
Aku nyaman kita seperti ini hanya sahabat, iya tidak lebih. Aku dan kamu ku pikir tidak akan bisa jadi kita. Bukan rasa cintamu yang kurang, tapi aku yang tidak bisa merasakannya.
- ***Tara***-
Pintu ruang rapat di buka perlahan oleh seseorang dari luar. Seketika menghentikan perdebatan antara mereka. Dua orang pria dan satu perempuan berjalan masuk ke ruangan.
"Eh, kamu kerja disini?" tanya seorang pria sambil menunjuk Tara.
"Iya, kok bisa lo ada di sini sih." Jawab Tara spontan. Sedetik kemudian ia menutup mulutnya.
Pandangan Tara tertuju kepada seorang pria paruh baya yang sedang memandang dirinya dengan tatapan tajam. Dia adalah Pak Malvin manager pemasaran tempat Tara bekerja.
" Ehem, noslatgia nya nanti saja. Sekarang waktunya rapat." Saut pak Malvin.
Tara segera mengubah posisi duduknya. Sedangkan Awan segera duduk di samping perempuan yang tadi bersama dirinya. Dia adalah Merry sekretaris dan juga keponakan Pak Malvin. Perusahaan tempat Tara bekerja di kelola keluarga, manager serta supervisor masih saudara dengan pemilik perusahaan.
Merry yang melihat nyali Tara menciut hanya tersenyum sambil menjulurkan lidahnya kearah Tara. Ia juga salah satu teman dekat Tara di kantor. Walaupun ia keponakan dari pak Malvin tapi Merry selalu bekerja dengan profesional. Itulah yang di sukai Tara di perusahaan tempat ia bekerja, tidak ada pilih kasih semua harus disiplin dan anggota keluarga dari pemilik perusahaan tersebut pun juga di ikut aturan.
"Awas nanti kalau sudah selesai rapat. Ku hajar habis kau," ancam Tara dengan mengepalkan kedua tangannya ke arah Merry.
Mereka itu ibarat kucing dan tikus kalau bertemu tidak pernah akur, Salma lah yang sering pusing melihat perdebatan mereka. Karena Tara ataupun Merry tidak ada yang mau mengalah saat mereka berdebat.
"Udah kita mulai rapat nya. Perusahaan kita mengalami penurunan penjualan. Karena beberapa waktu lalu kita dapat komplain dari customer." Ucap Pak Malvin memulai rapatnya.
"Iya, pak. Tapi saya pikir itu bukan salah dari produk kita yang tidak bagus. Mungkin pihak pengembang lah yang membangun rumah tersebut ada sedikit kesalahan saat proses pembangunan." Jawab Tara.
"Iya, saya pikir juga begitu pak. Karena selama ini kita hampir tidak pernah di komplain customer. Dan anehnya hanya ada di daerah tersebut yang di komplain beberapa customer. Pasti ini ada kesalahan di proses pembangunannya." Saut Anton.
"Ada berapa customer yang komplain, Merry ?" Tanya Pak Melvin.
"Tiga pak." Jawab Merry.
"Kita harus menyelidiki kasus ini. Karena biasanya tidak terjadi hal seperti ini. Atau mungkin benar dari pihak pembangun yang kurang teliti atau dari kita yang salah. Entahlah segala kemungkinan bisa terjadi. Dan saya tidak mau berspekulasi dulu sebelum menemukan titik terang akar masalah ini." Jelas Pak Melvin.
" Benar yang bapak katakan bisa juga dari pihak kami yang lalai dalam hal ini. Jadi saya dan team akan mencari akar masalah ini. Karena kita sudah bekerja sama lama jadi, jangan karena hal ini kita putus hubungan kerja pak. " Awan akhirnya buka suara. Sebagai perwakilan dari perusahaan tempatnya bekerja ia harus ikut andil dalam mencari solusi terbaik masalah yang sedang menimpa perusahaan nya.
Awan bekerja di sebuah perusahaan property dan Tara bekerja di sebuah perusahaan jasa yang menyediakan bahan untuk pembangunan seperti baja ringan. Perusahaan mereka sudah bekerja sama lama. Tapi karena beberapa waktu yang lalu pihak pembeli merasa tertipu karena rumah yang baru di tempati selama satu bulan sudah mengalami masalah.
"Sepertinya ada yang curang disini, pak. Dan ini juga terjadi hanya di tiga rumah." Anton ikut mengemukakan pendapatnya.
__ADS_1
Setelah hampir satu jam rapat pun selesai. Awan akan kembali ke kantor tempat ia bekerja.
"Saya pamit dulu ya pak," pamit Awan kepada pak Malvin sambil berjabat tangan.
Tidak lupa Awan juga berjabat tangan dengan Anton, Salma dan juga Tara.
"Eh, lo kenal sama itu cowok ya? Ganteng banget sih. Kelihatannya juga sopan banget." Puji Salma saat Awan sudah berjalan menjauh serta senyum tak lepas dari bibirnya.
"Itu cowok yang beliin nasi udah beberapa hari yang lalu." Jelas Tara.
"Yang beliin nasi uduk pagi-pagi pas gue habis mabuk itu? Yang gue tabrak dan gue katain ngga punya mata. Ah, dunia ternyata tak selebar daun kelor." Salma malah berbalik bertanya kepada Tara. Saat itu ia sedang mabuk, jadi tidak melihat dengan jelas laki-laki yang ia tabrak.
"Sekarang lo udah ingat, kan?" Tanya Tara.
"Iya, gue udah ingat." Jawab Salma.
"Lo naksir dia ya? Lumayan sih wajahnya orangnya juga ngga neko-neko kayanya. Rajin ibadah tuh, setiap pagi jalan ke masjid yang ada di ujung jalan sana itu."
"Lo tahu banget sih. Jangan-jangan lo yang naksir ya?"
"Ngga ada naksir dan ngga akan." Tara menjawab pertanyaan Salma dengan cepat.
"Jangan bilang gitu, nanti kemakan sama omongan sendiri lo. Kan kita ngga tahu kedepannya seperti apa. Mungkin suatu hari nanti lo bisa buka hati buat cowok." Lirih Salma. Ia akan merasa iba kepada Tara jika menyangkut soal hubungan dengan pria.
" Kalau gue udah pengen buka hati, kan ada Anton. Buktinya gue ngga bisa tuh."
"Iya deh, terserah lo aja." Akhirnya Salma menyerah, rasanya percuma juga berdebat dengan sahabatnya tersebut.
* * *
Seorang laki-laki berpakaian kemeja warna putih serta celana jeans panjang warna biru navy serta mengenakan kaca mata hitam sedang bersenandung mengikuti alunan musik yang ia putar di dalam mobil. Siapapun yang memandang pasti akan terpana oleh pesonanya. Tapi tidak dengan Tara, tidak hanya sekali Anton mengutarakan isi hatinya tapi Tara selalu menolak. Iya, laki-laki ini adalah Anton, teman kantor Tara.
Mobilnya berhenti di ujung gang tempat kost Tara. Dengan santai ia keluar dari mobil dan berjalan keluar menuju kost Tara.
Tok... tok..
"Yuhu, calon istri. Gue sudah datang nih." Ucap Anton dari balik pintu kamar kost Tara.
"Sebentar, tunggu di luar dulu ya!" Saut Tara dari dalam.
__ADS_1
Tanpa menjawab, Anton segera duduk di bangku panjang yang ada di depan kamar Tara.
Ceklek
Pintu kamar terbuka. Tara keluar dengan dress warna pink tanpa lengan yang panjangnya selutut. "Ayo, kita berangkat!" Ajak Tara setalah mengunci pintu.
Anton beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan beriringan dengan Tara. Sesekali ia mencuri pandang kepada gadis yang sedang ada di sampingnya. Cantik dan baik itulah yang ia lihat dari diri Tara. Sayang sekali sampai sekarang ia belum bisa menyentuh hati Tara.
"Cie, neng Tara mau ke mana sama pacarnya?" tanya ibu-ibu yang ada di depan rumah. Ia adalah tetangga kost Tara.
"Bukan pacar bu, dia teman Tara. Kita mau ke gereja." Jawab Tara.
"Oh, kirain pacar .Tapi kalian cocok lo neng. Cantik dan tampan pas pokoknya. Ibu suka lihatnya."
Tara tersenyum menanggapi ucapan ibu tersebut. Tidak hanya sekali ia di goda seperti ini kalau sedang berjalan bersama Anton jadi sudah hal biasa seperti ini untuknya.
" Gue suka di bilang kita pacaran. Tapi, lebih suka kalau ibu itu bilang kita suami istri." Ucap Anton tiba-tiba.
"Ngga usah mulai deh. Gue anggap lo hanya teman-," ucapan Tara terhenti.
Anton memotong ucapan Tara. "Iya, dan ngga lebih. Hanya teman, lo dan gue ngga akan pernah jadi kita. Itukan yang lo mau bilang? Udah ngga usah di ulang lagi. Gue ngga akan memaksa lo lagi. Iya, kita teman."
Anton segera membuka pintu mobil dan duduk di kursi kemudi. Tidak seperti biasanya, Anton akan membukakan pintu untuk Tara. Tapi tidak untuk saat ini.
Tara yang melihat Anton seperti itu hanya menghela napas. Tidak biasanya Anton seperti ini. Dengan segera Tara masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Anton.
Tara menoleh ke arah Anton yang fokus mengemudi. "Marah ya?" Tanya Tara memecah keheningan dalam mobil.
"Ngga." Jawab Anton singkat tanpa menoleh ke arah Tara.
"Kalau ngga marah, tadi gue ngga di bukain pintu mobil. Terus gue di cuekin aja dari tadi." Ucap Tara dengan nada yang dibuat ketus sambil mengerucutkan bibirnya.
Anton yang melihat Tara seperti itu akhirnya tertawa karena mereka lihat tingkah gelas Tara. Lalu berkata "Ngga bisa gue marah sama lo."
"Masa sih? Maaf gue belum bisa balas perasaan lo."
"Hem."
"Masih marah ya, jawab nya hem doang?"
__ADS_1
"Udah ngga usah di bahas."
"Oke. Gimana kalau setelah pulang dari gereja kita pergi ke suatu tempat?" Ajak Tara.