Antara Cinta Dan Cinta

Antara Cinta Dan Cinta
Hati yang beku mulai mencair.


__ADS_3

Tidak usah jawab lagi. Cukup pikirkan dan turuti kata hatimu! Karena ia tidak akan berbohong. Aku tidak akan memaksakan perasaan ku padamu. Setelah malam ini tidak akan ada yang berubah dari kita. Tetap baik dan juga pergi bersama seperti ini." Ucap Awan.


" Mas, aku... " Tara menghentikan ucapannya lalu memejamkan mata sambil menarik napas panjang.


" Aku belum bisa jawab sekarang. Aku butuh waktu." Lanjut Tara.


Awan diam sejenak sambil mencerna kalimat yang terlontar dari bibir Tara. Ia menyimpulkan Tara juga suka ada dirinya tapi masih enggan untuk menerima dirinya.


"Pesan ku, tidak semua yang mengetuk pintu hatimu akan melukai dirimu. Jadi, jangan kau samakan dengan masa lalu yang pernah menyakiti hatimu." Ujar Awan.


Beberapa hari kemudian...


Anton yang melihat kedekatan Awan dan Tara hanya bisa diam. Usahanya setelah kurang lebih satu tahun tidak membuahkan hasil. Dia tidak bisa mencairkan hati seorang Tara dan dirinya terima. Tetap menjaga hubungan yang baik menjadi baik-baik saja.


"Nanti sore gue antar saja ya?" Anton menawarkan bantuan kepada Tara yang kebetulan hari ini ia tidak membawa sepeda motor.


"Ngga usah, gue di jemput Awan." Jawab Tara.


Seketika ekspresi wajah Anton berubah sendu. Ia selama beberapa bulan ini menutupi sikap cemburu nya. Tapi, menerima penolakan langsung dari Tara yang tidak mau di antar pulang rasanya sungguh di luar dugaan. Seorang Anton yang mampu menutupi dengan rapat perasaan nya tersebut tiba-tiba menjadi sedih.


"Ntar bareng gue aja gimana?" Saut Salma.


Sahabat Tara yang secara tidak langsung melihat perubahan ekspresi Anton menjadi iba. Ia tahu betul apa yang di rasakan teman satu kantornya tersebut.


"Nah, bener tuh. Ide bagus, kalian pergi bersama aja." Celetuk Tara.


Dengan terpaksa Anton mengiyakan ajakan Salma. Ia tidak enak hati kalau sampai menolak ajakan Salma. Karena kejadian seperti ini tidak hanya sekali. Bukankah akan tidak enak hati kalau Anton mengolah terus ajakan Salma?


" Nah gitu dong. Sesekali pergi sama gue. Tenang ngga gigit kok gue." Ujar Salma.


"Iya lo ngga gigit tapi langsung lo telan mangsanya." Kali ini Tara ikut bersuara.


"Wah gue harus cari pelindung diri dari miss usil dong. Tapi kayaknya rame deh pergi sama dia. Mungkin pasar aja kalah ramai." Ejek Anton.

__ADS_1


Salma cemberut mendengar perkataan Anton. Ia tidak terima di ejek dua orang temannya. Ini Merry belum datang, kalau saja dia ada udah pasti bakal panjang jalan ceritanya.


***


Awan sedang sibuk dengan laptop dan beberapa berkas yang ada di meja kerjanya. Bahkan ia tidak sadar kalau sekarang sudah jam empat sore. Ia janji akan menjemput Tara.


Tok... tok...


"Permisi pak." Ucap seseorang dari luar ruangan.


Ketukan pintu beberapa kali dan suara dari luar ruangan menyadarkan Awan.


"Astagfirullah, udah jam berapa ini?" bukannya menjawab ucapan dari orang sudah berdiri di depan pintu ruangan nya. Ia, justru malah kaget saat melihat jam tangan yang ada di tangan kirinya.


"Permisi pak, assalamualaikum?" ucap seorang wanita dari balik pintu. Ia mengulangi lagi salamnya.


"Waalaikumsalam. Iya, silahkan masuk Rita!" Jawab Awan. Dan ia juga meminta wanita tersebut masuk ke ruangannya.


Ceklek...


" Bapak tidak pulang?" tanya nya dengan suara sensual yang sedikit menggoda.


Awan paham benar apa yang di lakukan sekretaris barunya itu. Awan menunduk seraya beristigfar dalam hati. Mungkin sekretaris barunya ini belum paham aturan di tempat kerjanya.


"Sebentar lagi saya pulang. Kamu ada perlu apa ke ruangan saya?" tanya Awan dengan tegas.


"Tidak apa-apa pak. Barang kali bapak butuh bantuan saya. Jadi, saya bisa bantu." Ujar Rita.


"Terima kasih, tapi ini sudah selesai jam kerja silahkan kamu pulang!" Perintah Awan dengan tegas. Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Rita.


Menyadari rayuannya tidak mempan pada Awan, ia tidak tinggal diam.


"Tapi saya bisa membantu menyelesaikan pekerjaannya bapak." Ucap Rita lagi, kali ini ia sedikit mendekat ke arah Awan.

__ADS_1


"Saya tidak suka mengulangi ucapan saya. Kalau kamu masih ingin bekerja di sini jaga kelakuan kamu." Kali ini Awan berucap dengan sedikit ancaman.


Tari sontak kaget dengan ucapan Awan. Ternyata usahanya tidak berhasil. Karena ia masih membutuhkan pekerjaan ini akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari ruangan Awan.


" Baik, saya permisi pak." Ucap Tari.


Ia segera berbalik arah dan berjalan keluar. Sebelum ia sampai ke pintu Awan berkata.


"Besok pakailah pakaian uang sedikit longgar. Dan bawahannya tolong kalau bisa di bawah lutut!" Perintah Awan.


"Baik pak, saya mengerti." Tari yang menahan malu akhirnya pergi dengan buru-buru dari ruangan Awan.


Awan memijat kepalanya yang sudah mulai berdenyut. Ada saja tingkah karyawan yang dengan sengaja memancing dirinya untuk marah.


Saat di lihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Awan segera mengambil kunci mobil yang ada di meja kerjanya. Ia bergegas menjemput wanita yang sudah beberapa bulan ini mengisi hatinya.


"Astagfirullah, aku lupa harus jemput Tara. Ini sudah setengah lima pasti dia sudah pulang." Ucap Awan pada dirinya sendiri saat sudah ada di dalam mobil.


Karena Awan naik jabatan ia di berikan fasilitas mobil dari kantor untuk menunjang kerja nya. Sebenarnya ia ada juga fasilitas rumah, tapi Awan memilih tetap tinggal di kost supaya bisa dekat terus dengan Tara. Ibarat orang yang jatuh cinta itu rindu satu hari bagaikan satu tahun saat tidak melihat pasangan nya. Untuk parkir mobil juga ada lahan kosong yang juga pemilik kost jadi Awan bebas parkir di sana.


"Ibu kenapa mobil di depan ngga gerak ya?" Awan mulai sedikit gelisah karena jalanan macet dan pasti sudah telat untuk menjemput Tara.


Awan beberapa kali melakukan panggilan telepon ke nomor Tara. Sudah mencoba beberapa kali tapi belum juga ada jawaban dari wanita tersebut. Ia semakin panik, takut kalau Tara akan marah.


"Kenapa ngga diangkat sih." Ucap Awan pada dirinya sendiri.


Tara masih menunggu di depan kantor sambil duduk menikmati kopi yang baru saja ia beli dari cafe yang ada di dekat kantornya. Rasanya sudah mulai bosan menunggu kedatangan Awan. Karena ini sudah jam lima sore. Apakah Awan lupa? Pasti dia bohong? Muncul beberapa pikiran jelek tentang Awan terlintas di pikiran Tara. Ponsel miliknya juga kehabisan daya, jadi ia tidak bisa menghubungi Awan.


Harusnya ia menerima tawaran Anton yang ingin mengantarnya tadi daripada ia harus menunggu sendiri seperti ini.


"Kenapa lama sekali? Apa dia lupa ya?" tanya Tara pada dirinya sendiri.


"Tara, kau masih di sini?"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2