
"Kamu mau ngapain ketemu dia? Jangan bodoh kamu ya, Salma."
"Salma ingin pastikan sesuatu ma-"
Drett...drettt...
Dering ponsel menghentikan perdebatan ibu dan anak tersebut.
"Siapa yang telepon?" Tanya Desi.
"Tara ma, tumben jam segini telepon. Bentar aku angga dulu ya," Salma menekan tombol hijau yang ada di layar ponsel pintarnya.
["Iya, halo"]
["Lo dimana? Gue otw ke rumah lo sekarang ya?"]
["Iya, gue masih di rumah. Tumbenan lo ke rumah gue sore-sore gini ada apa?"]
["Gue udah lihat postingan Darren di media sosial nya barusan. Pokoknya lo di rumah aja ini gue udah mau sampai"]
Tanpa mendengar balasan dari Salma, Tara menutup panggilan nya secara sepihak. Karena ia tahu sahabatnya itu sedang dalam keadaan tidak baik. Tara khawatir Salma akan nekat melakukan hal buruk.
"Kebiasaan, gue belum selesai ngomong juga udah di tutup telepon nya." Gerutu Salma.
"Emang siapa sih yang telepon?" tanya Desi penasaran.
"Tara ma, dia mau kesini. Salma di suruh nunggu dia."
"Udah lama dia ngga main ke sini. Yasudah, kamu jangan pergi kemana-mana. Kan, Tara mau datang ke rumah." Pinta Mama Desi.
"Iya, aku tunggu Tara aja ma."
"Oke kalau gitu mama keluar dulu ya?" Desi beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar meninggalkan Salma sendiri.
Salma diam sambil melihat potret mantan kekasihnya dari ponsel. Senyum sinis tiba-tiba menghiasi bibir manisnya. Saat mengingat kenangan nya bersama Darren. Sepertinya rasa cinta nya sudah berubah menjadi benci.
***
"Emang lo yakin Salma akan nekat nemuin itu cowok?" tanya Anton sesaat kemudian menoleh ke arah Tara yang masih fokus dengan benda pipih miliknya.
__ADS_1
"Iya gue yakin. Selama ini Salma selalu menghabiskan malam minggu nya dengan pergi ke klub malam dan pulang dengan keadaan mabuk. Ngga ke hitung berapa kali gue nasihati dia." Jawab Tara.
"Kok lo bisa tahu dia pulang dalam keadaan mabuk?" tanya Anton lagi. Ia sedikit ragu dengan penuturan Tara karena selama ini Salma terlihat kalem dan seperti tidak ada masalah.
"Jelas tahu lah, dia kalau pulang ke kos gue. Dan gue yang selalu telepon Mama nya bilang kalau Salma nginep di rumah gue."
"Nyokap nya percaya gitu aja emang?"
"Ngga lah, gue foto Salma saat sedang tidur dan posisi hp dia saat di cas. Dan gambar yang gue kirim ada bukti pukul berapa gue ambil gambar tersebut. Dan minggu sore atau malam dia baru pulang ke rumah."
"Udah lama dia kayak gitu?"
"Semenjak putus sama cowok breng*** itu. Gue aja yang bayangin aja pengen nimpuk itu cowok pakai sepatu. Apalagi Salma yang ngalamin, gue ngga bisa bayangin."
"Yasudah, ngga usah di bayangin. Kasih solusi terbaik jangan ikuti emosi. Pria kalau udah pergi gitu artinya dia ngga mau kenal lagi dengan si wanita. Ngga mau mengulang hubungan walaupun si wanita masih cinta."
"Iya, gue tahu. Makanya gue ngga percaya sama kata-kata dari pria."
"Iya, ngga usah percaya. Termasuk sama gue cukup lo lihat tindakan gue saja."
"Hem." Jawab Tara singkat.
"Gue ikut masuk boleh ya?" Tanya Anton.
"Boleh dong," jawab Tara. Tangan kanan nya terulur mengambil pamer bag coklat yang ada di kursi belakang.
Pagar besi warna hitam tiba-tiba terbuka. Desi sudah membukakan pintu untuk sahabat anaknya.
"Halo tante Desi, apa kabar?" Sapa Tara saat melihat seorang wanita cantik yang tersenyum saat pintu pagar terbuka dengan lebar.
"Halo, Tara. Kabar tante baik. Kamu sendiri kabarnya gimana?"
"Baik tante."
"Alhamdulillah kalau baik. Yuk, masuk yuk!" Ajak mama Salma.
Tara dan Anton segera berjalan mengikuti langkah Mama Desi. Halaman yang cukup luas serta ada berbagai bunga yang menambah cantik halaman rumah.
"Duduk dulu! Tante panggil Salma sebentar ya."
__ADS_1
"Iya Tante." Jawab Anton dan Tara serempak.
Kursi berbahan kayu jati serta ukiran khas kota Jepara mendominasi di ruang tamu. Ini menandakan kalau pemilik rumah sangat menyukai seni dari Jawa Tengah tersebut.
"Tante Desi dari Jawa ya?" Tanya Anton kepada Tara. Pandangannya tak lepas menyapu setiap sudut ruang tamu.
" Om yang dari jawa. Tepatnya dari kota Solo. Kalau tante Desi asli Jakarta." Jelas Tara.
"Pantas saja menyukai ukiran dan ornamen kayu seperti ini."
"Maaf ya, lama nungguin gue." Saut Salma yang berjalan mendekat ke arah Anton dan Tara.
"Ngga kok, santai aja." Jawab Tara.
Salma ikut duduk di samping Tara. Pandangan nya sendu, ia masih terlihat sedih dan juga bercampur marah.
"Are you okay?" tanya Tara. Telapak tangan wanita asal Surabaya tersebut menepuk pelan pundak Salma.
"Entah lah, ingin rasanya gue datang ke acara pertunangan Darren."
"Buat apa lo ke sana? Mau bikin malu diri sendiri? Jangan nekat! Pikirkan baik-baik segala sesuatu sebelum bertindak. Lo pikir semua orang akan iba sama lo. Iya, kalau mereka percaya semua yang kamu katakan. Tunangan Darren juga ngga akan peduli dengan diri lo kok." Jelas Tara.
" Seenggaknya gue pernah nyoba dan sakit hati gue terbayarkan."
" Dengan cara datang ke acara pertunangan? Bukan membalaskan sakit hati lo, malah justru menambah sakit hati. Gue katakan sekali lagi ya, Salma. Saat lo sedang jatuh cinta tidak akan ada satu katapun yang lo percaya dari orang lain yang menceritakan keburukan orang yang lo cintai. Karena hatimu di penuhi akan dia hal-hal yang menurutmu terlihat baik. Padahal kenyataannya tidak seperti itu."
Salma mencerna kata demi kata yang keluar dari bibir Tara. Iya, dia membenarkan akan hal itu. Karena selama ini tidak hanya sekali Tara menasihati dirinya tapi malah justru ia abaikan. Sekarang Salma menyesal kenapa tidak dari dulu mempercayai Tara. Karena cinta itu mengalahkan logika.
"Lalu gue harus gimana?" tanya Salma. Bulir bening sudah lolos dari kedua sudut mata indahnya.
"Ikhlas kan semua nya! Jangan usik hidup Darren lagi. Tata hidupmu jangan melihat ke belakang. Karena dia yang pergi tidak akan kembali. Kalau pun suatu saat dia kembali jangan sampai kau buka hatimu lagi."
"Gue coba tapi susah lupa. Apalagi setelah semua yang gue lewati berasa dia. Gimana caranya bisa melupakan semua itu Tara?"
"Harus bisa bagaimanapun caranya. Isi kegiatanmu dengan hal-hal yang positif jangan lagi kau-"
Tara tidak melanjutkan ucapannya. Karena Tante Desi berjalan ke arah mereka membawa minuman dan beberapa camilan di atas nampan.
"Jangan lagi apa Tara?" tanya Desi penasaran.
__ADS_1