
"Kita semua menginginkan hal itu. Yakin lah, semua akan baik-baik saja. " Saut Salma. Ia ikut menimpali obrolan Merry dan Anton.
Anton hanya tersenyum tipis ia selalu berharap semua hal baik akan mengiringi Tara. Semoga hal itu terjadi, cukup sudah ia sendiri cukup sudah ia hidup dalam Kesendirian dan nanti berharap tidak akan ada lagi duka yang menghampiri wanita tersebut.
Di lain tempat, Awan sedang berkemas. Ia di pindah tugaskan ke kota lain. Dan tanpa pikir panjang Awan langsung menerimanya. Mungkin, ini adalah cara yang tepat untuk ia melupakan Tara. Pergi ke tempat yang baru dan memulai kehidupan yang baru. Dalam hati selalu berseru nama Tara, tapi bibir tak berucap dan tak ingin berharap lebih. Ia hanya ingin mengikuti jalan takdir yang Allah atur untuk nya.
Beberapa hari kemudian.
Awan menutup mata sambil menikmati angin yang menyapu wajah tampan nya. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama empat jam ia sampai di kota Aceh dengan selamat. Iya, Awan di pindah tugaskan ke kota Aceh di mana Tara juga tinggal di sana saat ini.
"Assalamualaikum, pak Awan!" Sapa seorang pemuda tampan dan gagah bernama Damar.
Ia adalah salah satu staf dari tempat kerja Awan yang bertugas menjemput dirinya di bandara.
"Walaikumsalam ," jawab Awan dengan tersenyum.
Keduanya lalu berjabat tangan sebagai tanda perkenalan.
"Bapak baru pertama kali ke Aceh?" tanya Damar mencairkan suasana di mobil.
"Iya, ini pertama kali." Jawab Awan.
"Semoga betah di sini, ya pak."
"InsyaAllah, pak Damar."
"Jangan panggil pak, saya belum tua. Panggil Damar saja pak!" Pinta Damar.
"Oke saya panggil mas, saja gimana?" tanya Awan.
"Nah itu lebih bagus pak, seperti gadis cantik yang ada di rumah saudara saya. Manggil nya mas. Aduh, adem bener aku denger nya pak." Puji Damar saat membayangkan wajah cantik Tara.
"Biasanya panggilan mas untuk daerah jawa itu. Apakah dia orang jawa juga?" tanya Awan.
"Iya, dia orang jawa mas." Jawab Damar.
"Oh, sama kayak saya berarti. Saya dari Jawa Tengah tepatnya dari kota Salatiga."
"Berarti bapak anak rantau dong? Wah ceritanya sukses di perantauan ya pak?"
__ADS_1
"Alhamdulillah, semua berkat doa orang-orang yang menyayangi saya terutama ibu dan bapak."
"Alhamdulillah ya, pak. Semoga saya juga bisa sukses seperti bapak."
"Aamiin. Lakukan apapun itu dengan tulus. Jujur lah dalam bekerja lakukan dengan baik dan benar jangan lupa berdoa kepada Allah SWT. InsyaAllah semua di permudah."
Damar hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban kalau ia paham maksud Awan.
Drett... Drett....
Getaran ponsel yang ada dalam saku Damar mengalihkan perhatian keduanya.
" Angkat lah! Siapa tahu itu telepon penting." Perintah Awan yang menyuruh Damar mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Iya, makasih pak. Ini dari saudara yang tadi saya ceritakan."
Awan menggeser tombol hijau ke atas lalu meletakkan ponsel di samping telinga kanan nya.
["Assalamualaikum, kak." Ucap Damar memberi salam kepada orang yang ada di seberang telepon.]
["Waalaikumsalam, Damar segera pulang sekarang! Antar Tara ke rumah sakit. Mbak tunggu ya, cepat!" Ucap Ratna sedikit berteriak.]
["Tara pingsan, tolong mbak Damar!" Kini suara Ratna melemah karena ia sambil menangis."]
[" Iya, Kakak tunggu Damar," ucapnya dengan menutup panggilan suara yang berdurasi kurang dari dua puluh menit tersebut.]
"Pak maaf, saya turunkan bapak di sini ya? Kakak saya telepon katanya gadis cantik yang ada di rumahnya pingsan. Saya harus segera membawanya ke rumah sakit."
"Ayo, segera ke rumah kakak mu. Ajak aku sekalian tidak apa-apa. Mungkin saya bisa membantu nanti. Dari pada saya kamu turunkan di tengah jalan."
"Baik pak terima kasih."
Damar menambah kecepatan mobilnya. Seolah tidak peduli jika nanti Awan marah karena dia mengendarai dengan kencang.
"Assalamualaikum kak, mana Tara?" Ucap Damar saat baru turun dari mobil.
Deg... Hati Awan sudah berdebar tidak beraturan. Rongga paru-parunya terasa penuh saat mendengar kata Tara. Apakah ini hanya sebuah ilusi karena dirinya lelah menempuh perjalanan dari Jakarta ke Aceh. Tapi nama Tara begitu jelas di ucapkan oleh Damar. Awan masih terpaku di dalam mobil. Tubuhnya seketika beku dan tidak bisa di gerakkan.
Dalam hati istighfar tak henti ia ucapkan. Kalau wanita yang ada di dalam adalah Tara yang ia kenal. Apakah ini yang namanya jodoh? Jika iya, sungguh rencana Allah sangat lah luar biasa. Doa-doanya di sepertiga malam di ijabah.
__ADS_1
"Pak, tolong bukain pintu!" teriak Damar.
"Eh, iya sebentar," jawab Awan. Lamunan nya tersadar dengan teriakan Damar.
Tubuh Tara di letakkan di kursi belakang dengan kepala berpangku pada Ratna.
"Maaf bapak duduk di depan dulu ya!" Ucap Damar yang merasa tidak enak dengan Awan.
"Iya, tidak masalah. Ayo cepat bawa ke rumah sakit!" pinta Awan.
Di dalam mobil Awan berusaha mencuri pandang ke arah belakang untuk memastikan apakah benar wanita yang pingsan itu Tara. Sayangnya wajah wanita itu tertutup rambut serta tangan Ratna.
"Kenapa pak?" tanya Damar yang merasa heran dengan kegelisahan Awan.
"Ngga apa-apa." Jawab Awan berbohong.
Damar tidak percaya begitu saja. Karena Awan masih saja melihat ke arah Tara. Sebagai pria yang menyukai Tara tentu saja ia tidak suka dengan apa yang Awan lakukan.
Tak butuh waktu lama mereka sampai di rumah sakit swasta di Aceh. Karena jarak tempuh dari rumah Ratna ke rumah sakit tidak jauh. Dengan cepat Damar menggendong Tara serta berlari memanggil perawat dan dokter.
"Tolong dok! Dia pingsan. Tolong dia!" Ucap Damar dengan berteriak karena panik.
Ratna juga ikut berlari mengejar Damar. Sementara Awan memarkirkan mobil lebih dulu.
"Bagaimana bisa kayak gini kak? Bukannya kemarin sudah baikan." Tanya Damar pada Ratna.
"Mbak juga ngga tahu. Sepertinya Tara pingsan saat mengambil minum. Karena mbak hanya mendengar suara gelas yang jatuh." Jawab Ratna.
Mereka berdua menunggu di depan ruangan di mana Tara sedang di periksa.
"Semoga dia ngga apa-apa kak. Dia itu bandel sekali. Suruh periksa dari kemarin ngga mau. Hanya minum obat dari apotek saja dan sekarang jadi kayak gini. Lihat saja, kalau dia sadar mau aku omelin," Ancam Damar.
"Kamu suka Tara?" tanya Ratna.
"Kakak ngomong apa sih. Ngga jelas banget deh." Kilah Damar.
"Iya, omongan mbak tidak jelas. Tapi, dari ekspresi wajah dan sorot mata kamu yang memandang Tara begitu sudah sangat jelas kalau kamu suka dia."
"Iya, aku suka dia mbak. Aku suka Tara sejak awal bertemu dan rasanya aku semakin cinta dia." Jawab Damar jujur.
__ADS_1