
Napas Salma naik turun, tubuh nya mematung di depan pintu ruangan tempat Darren bekerja. Tangan nya menggantung di udara, antara ingin mengetuk pintu atau tidak. Rasa ragu dan takut menyelimuti seluruh perasaan Salma.
Ceklek... Pintu terbuka dari dalam. "Salma kamu di sini?" tanya Darren.
"Eh, anu... itu..." jawab Salma gugup, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ayo, masuk!" Ajak Darren. Ia menggandeng tangan kanan Salma.
Salma mengikuti langkah kaki Darren. Jantung nya semakin berdecak lebih kencang.
Kini Darren dan Salma duduk berhadapan sudah sekitar sepuluh menit mereka hanya diam. Tak ada yang memulai percakapan lebih dulu. Suara jarum jam di dinding lah ya g terdengar nyaring di indera pendengaran mereka. Darren menatap Salma pada nuh cinta, sementara yang di tatap hanya diam menunduk tanpa berani berucap sepatah kata pun.
"Kau ke sini ada perlu apa?" Akhirnya Darren memulai percakapan lebih dulu.
"Engga ada." Jawab Salma.
"Yakin ngga ada apa-apa?" tanya Darren lagi.
Seperti ini lah makhluk Tuhan yang di beri nama perempuan. Selalu enggan memulai lebih dulu, sedikit gengsi dan terkadang mengedepankan ego. Bibir bilang tidak, tapi hati iya.
Darren menautkan alisnya. Ia bingung dengan jawaban Salma. Tentu saja ia tidak dapat meraba apa yang di ingin kan wanita yang ada di hadapan nya saat ini. Kalau Salma ingin marah, harusnya sudah dari tadi di lampiaskan. Lalu apa keperluan Salma datang sore-sore ke kantor nya. Sungguh Darren adalah pria yang tidak pandai dalam hal menerka keadaan.
"Idih, lo ngga peka banget sih." Ujar Salma. Kali ini ia memberanikan diri menatap Darren.
__ADS_1
"Lah, gue harus gimana dong. Ngga peka apa?" Darren pura-pura tidak mengerti apa yang di maksud Salma.
"Udah ah, pulang aja. Ngga peka banget kamu soalnya," Salma berdiri dan hendak meninggalkan Darren.
Dengan sigap, Darren memegang tangan Salma. Ia dudukkan wanita itu di pangkuan nya. Tangan nya mendekap tubuh ramping Salma. "Gue cinta sama lo, ayo kita menikah! Jadilah, ibu dari anak-anak gue! Menghabiskan waktu bersama sampai menua bersama. Maaf untuk luka yang kemarin, akan aku tebus seumur hidup."
Mata Salma berkaca-kaca mendengar ucapan Darren. Beberapa menit kemudian ia mengangguk.
" Terima kasih, sayang, " Darren menempelkan keningnya dengan Salma.
" Udah, ngga usah nangis. Cengeng banget sih jadi wanita. Ntar tambah jelek lo kalau nangis. Sayang make-up nya luntur tuh," ibu jari Darren menyapu air mata yang menetes di pipi Salma.
" Kan karena lo gue nangis."
"Darren nyebelin."
"Nyebelin gini juga, lo tetap cinta kan?"
"Ngga."
"Iya,"
"Ngga."
__ADS_1
Cup... Darren mengecup bibir Salma. Hanya menempel saja, tidak ada gigitan atau ******* seperti yang dulu mereka lakukan bersama. Mata Salma terbuka lebar, ia kaget dengan apa yang di lakukan Darren.
"Hai, ngapain lo cium gue?" Protes Salma yang menjauhkan bibir nya.
"Kenapa?" Darren berbalik tanya.
"Ngga boleh!"
"Ngga boleh?" tanya Darren lagi.
Pria itu tidak menghiraukan Salma. Ia mendekatkan wajah nya lagi. Beberapa detik kemudian bibir nya menempel kembali ke bibir Salam. Kalau tadi hanya menempel, kali ini ia memagut benda kenyal itu bergantian antara atas dan bawah. Tak ada penolakan dari Salma. Justru wanita itu memejamkan mata menikmati ciuman Darren.
Dengan pelan Darren membaringkan Salma di atas sofa. Ciuman nya semakin lama semakin menuntut lebih. Kali ini Salma ikut membalas ciuman Darren.
"Pak, ini laporan yang bapak minta," Ucap seorang wanita yang tak lain adalah sekretaris Darren.
Sontak Darren menghentikan aksinya. Begitupun Salma ia langsung mendudukkan tubuhnya.
"Kenapa ngga ketuk pintu dulu!" Seru Darren.
"Maaf, sudah beberapa kali saya ketuk pintu pak. Ini, laporan nya pak. Saya permisi," wanita itu peninggalan map warna biru di atas meja kerja Darren lalu keluar ruangan saja.
"Kamu sih, duh malu aku." Ucap Salma.
__ADS_1
"Hampir saja kebablasan kalau ngga ada Ratih tadi," Darren menepuk jidat nya pelan.