
Seperti biasa di sepanjang perjalanan menuju mall Awan selalu bercanda dan menceritakan keseruannya di kampung berkumpul dengan keluarga. Tara begitu antusias mendengar cerita Awan. Sebuah keluarga yang hangat itulah yang Tara lihat dari cerita Awan.
"Di rumah kamu ramai ya? Seru deh kayaknya punya saudara banyak gitu." Ujar Tara.
"Seru pas rukun, kalau lagi berantem, ya tambah seru," jawab Awan dengan tersenyum.
"Kapan ya, punya keluarga kayak gitu. Kadang aku bayangin gimana rasanya meluk seorang ibu sambil curhat tentang lelahnya bekerja, cerita tentang pengalaman saat aku jatuh cinta. Rasanya di jemput seorang ayah sambil menggandeng kita dengan penuh sayang. Aku ingin punya sebuah keluarga," ucap Tara sambil memandang Awan dengan pandangan yang sulit untuk di artikan."
Nyeri, itulah yang di rasakan hati Awan. Betapa sederhananya keinginan wanita yang ia cintai. Sungguh Ia ingin mewujudkan keinginannya tapi, apakah bisa ia melawan kehendak kedua orang tuanya.
Di sepanjang perjalanan Awan diam tidak lagi menanggapi ucapan Tara. Rasanya begitu sesak saat mendengar suara Tara yang ingin membangun impian bersama dirinya. Apakah dirinya akan menghancurkan mimpi wanita itu? Kalau benar, dia yang memberi harapan dia pula yang menghancurkan.
"Aku beli pop corn sebentar," ucap Awan setelah membayar tiket.
"Iya, di campur aja ya biar dapat semua rasa." Pinta Tara.
"Siap bos." Jawab Awan.
Senyum manis tak surut dari bibir Tara. Baru pertama kali ia merasakan bahagia yang lepas. Tanpa rasa takut dan tanpa rasa khawatir akan hari esok. Tidak ada ancaman tidak ada tembok pembatas antara dia dan Awan. Hubungan yang sehat saling mencintai dan juga saling menghargai.
"Tuhan, tolong izinkan aku menua bersama pria yang ada bersama dengan ku. Mempunyai keluarga yang saling mengasihi. Semoga." Ucapnya dalam hati.
"Ayo, kita masuk!" Ajak Awan.
"Oke."
Mereka berjalan beriringan, berbaur dengan pasangan muda mudi yang juga sedang ingin menonton film. Di barisan nomor tiga dari belakang Tara dan Awan menikmati film yang sedang mereka tonton. Sesekali Tara berkomentar soal film tersebut. Dan Awan hanya menanggapi dengan senyuman.
Puas menonton kini mereka di sebuh restoran Jepang yang ada di dalam mall tersebut.
__ADS_1
"Kamu suka masakan di sini?" tanya Awan.
"Suka, sering aku ke sini dengan Salma dan Merry di akhir pekan. Mereka berdua suka sekali makanan Jepang." Jelas Tara.
"Oh, begitu ya. Udah lama kalian berteman? Dan ada satu pria lagi namanya Anton, sudah lama berteman juga kalian?" tanya Awan.
"Sudah lama, karena kita satu kantor. Dan Anton dia juga satu gereja bahkan hampir setiap minggu kami ke gereja bersama."
"Besok biar aku yang anterin kamu ke gereja. Ngga usah minta dia anterin kamu." Ucap Awan dengan sedikit penekanan. Ada rasa cemburu saat Tara menyebut nama Anton.
"Kamu cemburu ya? Aku kan cuma berteman sama dia."
"Iya, aku sedikit cemburu. Tapi, itu masih menjadi hak kalau kalau ingin tetap pergi bersama dia. Aku hanya menawarkan diri untuk mengantar mu ke gereja setiap minggu." Ucap Awan bijak.
Tentu saja Awan cemburu dalam hati. Tapi mengingat kembali pesan kedua orang tua nya ia tidak ingin larut dengan cinta Tara terlalu dalam. Apalagi ia juga harus mengambil sikap untuk hubungan nya dengan Tara setelah malam ini.
" Baiklah, besok antar kamu aja, ya!" pinta Tara.
Di taman kota dengan penerangan lampu warna warni yang terpasang di pohon-pohon dan beberapa lampu jalan menambah suasana gembira di hati Tara. Iya, saat ini mereka berada di taman kota. Melihat anak kecil berlarian ke sana kemari sambil menembakkan gelembung di udara. Teriakan dari pedagang yang menawarkan dagangannya kepada siapapun yang melintas di depan mereka.
"Sudah lama ngga kesini. Tambah rame dan banyak yang jualan juga." Seru Tara.
"Karena ini malam minggu tentu saja ramai. Kau ngga suka ke sini sebelumnya?" Awan bertanya karena ia merasa heran karena Tara terlihat senang.
"Suka tapi aku suka sedih kalau datang ke sini. Melihat anak-anak yang berlarian serta merengek meminta jajan pada kedua orang tuanya, tapi aku tidak pernah merasakan hal itu. Aku juga ingin seperti itu," jawab Tara dengan suara bergetar. Dan buliran bening sudah jatuh ke pipi mulusnya tanpa permisi.
"Ingat apa yang aku katakan, yang lalu biarlah berlalu. Tidak ada bahagia yang abadi dan tidak ada susah ataupun sedih yang terus menerus. Sabar adalah kunci kau harus ikhlas menjalani takdir mu. Bukankah banyak di luar sana yang nasib nya lebih buruk dari pada dirimu?"
"Iya aku paham itu. Tapi kadang sedikit berkeluh kesah dan bersedih boleh kan?" Tara bertanya balik kepada Awan.
__ADS_1
"Boleh, aku juga kadang begitu." Jawab Awan sambil memandang Tara penuh cinta.
Hidup itu tidak semulus jalan tol. Yang baik kadang selalu di uji dengan kesusahan yang tak kunjung henti. Yang berbuat jahat kadang malah hidupnya terlihat tenang dan penuh kebahagiaan.
" Tara, ada yang ingin aku sampaikan padamu," seketika Awan tertunduk ia bingung memulainya dari mana.
"Mau ngomong apa? Kelihatannya serius sekali." Tara penasaran apa yang ingin di katakan Awan.
"Kita sudahi hubungan ini. Maaf aku tidak ingin mengatakan ini tapi aku harus melakukannya ak-" Awan tidak sanggup mengucapkan lagi kalimat berikutnya yang ingin bilang kalau dirinya di jodohkan.
Jahat. Itulah satu kata yang akan dikatakan Tara. Bagaimana tidak, ia ingin membina hubungan bersama wanita yang ada di samping nya tak terhitung berapa kali ia meyakinkan Tara agar mau menerima cinta dan membuka hatinya. Dan saat dirinya sudah menempati hati wanita itu dengan tega pula ia ingin wanita itu pergi.
"Apa maksudnya? Apa aku buat kesalahan? Gara-gara aku ngga balas pesan kamu lama, ya? Maaf waktu itu aku sedang meyakinkan hatiku untuk menerima kamu seutuhnya. Karena kau tahu kan, sejak awal aku tidak percaya cinta manusia. Tapi saat aku mengenalmu, aku mulai nyaman dan aku suka semua perhatianmu pada akhirnya aku jatuh hati." Jelas Tara panjang lebar yang mengungkapkan perasaannya.
" Ngga ada salah apa-apa. Maaf aku tidak isa melanjutkan hubungan kita. Aku di jodohkan Tara. " Ucap Awan dengan air mata yang sudah mengalir tanpa permisi.
Tara menghela napas panjang. Bak di hantam batu besar. Hatinya kemarin berbunga dan hari ini layu seketika. Dan lagi hatinya harus patah lagi dan lagi. Air mata pun sudah berjatuhan dari sudut mata indahnya. Mengapa seolah takdir tidak menginginkan ia bahagia? Kenapa ia harus menjalani hidup seorang diri?
Pertanyaan bodoh perihal takdir yang Tuhan tuliskan untuknya menari indah di pikiran Tara. Apakah dia wanita pilihan yang kuat walaupun di hantam ribuan batu besar sekalipun? Apakah hatinya harus di tempa terus menerus?
"Iya, aku mengerti. Pilih lah, apa yang jadi kehendak orang tuamu. Lagi pula kita masih bisa berteman bukan?" ucap Tara yang memaksakan senyum nya kepada Awan.
Catatan author : Hai guys...
Terima kasih telah menyempatkan membaca karya ku, jangan lupa like dan komen ya 🙏🤗
Konfliknya sudah di mulai. Kira-kira Awan dan Tara bisa bersatu atau tidak ya?
Antara Cinta dan Cinta.
__ADS_1
Saat rasa itu datang dan tidak bisa di cegah.
Aku, sayang kalian ❤️