Antara Cinta Dan Cinta

Antara Cinta Dan Cinta
Rasa sayang muncul karena terbiasa.


__ADS_3

Saat datang tidak di minta, rasanya awalnya bahagia tapi tidak jarang pula bercampur kesedihan di dalamnya. Satu rasa yang bisa mengubah segalanya. Yaitu cinta.


"Kan namanya menghormati mbak. Kecuali saya sudah kenal dekat panggil mas atau bahkan panggil nama juga ngga apa-apa. Namanya saja saya lupa kalau mbak Tara ngga ingetin."


"Iya, juga ya. Yasudah besok berteman saja biar akrab." Ujar Tara.


'"InsyaAllah mbak." Jawab Awan.


"Udah reda hujannya mbak, ayo kita pulang!" Ajak Awan.


Tara segera bangkit dari duduknya. Ia menghampiri Awan yang sedang menyalakan mesin motornya.


"Pakai jaket mbak! Udaranya dingin. Jangan sampai mbak sakit." Ujar Awan


"Hem, iya."


Awan menjalankan motornya dengan pelan. Karena ini jam macet jadi susah untuk mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Saat sampai di daerah Kali Deres Awan menepikan kendaraan. Ia berhenti di sebuah warung makan khas Lamongan langganan nya.


" Lo mas kenapa berhenti di sini?" tanya Tara. Ia merasa heran karena tiba-tiba Awan berhenti di sebuah warung makan.


"Kita makan di sini dulu mbak. Saya juga sudah lapar. Ayo, masuk! Di sini langganan saya, enak masakannya mbak." Jawab Awan serta mengajak Tara untuk masuk ke dalam warung makan tersebut.


Awan berjalan lebih dulu dan memilih tempat duduk. Dan Tara tepat di belakang mengikuti Awan.


" Mau pesan apa mbak?" tanya Awan sambil menulis menu pesanan miliknya.


" Bebek saja mas sama terong mas."


"Oke mbak." Awan menuliskan menu yang di pesan Tara. Lalu menyerahkan menu pesanan mereka kepada pramusaji yang sudah menunggu.


"Di tunggu sebentar ya, mas." Ucap pramusaji tersebut.


"Iya mas." Jawab Awan sambil tersenyum.


Sambil menunggu pesanan datang Tara sibuk dengan benda pipih miliknya begitupun dengan Awan. Tak ada yang memulai percakapan di antara mereka.

__ADS_1


Setelah kurang lebih sekitar sepuluh menit pesanan mereka datang. Dua porsi bebek dan terong goreng lengkap dengan lalapan dan sambal tomat. Tidak lupa dengan nasi uduk yang gurih kesukaan mereka.


"Mas Awan suka nasi gurih juga? Selera kita sama mas." Celetuk Tara.


"Iya mbak kalau ngga suka ngga mungkin langganan nasi uduk Bu Susi mbak. Bahkan hampir setiap hari saya sarapan nasi uduk mbak."


"Ngga bosan mas hampir setiap hari makan nasi uduk?" Tara merasa ragu akan penuturan Awan.


"Ngga mbak karena saya -" Awan tidak jadi melanjutkan perkataan karena ada seorang pramusaji yang datang membawa pesanan mereka.


"Permisi mas, pesanan nya." Ucap Pramusaji yang baru datang.


"Makasih." Ucap Awan dan Tera bersamaan.


Setelah mencuci tangan mereka berdua menikmati makanan khas Lamongan tersebut. Tara juga tidak terlihat canggung saat bersama Awan. Mungkin karena mereka sudah bertetangga lama walaupun sebenarnya belum akrab. Jarang mengobrol tapi saat pagi ataupun sore hari mereka saling bertegur sapa saat keduanya sedang berpapasan.


"Mbak Tara asli mana?" tanya Awan memecah keheningan di antara mereka.


"Asli Surabaya, kalau kamu asli mana Jawanya Mas?" Jawab Tara dan juga berbalik tanya kepada Awan.


"Iya mas, aku aja juga kelihatan kalau orang Jawa medok soalnya. Banyak teman yang langsung tahu saat berbicara dengan saya. Pasti tanya, Tara asli mana." Tara tersenyum mengingat saat orang yang baru saja mengenal dia langsung tahu kalau dia orang Jawa karena khas nya saat bicara yang medok.


***


Setelah beberapa minggu mereka terlibat pekerjaan yang sama. Tara dan Awan semakin dekat tak jarang juga mereka sering makan bersama. Awalnya yang hanya sebatas tetangga dan rekan kerja sekarang keduanya saling bertukar kabar melalui pesan singkat.


Di kost Tara sedang nonton film terbaru bersama Salma. Hal ini sudah biasa mereka lakukan saat akhir pekan. Saling mewarnai kuku masing-masing juga menjadi kegiatan mereka saat libur. Biasanya Merry juga ikut kegiatan mereka tapi karena ia harus ke Bandung bersama orang tuanya jadi tidak bisa ikut.


"Lo sekarang deket sama Abang nasi uduk ya? Awas lo ntar jatuh cinta. Emang mau lo keamanain Anton," tanya Salma yang sedang mewarnai kukunya.


Tara yang sedang fokus pada layar tv pun mengalihkan pandangan ke arah Salma.


"Iya dekat karena pekerjaan saja. Kalau Anton kan kita memang sahabat." Jawab Tara. Ia masih belum sadar akan perasaan nya kepada Awan.


Sering berbagi cerita dan pergi bersama entah itu pekerjaan ataupun hanya sekedar makan di luar bersama karena kebetulan mereka tetangga. Tara selalu tersenyum saat membalas pesan dari Awan tapi, ia belum sadar akan perasaannya.

__ADS_1


"Termasuk sering makan bersama mengunggah kebersamaan kalian di media sosial instagram dan saling tag apakah itu pantas di sebut teman biasa? Kurasa Abang nasi uduk suka sama lo deh. Dan lo juga belum sadar perasaan lo sendiri." Jelas Salma.


"Sok tahu kamu deh." Tara menampik kesimpulan Salma yang mengatakan tentang perasaan nya pada Awan.


"Kan gue sok tempe bukan sok tahu. Oke, kita lihat saja nanti. Gue buktikan omongan gue benar."


Tara mengangkat kedua bahunya. Ia masih yakin kalau tidak akan mungkin dirinya suka dengan Awan. Bahkan Anton saja yang jelas sangat perhatian dengan nya saja tidak mampu menyentuh hati Tara. Apalagi Awan yang baru beberapa bulan dekat rasanya sungguh tidak mungkin bagi seorang Tara.


"Rasa itu datang kapanpun dan tidak akan bisa lo cegah. Jadi, jangan terlalu dalam kau hanyut pada rasamu itu. Karena kalian berbeda." Salma memperingati sahabatnya untuk tidak memiliki perasaan lebih kepada Awan.


Deg...


Tiba-tiba Tara terdiam atas ucapan Salma. Iya, sahabat nya benar mereka berbeda. Tapi, kenapa Tara takut akan apa yang terjadi di masa depan. Bukankah ia tidak memiliki perasaan? Atau dia belum sadar akan perasaan nya tersebut?


"Iya gue ngga akan lupa hal itu kalau gue dan dia berbeda." Jawab Tara dengan sendu.


Salma melihat perubahan ekspresi Tara. Tebakan nya benar, sahabatnya tersebut sudah memiliki perasaan lebih dari seorang teman kepada Awan. Karena sikap dan sifat Awan yang baik mampu mencairkan hati Tara.


"Turuti apa kata hatimu. Gue lihat Abang nasi uduk juga suka sama lo."


"Gue masih belum percaya cinta Salma. Oh iya, lo kenapa manggil dia Abang nasi uduk?" Tara merasa heran kenapa sahabatnya tersebut memanggil Awan seperti itu.


"Karena dia yang kasih kita gratisan nasi uduk." Jawab Salma sambil tersenyum.


"Dasar miss usil, ngga ada hubungan nya itu. Ganteng gitu di panggil abang nasi uduk astaga. Ganti panggilan lo ke dia jangan gitu lagi." Protes Tara.


"Ngga mau, suka-suka gue. Kan udah syukuran juga jadi sah saja dong manggil dia gitu."


"Astaga ini punya temen gesrek banget gini sih. Semua orang di ganti namanya gitu aja." Tara memukul pelan dahinya.


Tara berhambur memeluk sambil menggelitik Salma. Ia merasa gemas sekaligus senang dengan tingkah sahabat. Salma yang dulu sudah kembali lagi. Miss usil yang ceria sudah kembali dan Tara turut bahagia akan hal itu. Saat tawa mereka menggema di setiap sudut kamar Tara tiba-tiba ketukan dari luar menghentikan tawa mereka.


Tok...tok...


"Eh, udah geli gue. Itu siapa yang ketuk pintu? Buka dulu sana!" Perintah Salma.

__ADS_1


__ADS_2