
" Kenapa kita bertemu lagi?" tanya Tara. Mata nya sudah digenangi air mata.
"Kau memang pergi, tapi aku selalu mencari." Jawab Awan.
"Tapi, ini ngga boleh terjadi. Kamu melawan orang tuamu?" tanya Tara dengan suara bergetar karena menangis.
Awan memandang Tara dengan penuh cinta. Ia genggam kedua tangan wanita itu. Lalu berkata. "Ngga ada lawan orang tua. Emang kenapa aku harus lawan mereka. Soal perjodohan tetap terlaksana. Dan akan segera menikah, tunggu saja undangan nya. Nanti aku berharap kamu bisa datang ya!"
"Kamu mau poligami?" tanya Tara. Ia sontak melepas genggaman tangan Awan.
"Tidak, tapi poligami memang tidak di larang asal bisa adil dengan kedua istri." Jawab Awan.
__ADS_1
"Aku juga seorang wanita, aku ngga akan gelap mata karena cinta. Aku ngga mau merusak kebahagiaan orang lain. Aku ngga mau!" Ucap Tara dengan lantang.
"Karena cinta? Artinya kamu masih cinta aku dong. Tapi kalau aku adil kan tidak masalah."
Awan sengaja memanas-manasi Tara. Ia ingin melihat bagaimana perasaan Tara padanya. Apakah benar masih cinta atau tidak.
"Aku ngga mau. Aku lebih memilih pergi dari kamu dari pada aku harus menyakiti hati wanita lain."
Awan bukan pria yang suka ber basa-basi. Ia akan langsung mengatakan maksud hatinya. Dan dia juga buka tipe pria yang menelan ludahnya sendiri. Setiap kata yang ia ucapkan akan ia tepati. Jika waktu itu Awan belum meminta Tara untuk jadi istrinya karena hatinya masih di selimuti keraguan, berbeda dengan hari ini. Ia sangat yakin Tara lah yang akan menjadi tulang rusuknya.
"Apa yang membuat kamu yakin memilih diriku? Aku katakan sekali lagi, aku wanita yatim piatu aku tidak berpendidikan aku bukan wanita baik. Dan-" Tara tidak sanggup meneruskan ucapannya.
__ADS_1
Hal yang paling Tara takutkan adalah penolakan dari orang tua Awan. Seperti dulu saat bersama Anton. Sudah membuka hati tapi di patahkan hanya karena status sosial. Lucu memang, tapi begitulah manusia menilai manusia lain. Tidak cukup adanya cinta dan ketulusan tapi status sosial jadi hambatan juga. Yang kaya dengan si kaya dan yang miskin akan tersisih.
"Kita bertemu adalah takdir dari Allah. Segala rasa di hatiku muncul karena Nya juga. Bahkan aku sudah meminta Nya untuk menghilangkan rasaku saat aku dengan sadar tahu, kalau ada tembok pembatas yang sukar di panjat antara kita. Lagi-lagi aku tak berdaya menahannya dan aku dengan terang-terangan masih saja mencintai mu. Waktu aku di jodohkan pun aku sudah melepas semua nya. Tapi, lagi-lagi tangan Allah yang bekerja. Sudah aku ikhlas kan kau dengan pria yang ku harap lebih baik dariku. Kau pergi pun aku tidak mencari. Aku serahkan semua nya pada Allah. Tapi, karena Nya aku bertemu kembali dengan mu." Ucap Awan panjang lebar menjelaskan.
Tara terdiam sejenak. Ia mencerna kata demi kata yang di ucapkan Awan. Kepala nya masih pusing terasa semakin berat saat memikirkan ucapan Awan. Ia memegang kepalanya yang semakin berdenyut nyeri.
" Kamu ngga apa-apa?" tanya Awan khawatir yang melihat Tara memegang kepalanya.
"Ngga apa-apa."
"Aku panggil dokter lagi aja," Awan segera berlari meninggalkan Tara untuk memanggil dokter.
__ADS_1