
Di dalam kamar pengantin Aini duduk di ranjang sambil menggigit kuku jarinya. Ia menghirup oksigen dalam-dalam untuk menutupi rasa gugupnya.
Ceklek... pintu terbuka. Hafis berjalan mendekat ke arah sang istri.
"Kamu kenapa diam saja begitu? Suami datang bukan di sambut malah diam menundukkan pandangan. Malu, ya?" tanya Hafis.
"Iya, mas. Maaf," Aini mendongakkan kepalanya memandang wajah tampan Hafis.
"Ayo kita sholat!" Ajak Hafis.
"Ayo mas."
Setalah melaksanakan sholat Aini melipat kembali sajadah yang di gunakan tadi. Ia melepas mukena lalu memakai kerudung kembali.
"Sini, duduk di samping mas!" Hafis menepuk ranjang memberikan isyarat agar Aini duduk di samping nya.
Aini mendekat ke arah suami. Irama jantung nya semakin berdetak kencang. Ia berkali-kali menghela napas untuk menutupi kegugupannya.
"Subhanallah, cantik sekali istri mas. Dek, boleh mas cium adek?" tanya Hafis.
Aini mengangguk pelan tanda ia mengizinkan sang suami. Bagaimana pun juga mereka sudah sah menjadi suami istri sekarang.
"Bismillah," Hafis mengecup kening Aini dengan lembut.
Aini memejamkan mata merasakan sentuhan pertama dari sang suami. Tangan kanan nya mencengkeram erat seprai putih yang membalut ranjang.
__ADS_1
"Dek, kamu siap?" tanya Hafis dengan suara yang berat.
"Siap mas." Jawab lirih Aini.
Hafis mengucapkan doa, lalu meniup pelan ubun-ubun Aini.
"Boleh, mas buka hijab adek?" tanya Hafis lagi.
"Boleh mas, aku milikmu." Jawab Aini dengan menundukkan kepala.
Seperti mendapatkan angin segar Hafis tersenyum penuh kemenangan. Tangan nya membuka hijab Aini. Yang pertama ia lihat adalah rambut hitam panjang Aini.
"Subhanallah, cantik sekali istri ku," puji Hafis yang kagum melihat kecantikan Aini.
Sang istri membalas dengan senyuman. Ia tatap wajah tampan Hafis yang sangat meneduhkan menurut nya.
"Kenapa?" tanya Hafis di sela-sela aktivitas nya yang membuka kancing Aini.
"Malu mas," jawab Aini dengan mengalihkan pandangan nya.
Hafis memegang dagu Aini, lalu ia berkata. "Jangan malu, dek! Kita kan suami istri. Ini juga yang pertama buat mas."
"Iya, mas."
Aini mengangguk lalu ia pandang wajah sang suami dengan tatapan penuh cinta. Sungguh Allah telah menghadirkan benih cinta antara keduanya walaupun baru bertemu dua kali. Sang Maha Dahsyat membolak- balikan hati.
__ADS_1
"Kamu ngga mau buka baju mas?"
"Iya," Aini membuka satu persatu kancing baju Hafis.
Beberapa menit kemudian keduanya polos tanpa busana. Hanya selembar selimut putih membalut tubuh keduanya.
"Harus di tutup dek, jangan sampai ngga di tutup." Ucap Hafis.
Aini mengangguk paham, Hafis semakin leluasa menjamah tubuh mulus nan ramping sang istri. Dua benda kenyal yang menonjol menjadi tempat favorit Hafis. Lenguhan keluar dari mulut Aini. Sesekali ia memejamkan mata dan menggigit bibir bawah nya menahan erangan.
"Lepaskan saja, dek! Lenguhan mu terdengar merdu di telinga mas."
Cahaya yang temaram serta alunan musik membuat suasana nya semakin romantis.
"Mas mulai ke, intinya ya?"
Aini mengerti apa yang di maksud sang suami. Ia mengangguk kan kepala tanda siap untuk masuk ke permainan inti.
"Akhhhhhh...." Teriak Hafis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Catatan author : Maaf ya, beberapa hari tidak update 🙏
Terima kasih yang telah menunggu update nya author kalem ini 🤭😚
__ADS_1
Jangan lupa baca novel ku yg lainnya ya 🤗 klik aja profil ku 😚
Jangan lupa like dan komen 😉