
Iya, cinta itu tidak bisa di paksakan. Bukan sang pejuang yang kurang gigih tapi hati yang pernah terluka yang sudah beku lah yang susah mencair.
Perlahan, Tara melepas rengkuhan tubuh Anton sambil berkata. "Udah, gue ngga apa-apa. Maaf yang barusan tadi."
"Lo ngga salah, gue yang terlalu maksa. Ngga akan lagi. Harusnya gue yang minta maaf bukan lo." Sesal Anton.
"Udah, ngga apa-apa. Kita sama-sama salah. Dan gue harap lo tepati ucapan lo barusan," pinta Tara.
"Iya, gue tepati jangan khawatir. Gue ngga akan jilat ludah gue sendiri."
Tara tersenyum mendengar ucapan Anton. Bukan ia tega kepada laki-laki yang duduk di sampingnya ini. Tapi, satu tindakan harus ia ambil agar Anton tidak berharap lebih kepadanya. Beberapa kali Tara mencoba membuka hati untuk Anton tapi tidak bisa. Rasa takut di tinggalkan dan merasa dirinya tidak layak untuk siapapun menjadikannya keras hati. Rasanya hidup sendiri dengan baik tidak bergantung pada siapapun tidak merepotkan siapapun sudah lebih dari cukup.
"Iya, kita jadi pergi ngga?" tanya Tara. Tangan kanan nya beralih mengambil tisu ia gunakan untuk mengusap pipinya yang basah karena air mata.
"Jadi dong, kapan lagi gue bisa menghabiskan akhir pekan sama lo gini." Jawab Anton dengan antusias.
"Biasanya juga hari minggu sama gue terus. Pakai bilang kapan lagi. Jadi, selama ini gue kalau hari minggu pergi sama siapa dong? Hantu ya? Bisa-bisanya perempuan cantik kayak gue ini ngga di anggap." Keluh Tara.
Anton tersenyum dan matanya tak lepas dari memandang wajah cantik Tara. Kadang perempuan di sampingnya ini begitu keras dan tegas. Terkadang sisi manja nya timbul walaupun itu hanya sesaat. Dan inilah yang Anton inginkan, ia ingin Tara mau bergantung padanya.
"Iya, hampir setiap minggu kita pergi bersama tapi, ke gereja. Bukan untuk pergi nonton atau yang lainnya."
"Iya, juga ya." Tara tertawa menanggapi ucapan Anton.
Memang selama ini mereka jarang sekali pergi berdua selain ke gereja. Biasanya Tara akan mengajak Salma juga untuk pergi bersama.
"Cantik tapi pelupa hadeh."
"Biarin lah, namanya juga lupa. Jadi ngga ingat."
"Iya, in aja lah. Ngalah sama perempuan cantik."
"Gitu dong, jadi sahabat yang baik. Ngalah demi kebaikan kita bersama."
Anton hanya menganggukkan kepala. Ia tidak mau berdebat lagi dengan Tara. Hati Anton tidak sanggup melihat air mata yang keluar dari kedua sudut mata indah perempuan yang ada di sampingnya. Tara terlihat tegar, tapi hati perempuan tersebut sebenarnya rapuh.
__ADS_1
Mobil Anton kembali melaju membelah jalanan kota Jakarta yang sedikit lenggang karena hari ini adalah hari minggu.
***
Di kamar yang di dominasi warna pink seorang wanita sedang menangis sambil memeluk guling kesayangannya. Pagi tadi ia lihat media sosial sang mantan kekasih sedang melakukan pertunangan.
"Hik... hiks... sungguh tega banget elu Darren. Mana janji yang bilang ngga akan ninggalin gue. Begitu gampangnya elu lupain hubungan kita setelah semua yang gue beri ke elu." Lirih Salma di sela tangisnya.
Iya, wanita yang sedang menangis itu adalah Salma. Belum lama Darren meninggalkan dirinya dengan janji manis semanis gulali. Tapi, sekarang Darren bertunangan dengan wanita lain. Hancur itu sudah pasti yang di rasa Salma saat ini.
"Seandainya dulu gue ngga kasih semua ke Darren pasti gue ngga akan menyesal kayak gini. Gue ngga akan sakit sendirian." Sesal Salma saat mengingat kesalahan nya dulu.
Terlalu percaya dengan kata-kata manis dari pria. Dengan mudahnya menyerahkan kehormatan nya kepada pria yang ia anggap akan memegang janjinya. Akan Setia dan akan membina hubungan yang indah di masa depan. Namun kenyataannya? Salma di tinggalkan begitu saja tanpa kata.
Sekarang menyesal pun tiada guna. Karena yang pergi tak akan kembali. Yang pergi masih bisa tertawa lepas dan masih bisa bahagia dengan orang lain. Tapi di satu sisi ada wanita yang sangat terpuruk karena menyesali kebodohannya. Hanya karena percaya sebuah kata.
Tok... tok...
"Salma, ayo makan! Kamu dari pagi belum makan, sayang." Ucap Mama Salma dari balik pintu kamar.
"Mama makan dulu sana! Aku belum lapar." Saut Salma dengan suara parau karena habis menangis.
Merasa ada yang di sembunyikan sang putri. Desi ingin melihat apa yang terjadi dengan Salma. Karena tidak biasanya ia mengurung diri di kamar seperti ini.
"Salma mau sendiri ma." Tolak Salma.
"Sebentar saja, ya sayang! Mama ingin ngobrol sama kamu berdua." Desi terus membujuk putri kesayangan nya.
Salma bangkit dari tempat tidur. Ia mengambil tisu dan membersihkan sisa air mata yang menempel di pipi mulusnya.
Ceklek
Pintu kamar di buka Salma. Saat pintu sudah terbuka lebar senyum hangat dan meneduhkan dari mama menyambut dirinya. Tapi ia malah menundukkan kepala.
"Kenapa malah menunduk gitu? Anak mama yang cantik kenapa?" Tanya Desi.
__ADS_1
"Ngga apa-apa hanya masalah kerjaan aja ma." Jawab Salma berbohong.
"Mama ngga di suruh masuk nih?"
"Masuk dong ma." Salma berbalik badan dan berjalan menuju ranjang miliknya.
Kedua wanita beda usia itupun duduk di atas ranjang. Mereka masih diam dengan pikiran mereka masing-masing. Tidak ada yang memulai percakapan lebih dulu.
Sampai beberapa menit berlalu akhirnya Desi memulai percakapan. "Anak mama kenapa?"
Bukan nya menjawab pertanyaan sang Mama. Salma malah menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Karena Darren ya?" Tebak Desi.
"Iya, dia ninggalin Salma gitu aja. Ngga tahu salah aku dimana tiba-tiba ngga ada kabar. Dan hari ini dia tunangan dengan wanita lain ma. Jawab Salma. Air matanya kembali luruh saat menyebut nama Darren.
Desi membuang napas kasar. Dirinya sudah bisa menebak apa yang akan terjadi dengan hubungan Salma. Karena dia sendiri dari awal tidak setuju kalau putrinya menjalin hubungan dengan pria bernama Darren.
"Bukankah, mama dari dulu sudah bilang untuk jangan berhubungan dengan Darren. Kau sendiri yang keras kepala dan sekarang terbukti kan omongan mama benar."
"Iya, maaf ma? Salma ngga nyangka Darren kayak gitu. Selama ini dia baik banget dan selalu setiap kata yang keluar dari mulutnya itu terbukti maka dari itu Salma percaya ma."
"Jangan hanya dari kata kau percaya. Itu hanya omongan dari manusia bukan?"
"Tapi dia udah janji juga ma."
"Janji itu hanya sebuah kata yang keluar dari bibir seseorang sayang. Dan kapanpun bisa ia langgar kalau orang itu tidak bertanggung jawab. Contohnya Darren." Jelas Desi.
"Tapi Salma selama ini ngga pernah ingkar ma. Aku selalu pegang janji ku. Tapi, kenapa Darren bisa ingkar? KENAPA?" teriak Salma. Ia memukul pelan dadanya yang terasa sesak. Rasanya tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan Darren padanya.
"Salma harus pergi nemuin Darren. Mau tanya apa salah Salma kenapa dia ninggalin Salma gitu aja." Salma beranjak dari tempat duduknya dan segera mengambil tas serta ponsel yang ada di balas samping tempat tidur.
"Kamu mau ngapain ketemu dia? Jangan bodoh kamu ya, Salma."
"Salma ingin pastikan sesuatu ma-"
__ADS_1
Drett...drettt...
Dering ponsel menghentikan perdebatan ibu dan anak tersebut.