
Mas mulai ke, intinya ya?"
Aini mengerti apa yang di maksud sang suami. Ia mengangguk kan kepala tanda siap untuk masuk ke permainan inti.
"Akhhhhhh...." Teriak Hafis.
Aini tertawa mendengar teriakan sang suami. Karena bunyi ponsel berkali-kali mengganggu aktivitas mereka.
"Siapa yang telepon malam-malam begini. Ngga tahu lagi mau belah duren, tinggal tancap malah di ganggu," keluh Hafis.
"Udah, angkat dulu, mas!" Aini mendorong pelan dada sang suami.
Hafis pun mengambil selimut lain untuk di balut kan di tubuh nya. Ia berjalan mendekat ke arah ponsel nya.
"His, mas Awan ngapain malam-malam telepon sih," gerutu Hafis.
[ Assalamualaikum, mas! Kenapa telepon malam-malam sih mas? Aku lagi mau mau proses bikin ponakan yang lucu buat mas. Jangan ganggu dong! Mana tadi tinggal tancap mas malam ganggu aja,"]
Di seberang telepon Awan tertawa terpingkal-pingkal mendengar omelan sang adik. Bagaimana ia tidak tertawa, karena yang telepon sebenarnya adalah Tara. Ponsel Awan di loud speaker karena sebenarnya Tara lah, yang minta bantuan Awan agar menghubungi Aini. Berhubung Aini tidak bisa di telepon jadi Awan menghubungi Hafis.
[Mas, di ajak bicara malah ketawa aja, mas Awan woi! Masih di sana ngga?"]
__ADS_1
[" Halo, mas Hafis, ini saya Tara. Maaf mengganggu malam-malam,"]
["Oh, iya, jelas, anda mengganggu saya calon kakak ipar. Kan jadinya memperlambat proses bikin ponakan yang lucu buat kamu kakak ipar! Ada apa kakak ipar? Eh, maaf maksudnya calon kakak ipar" ]
["Tolong sampaikan Aini, besok saya berangkat ke Jakarta, maaf ngga bisa lama di Salatiga."]
["Iya mbak, nanti saya sampaikan."]
["Terima kasih"]
Panggilan pun selesai, Tara tak ingin mengganggu pengantin baru tersebut lebih lama, tapi ia lupa menutup panggilan.
"Sudah selesai?" tanya Awan.
"Ahhhh, emm..." Samar terdengar suara dari ponsel Awan.
"Eh, suara itu?" tanya Tara.
"Ponsel nya belum kamu matikan?" Awan berbalik bertanya.
"Belum," jawab Tara dengan menutup mulut nya.
__ADS_1
Awan segera mengambil ponsel tersebut lalu ia letakkan di telinga. "Hai, adik dudul," teriaknya.
Hafis yang tengah bermain dengan kedua benda kenyal sang istri sontak kaget.
"Eh, mas belum mematikan ponsel ya?" tanya Aini.
"Ha... Iya kah?" Hafis segera mengambil ponsel yang masih berada di atas tempat tidur.
"Belum dek," Hafis menepuk jidat nya pelan.
"Woi! Mas kau dengar ******* kami ya? Biar lah, biar segera nyusul kami ke puncak kenikmatan surga dunia. Sudah, aku tutup dulu, nanti mas dengar lebih dari ini jadi pingin malah," Hafis langsung mematikan ponsel nya. Ia tidak peduli lagi dengan omelan sang kakak di seberang telepon.
" Aku malu lah, mas kok bisa belum di matikan panggilan telepon nya? "tanya Aini.
" Lupa dek, maklum lah, kan masih muda. "
" Itu tandanya udah tua, bukannya masih muda mas! "
" Oh, salah ya? Lanjut yuk dek! "
Tangan Hafis kembali menjelajah setiap inci tubuh mulus sang istri. Lidah mereka saling membelit dan untuk bertukar saliva. Rasa yang asing untuk keduanya namun begitu membuat mereka ingin mengulang lagi dan lagi.
__ADS_1
Di tempat lain seorang pria sedang mengejar wanita yang di cintai nya. Makanan yang ia bawakan di tolak mentah-mentah. Tak pantang menyerah, pria itu masih terus berusaha membujuk pujaan hatinya.