
Tara menunggu Awan di depan sebuah masjid yang ada di daerah Kalideres. Ia baru saja selesai makan malam bersama Awan. Saat pria itu menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim, Tara menunggu dengan setiap menunggu di depan masjid.
Matanya terpejam sesaat, ia memikirkan bagaimana hubungan nya dengan Awan. Sampai sekarang Tara enggan menjawab Awan untuk menjadikannya kekasih walaupun sebenarnya di hati Tara sudah ada nama Awan.
"Kamu nungguin aku di sini dari tadi? Udaranya dingin, kenapa tidak nunggu di dalam mobi." Tanya Awan yang baru selesai melakukan sholat isya berjamaah.
Tara membuka matanya. Ia melihat Awan yang sudah duduk bersebelahan dengan dirinya. Lalu ia tersenyum. Entahlah ada perasan tenang saat ia bersama Awan sikap dan sifat yang perhatian serta kadang juga humoris mampu mencairkan hatinya yang beku.
"Ngga apa-apa. Udah selesai? Ayo, kita pulang!" Tara berdiri dan segera menuju ke mobil.
Awan mengikuti langkah Tara. Sejenak hatinya terasa nyeri, apakah jalannya sudah benar? Ia tahu kalau dirinya dan Tara beda keyakinan tapi masih saja ingin menjalin hubungan dengannya. Beberapa kali ia menepis rasa cinta nya tapi sungguh sangat sulit ia lakukan.
"Aku capek sekali. Kalau sampai kost aku mau langsung tidur aja lah." Tara berulang kali menguap menandakan kalau wanita itu sangat mengantuk.
"Iya, nanti langsung tidur saja."
Tidak butuh waktu lama mereka sudah sampai di daerah Cimone tempat kost mereka. Tara keluar dari mobil lebih dulu dan Awan memarkirkan mobilnya.
"Langsung tidur, jangan nonton atau baca buku sampai larut malam." Ujar Awan.
"Aku ngantuk sekali jadi pasti ngga begadang kok. Makasih untuk hari ini kawan baik," ucap Tara sambil tersenyum.
"Hanya kawan ya? Oke deh sama-sama someone spesial." Jawab Awan membalas senyum Tara.
Bukan nya senang, Tara justru terlihat murung. Dia juga mencintai pria yang ada di hadapan nya saat ini. Tapi ia tidak bisa menerima cintanya. Bukan karena luka masa lalu nya masih ada. Tapi, karena mereka berbeda keyakinan. Satu sisi ia menampik rasa suka nya. Satu sisi ia ingin bahagia bersama Awan. Apakah itu mungkin?
Awan yang menyadari kalau Tara murung lalu mengalihkan pembicaraan. Ia tidak mau memaksa Tara karena dia tahu prinsip wanita itu sangat lah kuat.
__ADS_1
"Aku bulan depan mau pulang kampung. Mungkin sekitar satu minggu aku di sana. Ingat, ntar jangan rindu ya? Kata bang Dilan rindu berat." Celetuk Awan.
"Emang siapa yang mau rindu? Pede sekali kau mas."
"Ya kali aja kamu kangen. Kalau ngga kangen ya nasib ku orang ganteng gini ngga di kangenin," jawab Awan pura-pura memasang wajah sedih.
"Udah ah, mau masuk dulu. Gerah nih mau mandi terus tidur." Tara langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa menunggu balasan dari Awan.
Melihat tingkah Tara uang seperti itu Awan hanya tersenyum. Wanita yang awal ia kenal terlihat arogan tapi nyatanya malah menunjukkan sisi rapuhnya. Ingin rasanya ia mengajak Tara untuk pulang ke kampung halaman nya untuk di kenalkan kepada orang tuanya. Tapi tidak semudah itu. Pasti orang tuanya akan menolak hubungan nya dengan Tara. Dari awal pun ia tahu pasti akan berat menjalani hubungan kedepannya. Tapi bukankah rasa cinta tidak bisa ia cegah?
...----------------...
Aini sudah sampai di kampung halaman nya yang ada di Salatiga. Ia pulang naik pesawat yang memakan waktu kurang lebih satu jam. Lalu dari Semarang ia menggunakan taksi menuju Salatiga.
"Alhamdulillah semua persiapannya sudah selesai. Bismillah acara besok semoga di lancarkan." Ucap Ibu Aini.
"Setelah ini kamu yang nikah ya? Ibu dan Bapak akan tenang nduk kalau kamu sudah ada yang jaga nanti." Ibu Aini berharap anak bungsu nya itu segera melepas masa lajangnya.
Bukan tanpa alasan sang ibu ingin Aini segera menikah. Karena usia Aini yang sudah cukup matang untuk membina rumah tangga ia ingin Aini juga segera mendapatkan jodoh.
" Calon nya aja ngga ada bu. Masa iya Aini nikah sama tiang listrik." Aini menjawab pertanyaan sang Ibu dengan candaan.
Sontak seisi ruangan tersebut tertawa mendengar jawaban Aini. Karena nasibnya yang cantik tapi masih jomblo di suruh nikah jadi ia berpikiran apakah dia harus nikah dengan tiang listrik?
" Punya anak gini nurun dari siapa ya? Umi perasaan ngga selengekkan gini. Tapi kenapa Aini jadi gini ya, Abah?" tanya Umi kepada sang suami karena heran melihat sifat anak bungsu nya yang usil.
"Dia mirip Umi lah, emang mirip siapa lagi? Mungkin umi udah lupa kalau dulu pernah usil juga. Kan umi sudah tua, jadi abah maklum saja kalau umi ngga ingat." Jawab Abah yang ikut mengejek istrinya.
__ADS_1
"Tuh kan kalian kalau lagi kumpul kompak umi yang di serang terus. Awas aja besok umi ngga mau masakin makanan buat kalian." Ancam sang Umi.
"Oke, ngga takut lah. Aini kan besok makan di acara nikahan kakak. Bebas dong umi ngga masak juga Aini ngga rugi."
Apa yang dikatakan Aini benar. Besok acara nikahan kakaknya akan ada beberapa menu makanan yang di hidangkan. Tentu saja mereka bisa makan walaupun umi tidak masak.
" Oh iya, Umi lupa," Umi Aini menepuk pelan jidatnya. Sesaat ia lupa kalau besok ada pesta pernikahan kakak Aini.
"Akhirnya umi membenarkan perkataan abah yang bilang umi sudah tua," Abah Sontak tertawa sambil memegang perutnya yang sedikit kaku karena sering tertawa dari tadi.
"Tos yuk kita, Abah." Celetuk Aini.
"Kalian kompak sekali kalau bully Umi ya? Walaupun udah tua tapi masih cantik dan langsing lo. Ngga lihat apa Umi secantik ini." Ucap Umi memuji dirinya sendiri.
Aini memutar bola matanya malas. Pasti setelah ini akan melihat betapa cerewet umi nya dan berdebat pun tidak mau di kalahkan. Keluarga Aini sangat lah harmonis. Umi yang sedikit cerewet tapi baik hati dan juga Abah yang tegas tapi juga sangat humoris.
"Aini ikut abah sebentar ke taman belakang yuk! Ada yang mau abah bicarakan dengan kamu dan ini penting." Ucap Abah tiba-tiba dengan serius.
Dan beberapa orang di ruangan itu pun seketika terdiam. Kalau abah ingin bicara empat mata artinya itu hal penting.
Aini yang masih bingung dengan apa yang ingin di bicarakan abah ia hanya mengangguk. Lalu mereka berjalan beriringan menuju ke taman belakang.
"Sini, duduk lah!" pinta Abah.
Aini patuh lalu duduk di depan sang abah.
"Iya abah. Ngomong-ngomong ada masalah apa sehingga abah ingin bicara empat mata dengan Aini?" tanyanya pada sang Abah.
__ADS_1
"Abah boleh minta satu hal sama kamu?" tanya Abah.