Antara Cinta Dan Cinta

Antara Cinta Dan Cinta
Azam VS Awan.


__ADS_3

Sesuai ucapannya tadi, setelah Awan sholat maghrib sekarang gantian ia mengantar Tara ke gereja. Tidak masuk, ia hanya menunggu di mobil. Bahkan Tara menolak bantuan Awan untuk mengantarnya sampai halaman gereja.


"Tuhan, maafkan aku. Engkau maha tahu, dan aku tak bisa menolak rasaku. Maafkan aku, Tuhan." Doa Tara dalam hati.


Tangis nya pecah, ia bersimpuh memohon ampunan. Entah lah, apa yang akan ia pilih setelah ini. Sungguh antara cinta dan cinta yang tak bisa menentukan yang mana.


"Sudah selesai?" tanya Awan yang baru melihat Tara yang berjalan mendekat ke arahnya.


"Iya, sudah." Jawab Tara.


Ia segera masuk ke mobil saat Awan membukakan pintu untuk nya. Mobil pun melaju kembali ke tujuan berikutnya yaitu rumah Ratna.


"Assalamualaikum," ucap Awan memberi salam.


Mereka sudah tiba di rumah Ratna setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh lima menit.


"Waalaikumsalam," jawab Ratna dan Damar bersamaan.


Mereka sudah lama menunggu Tara. Apalagi si kecil Azam yang sudah tidak sabar menunggu tante kesayangan nya pulang.


"Tante, Tara sayang," ujar Azam yang langsung memeluk Tara.

__ADS_1


Tanpa ragu Tara langsung menggendong bocah kecil itu. Ia cium dengan gemas pipi gembul Azam.


"Kangen deh sama kamu, sayang."


"Azam juga kangen tante."


Awan spontan mengarahkan pandangan nya pada bocah kecil yang dengan seenaknya mencium wanita yang ia cintai.


"Dia siapa tante? Dari tadi lihatin Azam terus." Tanya Azam sedikit sewot, ia tak suka melihat Awan yang sedang menatap tajam padanya.


"Oh, dia Om Awan teman tante dari Jakarta."


Awan langsung membulatkan matanya. Sungguh di luar dugaan saingan nya adalah bocah yang usianya kurang dari tujuh tahun.


"Hus, ngga boleh gitu om Awan tamu. Ngga boleh bilang kayak gitu. Lupa ajaran mama ya?" tanya Ratna.


"Ingat kok, kan kita harus memuliakan tamu." Jawab Azam dengan menundukkan kepala.


"Anak pintar." Puji Tara pada Azam.


"Iya dong Azam gitu lo, kan tante suka sama cowok yang pintar kayak Azam."

__ADS_1


"Oh, tentu saja."


"Kayak om dong pintar, makanya tante suka sama Om." Celetuk Awan.


"Enak saja suka sama Om. Tante itu punya ku ya. Awas aja kalau Om berani!"


"Kamu masih kecil sekolah aja dulu yang pintar. Kalau om Awan kan udah pintar jadi, boleh dong sama tante Tara." Lagi-lagi Awan memanas-manasi Azam.


"Ngga boleh, pokoknya tante sama Azam."


"Silahkan kalian adu kemampuan. Pertarungan babak akhir antara Awan dan Azam untuk memperebutkan Tara." Celetuk Damar.


"Cie... yang kalah dan udah tersisih, yakin udah ikhlas?" tanya Ratna yang di sertai ledekan.


"Sorry, gue ngalah ya, bukan kalah. Ngga level gue lawan bocil." Jawab Damar membela diri.


"Dih, bisa aja ya elu membela diri."


"Kan bener, lihat itu kelakuan pak Awan ngeladeni Azam sampai kayak gitu. Makanya gue sebagai Om yang baik dan pengertian ngalah aja kak. Toh, dari awal sudah ngga ada harapan aku." Ujar Damar.


Damar sudah rela melepas Tara. Hal pertama mereka beda keyakinan. Sama hal nya dengan Awan tembok pembatas tinggi dan sukar di panjat. Lagi pula hati tidak bisa di paksa. Hati Tara sudah ada nama Awan. Damar pun dengan berbesar hati melepas Tara.

__ADS_1


__ADS_2