
Kalian ini, ribut aja. Apakah, begini yang namanya bahagia mempunyai keluarga?" Tanya seorang wanita yang tadi menunggu persalinan di depan ruangan.
"Iya, makanya kau segera lah menikah! Kau bisa berbagi Keluh kesah mu dengan suami." Ucap Aini.
Wanita itu tersenyum, lalu ia menggelengkan kepala. Menurut nya sebuah pernikahan tidak se simpel yang orang pikir. Bagi dia, cinta itu rumit seperti rumus matematika. Apalagi berkomitmen adalah hal yang tak mungkin ia lakukan untuk saat ini. Alasan nya adalah trauma masa kecil. Kegagalan orang tua, kekerasan yang di alami sang mama dan perselingkuhan yang di lakukan sang papa.
"Dek, udah yuk kita masuk!" Ajak Hafis.
Ia sengaja mengalihkan pembicaraan agar sang istri tak membahas tentang pernikahan yang menurut Aini indah. Bukan kah, beda manusia beda pemahaman arti sebuah pernikahan? Ada sebagian orang bilang menikah indah karena mereka memilih menemukan pria yang tepat. Ada sebagian enggan menikah seperti Merry yang punya trauma dan luka dari pernikahan kedua orang tuanya. Ada lagi yang menikah tapi harus berpisah, karena ada beberapa hal menjadi masalah.
Iya, wanita yang menunggu di depan itu adalah Merry. Yang dari awal selalu bilang ngga akan jatuh cinta dan tidak ingin menikah. Bukan karena dia jelek atau tak ada pria yang tertarik padanya. Tapi, karena ia tidak percaya seorang pria.
"Merry, kita masuk dulu, ya!" Hafis menggandeng tangan Aini dan masuk ke dalam ruangan Salma.
Wanita yang telah melahirkan bayi laki-laki itu adalah Salma. Jarak pernikahan nya dan Aini hanya terpaut beberapa bulan, tapi Salma melahirkan lebih dulu dari Aini. Keduanya sama-sama menanti buat hati kurang lebih hampir dua tahun.
"Iya, silahkan masuk duluan. Aku nunggu Tara sama tunangan nya." Jawab Merry.
"Oke," Hafis dan Aini masuk ke dalam ruangan Salma.
Bayi laki-laki yang lucu serta kulitnya yang putih sedang tertidur lelap di pangkuan sang papa.
__ADS_1
"Wah, selamat ya, bro!" Seru Hafis menjabat tangan Darren.
"Makasih bro. Sebentar lagi, lo juga akan jadi papa bro."
"Iya, akhir bulan depan perkiraan dokter lahir nya."
"Itu aja, bro sering-sering di kunjungi aja. Ntar proses nya lancar kayak istri gue." Darren memberikan tips pada Hafis.
"Iya, bro udah di sarankan sama dokter. Pokok nya siap lah, sebelum ntar puasa empat puluh hari."
"Kalian ini ya, mau enak nya aja." Saut Salma.
"Sama-sama enak sayang." Ujar Darren.
"Jurusan apa dek?" tanya Hafis semakin menggoda sang istri.
"Udah, ini rumah sakit jangan mulai deh."
"Iya maaf dek,"
"Hafis juga takut istri ya?" tanya Salma. Ia tertawa melihat ekspresi wajah Hafis yang takut-takut pada Aini.
__ADS_1
"Ngga lah," bantah Hafis.
"Iya, in aja lah, mana ada ngaku dia." Celetuk Aini.
"Ngga apa-apa bro, gue juga takut sama Salma. Takut dia ninggalin gue, takut dia ngga bahagia takut kalau dia sedih takut dia susah. Pokoknya gue takut." Ucap Darren, menyela obrolan istri dan kedua sahabatnya.
Hafis sejak satu tahun lalu ia pindah ke Jakarta karena pekerjaan nya menuntut ia dan sang istri untuk menetap di ibu kota Indonesia tersebut. Menjadi lebih dekat dengan Salma, Darren, Anton dan Merry.
"Tara belum datang ya?" tanya Salma.
"Belum, katanya tadi macet di jalan. Tahu sendiri lah, gimana ibu kota." Jawab Aini.
"Dia sendiri kah?"tanya Salma lagi.
" Sama tunangan nya dong. " Jawab Aini.
" Iya, juga ya Tara sudah tunangan, jadi kemana-mana mereka bersama deh. Oh, iya nikah nya kapan ya?" tanya Darren.
" Sekitar tiga bulan lagi, mereka nikah. Doain aja semoga semua nya di lancarkan Allah, aamiin." Jawab Salma.
" Wah sekarang pada sold out dong." Celetuk Hafis.
__ADS_1
" Iya, ya." Ucap Darren, Salma dan Aini bersamaan.