Antara Cinta Dan Cinta

Antara Cinta Dan Cinta
Bohong kalau aku tidak cemburu.


__ADS_3

Kalau pria itu lebih baik, bisa jaga Tara. Gue akan relakan Tara buat dia. Karena cinta itu tidak harus aku dan dia jadi kita. Karena tidak semua cinta di dunia ini bisa bersatu dalam ikatan suci pernikahan. Dan gue bisa nerima apapun kemungkinan yang terjadi." Jawab Anton dengan bijak.


Salma menatap Anton kagum. Teman sekantor nya ini tidak hanya memiliki paras yang tampan, tapi juga hati yang baik. Tidak habis pikir dengan apa yang di nilai Tara dari Anton sehingga tak mampu menggetarkan hatinya. Tapi sekali lagi Salma tidak bisa ikut campur dalam masalah pribadi sahabatnya.


"Wah, gue salut sama lo kang siomay. Ngga banyak orang yang bisa nerima lo. Biasanya kan kalau cinta di tolak dukun yang bertindak. Lah, ini malah pasrah nerima keadaan."


"Udah, kalian bikin aku pusing aja. Jangan bahas hal yang ngga penting." Saut Tara.


"Yang ngga penting itu lo, karena gue bahas lo Tara. Kalau gue nih, ya pasti udah mau lah sama kang siomay." Salma mengedipkan satu matanya ke arah Anton.


Tanpa mau berdebat lagi dengan makhluk yang selalu menganggap dirinya benar Anton kembali duduk. Tara juga sudah siap dengan berkas-berkas yang berisi laporan penjualan selama tiga bulan terakhir.


Pintu ruangan terbuka. Dengan langkah pelan Awan masuk ke ruangan dan tak lupa melemparkan senyum khas yang memperlihatkan lesung pipi.


"Selamat pagi semua." Sapa Awan.


"Pagi pak." Jawab mereka serempak.


Semua bengong, bukankah yang datang manager perwakilan dari perusahaan yang kerja sama dengan mereka. Tapi kenapa Awan? Bukankah terakhir kali ia masih menjabat sebagai supervisor? Semua yang ada di ruangan tersebut saling pandang satu sama lain. Termasuk Tara yang bingung kenapa bisa Awan yang datang. Apa jangan-jangan dia adalah manager baru?


"Pagi pak. Sudah lama menunggu? Maaf saya terlambat?" Sapa Pak Malvin yang baru masuk ke ruangan. Merasa tak enak karena Awan sampai lebih dulu


"Baru saja tiba pak."


"Bapak datang sendiri? Damar ngga ikut pak?" tanya Pak Malvin lagi.


"Nanti dia menyusul pak."


"Oh, begitu baiklah. Ayo, kita mulai rapat nya."


Tidak lama kemudian Damar datang. Sekitar satu jam mereka rapat membicarakan kerjasama antar dua perusahaan.

__ADS_1


Keesokan harinya...


"Mas Awan kenapa ngga bilang kemarin kalau ternyata tamu dari kantor kami adalah mas. Kan aku bisa santai ngga usah lari-lari kayak kemarin." Protes Tara. Ia merasa tidak terima karena menurut nya Awan sedang mengerjai dirinya.


"Buat apa bilang?" Bukannya menjawab, Awan malah sengaja bertanya balik.


"Ya, harusnya bilang lah. Kamu ngga kasian lihat aku lari-lari kayak gitu kemarin."


"Lagian kamu ngga tanya juga kemarin kan?"


Tara dengan gemas meremas spon yang ia gunakan untuk mencuci motor miliknya. Kalau saja suasana kos tidak ramai Tara akan melempar ember yang berisi air cucian motor kepada Awan. Mereka ada di samping kost tempat biasa mencuci motor. Kost mereka berhadapan antara kos putra dan kost putri. Pemiliknya masih saudara jadi ada beberapa fasilitas dari kost tersebut yang bisa di gunakan bersama.


"Udah ngga usah senang gitu. Aku kan sengaja kasih kamu surprise. Lagian lari pagi itu menyehatkan." Tawa Awan pecah saat mengingat Tara yang lari dengan cepat agar tidak terlambat.


"Dih, ada ya orang kayak mas gini."


"Adalah, la aku ini buktinya."


"Sorry, mas. Gue sengaja emang." Ucap Tara yang tanpa dosa lalu berlari meninggalkan Awan yang masih sibuk membersihkan busa yang menempel di wajahnya.


Waktu pun berlalu, hari berganti minggu begitupun dengan bulan. Hubungan Awan dan Tara semakin dekat. Mereka sering pergi makan bersama dan juga sering berbagi ide tentang pekerjaan. Dan malam ini mereka janjian akan pergi ke festival food.


Malam harinya.


Ada berbagai jajanan dari berbagai daerah yang di jual di festival food tersebut. Dengan langkah pelan Tara dan Awan berjalan di kerumunan orang-orang yang juga sedang mencari menu makanan yang ingin mereka makan.


"Aku mau itu lah kayaknya enak. Ke sana yuk mas?" ajak Tara dengan menunjuk salah satu stand makanan yang menjual menu seafood.


"Ayo." Jawab Awan.


"Ramai sekali antri dulu kita." Ucap Tara saat sudah sampai di stand seafood tersebut.

__ADS_1


"Kamu duduk saja, biar aku yang antri."


"Oke. Kaki ku juga sudah pegal dari tadi jalan lama banget."


Tara akhirnya memilih duduk dan menunggu Awan yang sedang antri makanan. Ia mengambil ponsel yang ada di dalam tas kecil miliknya. Dengan cepat ia mengambil potret Awan yang sedang mengantri makanan. Lalu memposting foto tersebut di media sosial nya. Dengan caption Aku menunggumu.


Di lain tempat.


Anton yang baru selesai fitnes ia istirahat bermain game online di ponsel miliknya. Saat ada notif dari akun Tara ia menghentikan game nya. Sedetik kemudian ia menghela napas panjang.


"Menunggumu? Apa maksudnya Tara menulis kalimat seperti ini? Dan ini ada foto Awan. Apa mereka benar jadian?" ucap Anton pada dirinya sendiri. Dengan tidak sengaja ia mencengkram erat handuk yang ia gunakan untuk membasuh keringat nya.


Rasanya bohong kalau Anton bilang ia tidak cemburu. Karena hampir satu tahun ia mendekati Tara tapi tak juga membuat hati wanita itu tergerak. Tapi, Awan yang baru beberapa bulan mengenalnya bisa seperti ini. Apakah Anton kurang baik? Atau kurang perhatian? Rasanya usaha Anton juga sudah maksimal tapi ya, sekali lagi hati tidak bisa di paksa.


Buka perihal mana yang datang dan kenal lebih dulu. Tapi ini soal hati yang merasa nyaman. Lama mengenal tidak akan jadi jaminan kau jadi pemenang. Dan singkat bukan berarti tidak bisa memikat. Karena ini masalah hati dan sebuah rasa nyaman. Tara sepertinya menemukan rasa nyaman itu saat bersama dengan Awan.


"Ini, makanlah!" Awan menyerahkan dua porsi seafood bakar yang berisi cumi, udang, dan aneka bakso ikan.


"Wah kelihatannya enak. Ayo, kita makan mas."


"Aku beli minum dulu, mau yang hangat atau dingin?" tanya Awan.


"Hangat aja mas."


Awan menuju ke stand minuman yang menjual teh hangat. Ia memesan dua untuk dirinya dan Tara.


"Nah, kalau gini kan udah lengkap. Ayo kita makan!"


Tak lupa sebelum makan mereka berdoa. Dua orang yang sebenarnya saling cinta tapi belum sadar akan perasan mereka. Awan menengadahkan tangan di ke atas. Dan Tara melipat kedua tangan. Setelah selesai mereka menyantap makanan tersebut dengan lahap.


" Hai, Tara apa kabar? Kau ke sini juga rupanya." Sapa seseorang pada Tara.

__ADS_1


__ADS_2