Antara Cinta Dan Cinta

Antara Cinta Dan Cinta
Benci dan cinta itu, beda tipis.


__ADS_3

Ya, siapa tahu pak bos khilaf ngasih gue gaji lebih gitu."


"Siapa yang mau ngasih gaji lebih?" tanya seseorang yang baru saja masuk ke ruangan tersebut.


Sontak Tara diam, dan tidak berani melanjutkan perkataannya. Ia segera kembali duduk di kursi kerjanya.


"Siapa yang khilaf Tara?" tanya Pak Malvin yang berjalan mendekat ke arah Tara.


"Bapak lah, siapa lagi. Masa iya bos sebelah yang khilaf." Jawab Tara.


"Yang ada gaji kamu bapak potong karena banyak protes. Sudah, besok pergi bersama Awan ke proyek langsung!" Perintah Pak Malvin.


"Ini gara-gara nasi uduk sebungkus belum gue ganti jadinya gini. Udah setiap pagi ketemu sekarang kerja bareng. Yang ada gue bosan ntar." Keluh Tara.


"Kalau lo suka gimana? Bukankah cinta itu karena terbiasa?" Celetuk Salma.


"Ngga lah, kalau dia ngeselin yang ada gue benci ntar Salma. Lo tahu kan gue gimana."


"Benci dan cinta itu beda tipis lo. Gue sih mau aja sama Abang Awan udah ganteng sopan lagi." Salma berucap sambil membayangkan wajah tampan Awan.


"Ngga akan pokoknya, ngga." Tara tetap kekeh dengan prinsipnya. Kalau dia ngga akan suka dengan Awan.


"Kita lihat aja ntar. Benci itu beda tipis sama cinta lo." Goda Salma lagi.


Malvin dan Anton hanya diam menyaksikan perdebatan dua sahabat tersebut. Sudah hal biasa seperti ini terjadi di ruang rapat ataupun saat mereka sedang makan siang santai bersama. Maka dari itu rekan kerja mereka tidak kaget.


Keesokan harinya...


Awan sudah siap dengan kemeja putih dan celana jeans warna biru navy. Hari ini ia janjian dengan Tara untuk pergi ke proyek. Tak lupa mengenakan sepatu lalu ia mengeluarkan motor miliknya.


"Kok belum keluar juga. Ini udah setengah delapan padahal," Awan berkali-kali melihat jam di tangan kirinya.


Sudah hampir sepuluh menit ia menunggu Tara. Tapi yang di tunggu tak kunjung muncul. Awan adalah pria yang disiplin bahkan ia belum pernah terlambat pergi ke kantor. Ingin rasanya ia mengetuk kamar kost Tara, tapi karena rasa sungkan nya, ia urung kan hal itu.

__ADS_1


"Maaf mas, udah lama nunggu ya? Sorry gue kecapean jadi telat bangun," ucap Tara yang berjalan sambil memakai jaket.


Awan yang melihat Tara berjalan dengan terburu-buru sambil menentang tas helem berinisiatif untuk mengambil alih helem tersebut.


"Sini helem nya! Benerin dulu jaket nya. Aku tunggu sampai benar-benar siap."


Bukannya segera bergegas memakai jaket Tara malah memandang Awan tanpa berkedip.


"Halo, mba Tara. Mau di pakai kan itu jaket nya?" tanya Awan sambil melambaikan tangan kanannya ke depan wajah Tara.


"Eh, em... ngga lah." Jawab Tara sedikit gugup.


Dengan cepat Tara memakai jaket lalu bergegas naik ke atas motor Awan.


"Mbak turun dulu!" Perintah Awan.


"Eh, kenapa haru turun?" Tanya Tara yang merasa heran atas perintah Awan.


Tapi tanpa bertanya lagi, Tara turun dari motor Awan.


Bak manikin, bukannya mengucapkan terima kasih Tara justru diam tanpa berucap sepatah kata pun. Rasa gugup dan debaran jantung yang berdecak makin kencang membuat Tara diam.


"Sudah, boleh naik ayo mba kita berangkat!" Ajak Awan.


"I- iya mas." Jawab Tara.


Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit mereka sampai di lokasi.


"Turun mbak! Kita sudah sampai," ucap Awan sambil mematikan mesin kendaraannya.


Tara segera turun, melepas helem dan merapikan rambut nya yang sedikit berantakan karena tertiup angin.


"Banyak rumah yang belum di huni pemiliknya ya, mas. Udah nyicil di bank beberapa bulan masih di biarkan terbengkalai. Sayang banget lah kalau gini." Tara memandang beberapa rumah yang kosong belum di huni. Ia menyayangkan hal tersebut.

__ADS_1


"Iya kalau nyicil, kalau belinya cash hayo. Mungkin sebagian dari mereka membeli rumah untuk investasi. Atau mungkin belum ingin pindah karena daerah sini masih sepi."


"Iya juga sih, orang kaya mah bebas ya mas." Celetuk Tara.


"Kamu kalau mau bisa beli juga kok. Bukan masalah kalau atau ngga. Yang penting kemauannya. Beberapa orang yang baru menikah dari pada ikut orang tua memilih cari perumahan."


"Aku ngga mau beli. Suatu saat aku mau pulang ke Surabaya. Ingin hidup bersama adik-adik panti. Cari kerja di sana dan bisa merawat adik-adik di panti. Ini sih, cari uang dulu yang banyak."


"Kamu yatim piatu mbak?" tanya Awan . Pria itu sedikit terkejut dengan penuturan Tara. Karena yang ia tahu Tara hanya anak rantau seperti dirinya.


"Iya mas, di buang di panti asuhan," jawab Tara sambil menutup mata dan menengadahkan pandangan nya ke atas.


Angin pagi ini cukup kencang. Tara masih menutup mata sambil menikmati sentuhan sang bayu. Rasanya sungguh sejuk dan menenangkan.


Awan hanya menatap Tara tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Wanita yang terlihat kuat namun rapuh di dalamnya. Itulah yang di lihat Awan. Kuat nya karena luka bukan karena cinta. Dan rasa percaya nya terhadap seseorang setipis tisu. Ketakutan memulai hubungan juga satu hal yang mengganggu Tara. Takut di tinggalkan takut di hina dan merasa tidak layak untuk siapapun.


***


Di kantor tempat kerja Tara.


"Gue dari tadi kirim pesan ke Tara belum di balas juga." Keluh Salma. Ia melihat ponsel nya berkali-kali karena menunggu balasan pesan dari sahabatnya.


"Mungkin sedang di jalan." Ucap Anton.


"Udah jam berapa ini masa iya dari tadi di jalan terus. Gue khawatir, mana dia pergi sama tuh Abang nasi uduk."


"Abang nasi uduk? Maksud lo, Awan? Kok bisa jadi Abang nasi uduk?" tanya Anton penasaran. Ia segera menutup laptop yang ada di hadapannya dan ingin mendengar informasi yang lebih jelas tentang Awan.


"Iya, dia pernah beliin gue sama Tara nasi uduk. Ya, gue panggil Abang nasi uduk aja lah. Lagian gue lupa namanya siapa. Gue panggil seinget gue aja lah." Ucap Salma asal.


Setelah beberapa hari bersedih soal kabar pertunangan mantan kekasih nya. Kini Salma sudah ikhlas dan ia kembali ceria seperti dulu. Akhir pekannya juga tidak lagi ia habiskan di klub malam. Ia sudah sadar tidak ada yang hilang dari dirinya. Kalau pun itu ada penyesalan bukan berarti Salma harus berlarut-larut dalam kesedihan tersebut. Mulai membuka lembaran baru dengan menjadi pribadi yang baik dan bermanfaat untuk orang sekitar yang di sayang. Itulah tekad Salma sekarang. Berkat support dari Tara ia bangkit menjadi pribadi yang ceria seperti dulu.


"Tara sama Awan sering ketemu ya?" Tanya Anton. Ia mulai ingin tahu tentang sosok Awan.

__ADS_1


"Em, kasih tahu ngga ya? Gue rasa mungkin iya sih secara kost nya berhadapan gitu. Oh, iya gue baru ingat beberapa hari yang lalu ada kejadian lucu di kost Tara. Mau tahu, ngga kejadian apa?"


"Emang kejadian apa sih?" Anton semakin di buat penasaran oleh Salma.


__ADS_2