
Jangan balas perasaan ku. Cukup biarkan aku berada di dekatmu saja. Rasa cinta ku tak harus kau balas. Karena itu bukan kewajiban mu.
" Hai, Tara apa kabar? Kau ke sini juga rupanya." Sapa seseorang pada Tara.
Sontak Tara dan Awan menoleh ke arah suara tersebut. Seorang wanita cantik memakai hijab sedang tersenyum manis ke arah Tara.
"Hai, apa kabar Aini? Lama ngga jumpa. Terakhir kali kita ketemu satu tahun yang lalu saat di Surabaya." Bukannya menjawab, Tara malah menanyakan balik keadaan wanita tersebut.
Dia adalah Aini teman Tara. Mereka kenal saat Tara masih tinggal di Surabaya. Aini kost di dekat panti asuhan tempat Tara di besarkan. Maka dari itu mereka akrab.
" Kau ini di tanya malah berbalik bertanya. Cie... pacar kami ya?" Goda Aini.
Tara tersipu malu saat Aini mengatakan Awan pacarnya. "Bukan, kita-" Tara tidak melanjutkan ucapannya.
"Kita pasangan mbak. Kenalkan saya, Awan." Saut Awan yang memotong ucapan Tara.
Tara membuatkan matanya atas apa yang di ucapkan Awan barusan. Ia mencubit pelan tangannya sendiri untuk memastikan bahwa apa yang ia dengar tidaklah mimpi. Tentu saja dia senang tapi, rasanya aneh kalau Awan tiba-tiba bilang mereka pasangan. Apakah Awan bercanda?
"Ah... sudah aku duga mas. Dari kejauhan tadi sudah kelihatan kalian romantis sekali. Aku melihat kalian dari tadi tapi, masih ragu mau menyapa Tara. Takut salah orang ntar di kiranya sok kenal kan aku malu." Ujar Aini.
Tara memandang Awan dengan dahi yang berkerut dalam. Seolah sedang mengisyaratkan pasangan apa maksudnya ini?
" Ayo, duduk bersama mbak!" Ajak Awan.
" Ngga usah mas, aku sama teman-teman di sana. Kalian nikmatilah makanya. Aku permisi dulu ya?" Pamit Aini.
__ADS_1
"Oh, iya minta nomor telepon kamu dong terakhir kali aku kirim pesan nomor kamu sudah ngga aktif Aini." Pinta Tara.
"Iya, sudah ngga aktif aku sejak putus dari Dio ngga pakai nomor itu lagi. Habisnya di teror terus sama dia. Maknanya aku juga pindah kerja ke sini." Aini menjelaskan kenapa nomor nya tak bisa di hubungi.
"Kok bisa putus kenapa? Kalian padahal pasangan yang serasi lo." Tara menyayangkan Aini putus dengan Dio.
"Dia selingkuh, jadi aku minta putus."
"Semoga nanti dapat pria yang lebih seribu kali lipat lebih baik dari pada Dio." Tara mendoakan kebaikan untuk Aini.
"Aamiin."
Setelah bertukar nomor telepon, Aini meninggalkan Tara dan Awan. Ia kembali ke tempat di mana teman-teman nya berada.
"Hustt! Bukan urusan kita. Dan yang terlihat baiknya kan? Kamu ngga pernah tahu buruknya. Apapun keputusan teman kamu, mungkin itu jalan terbaik untuk dirinya. Mending sakit sekarang dari pada sakit nanti saat sudah bersama." Ucap Awan dengan bijak.
Tara membenarkan perkataan Awan. Selama ini yang terlihat olehnya memang hanya baiknya. Bukankah seperti itu kalau seorang sedang menjalin hubungan? Dan akan tahu sifat dan sikap aslinya saat sudah berumah tangga.
" Oh, iya. Tadi kenapa mas bilang kita pasangan?" tanya Tara.
"Iya, kita pasangan mulai malam ini dan InsyaAllah seterusnya. Kau mau?"
"Apa? Ini acaranya nembak gitu ya? Ngga ada romantisnya ya ampun." Tara menepuk jidat pelan. Sungguh pria yang ada di hadapan nya saat ini kalau ngomong tanpa basa basi.
Awan tersenyum malu. Apa yang di katakan Tara benar. Tapi ia sungguh tak pandai merangkai kata. Ia tidak bisa menuliskan puisi cinta di atas kertas putih dengan tinta emas. Bahkan kata manis saja jarang terucap dari bibir nya. Karena Awan adalah pria yang lebih suka bertidak dari pada hanya berucap.
__ADS_1
"Kalau nembak pakai senjata kan? Aku pakai hati dan sebuah rasa. InsyaAllah rasaku tulus. Aku bukan pria yang pandai berucap kata manis. Aku tidak suka terlalu banyak bicara yang membuat dirimu berbunga-bunga. Aku tidak suka menyanjung dirimu secara berlebihan. Aku tidak suka berkata, aku suka bertindak." Jawab Awan.
Tara tersentuh dengan ucapan Awan. Iya pria tersebut tidak pernah berkata manis tapi hanya dengan tindakan. Dan itulah yang membuat hati Tara mencair. Bahkan sejak beberapa bulan lalu Tara selalu mengagumi sifat dan sikap Awan. Tapi, sebagai seorang wanita ia tidak bisa mengungkapkan kekagumannya tersebut.
"Maaf aku ngga bisa mas. Dan juga aku ngga percaya cinta dari manusia. Aku hanya percaya cinta dari-Nya" Tolak Tara dengan lembut karena ia takut menyinggung Awan.
"Dan rasa ini datang dari-Nya. Bahkan aku tahu kita berbeda tapi aku tak bisa mencegah rasa ini. Setiap malam mengusik tidurku. Mengganggu pikiran ku. Satu nama telah mengisi hati. Sudah aku tampik rasa itu, tapi tetap saja mengisi seluruh hati." Ungkap Awan tentang perasaan nya.
" Maaf apapun alasan mas Awan aku ngga bisa terima." Tara menundukkan kepala. Kali ini ia tidak bisa mencegah air matanya jatuh.
" Seperti nya hati kamu bilang iya. Tapi bibir sengaja berdusta bilang tidak. Kenapa harus membohongi diri sendiri. Jangan larut dalam kesakitan masa lalu. Jangan berpikir semua orang akan menyakitimu."
"Rasa percaya ku setipis tisu mas. Jadi, aku tidak berani melangkah terlalu jauh. Tidak di inginkan dari lahir, di buang, di abaikan. Sungguh itu semua membuat ku sakit. Dan aku tumbuh kuat seperti sekarang ini bukan karena rasa cinta. Tapi karena luka mas. Dan aku yang tidak layak untuk siapapun."
"Kau ini sudah menyerah sebelum berperang. Ku pikir kau itu baik kau pintar kau cantik dan kau layak untuk dicintai dan kau berhak bahagia." Awan masih berusaha meyakinkan Tara.
"Aku masih takut dan ku pikir aku masih butuh beberapa bukti yang bisa membuat diriku membalas perasaan mu mas."
"Jangan balas perasaanku. Cukup biarkan aku ada di dekatmu. Karena bukan kewajiban mu membalas perasaanku. Cinta itu adalah beberapa rasa. Bahagia, indah dan dahsyat tapi juga perih. Semua rasa itu aku siap merasakan nya."
Tara semakin terharu mendengar ucapan Awan. Ia tidak memaksa dan juga menerima apapun itu konsekuensi nya. Karena jatuh cinta. Kau harus siap jatuh bukan? Tara butuh waktu lebih untuk meyakinkan hatinya untuk menerima Awan.
"Tidak usah jawab lagi. Cukup pikirkan dan turuti kata hatimu! Karena ia tidak akan berbohong. Aku tidak akan memaksakan perasaan ku padamu. Setelah malam ini tidak akan ada yang berubah dari kita. Tetap baik dan juga pergi bersama seperti ini." Ucap Awan.
" Mas, aku... "
__ADS_1