau kemana lo?" tanya Anton.
"Ke tempat calon imam gue," jawab Salma. Wanita itu mengambil tas yang ada di samping tempat duduknya lalu pergi begitu saja meninggalkan teman-teman nya.
__ADS_1
"Itu anak ke sambet demit mana?" tanya Merry yang masih memandang heran ke arah Salma yang sudah pergi menjauh.
Tara tersenyum senang, pandangan tak lepas dari sosok Salma yang sudah mulai menjauh. "Biarkan dia memperjuangkan cinta nya."
"Hadeh, capek gue lihat kalian yang sibuk soal cinta." Celetuk Merry.
"Lo itu cuma penonton apa yang bikin capek? Kalau lo yang rasain baru bilang capek dudu." Anton bertanya perihal pendapat Merry yang bilang soal dirinya yang capek melihat percintaan sahabat nya.
"Nah, kan, lo sewot. Kasian, seperti nya lo juga capek ya?" Bukannya menjawab, Merry malah berbalik bertanya.
"Idih, ini anak ngeselin lama-lama ya! Untuk cewek, kalau ngga, gue ajak-"
"Apa? Ajak apa? Berantem?" Merry memotong perkataan Darren.
"Udah, udah!" Tara menghentikan perdebatan kedua sahabatnya.
__ADS_1