Antara Cinta Dan Cinta

Antara Cinta Dan Cinta
Ayo, kita menikah!


__ADS_3

Setelah bercerita pada Anton, Sekar merasa lebih baik. Ia hanya tinggal meyakinkan orang tuanya kalau dia dan Darren tidak bisa bersatu dalam ikatan pernikahan. Ada hati yang patah, ada yang kecewa ada juga yang senang dalam hal ini. Begitulah hidup, semua tidak bisa berjalan sesuai keinginan kita. Hidup itu tidak semulus paha model.


***


Awan masih setia datang ke rumah sakit setiap hari. Ia akan datang sore hari dan menginap untuk menjaga Tara. Entahlah, terbuat dari apa hati pria ini. Begitu baik dan dengan tulus memberikan perhatian nya untuk Tara.


Tak terhitung berapa kali Tara marah dan menolak kehadiran Awan. Tapi, seolah itu tak berarti untuk pria asal Salatiga ini.


"Kamu ngga capek setiap hari ke sini?" tanya Tara yang melihat Awan meletakkan tas nya di meja kecil samping ranjang Tara.


"Ngga." Jawab Awan.


"Aku nanti pulang, ini nunggu kak Ratna dan Damar jemput." Ujar.


"Sama aku aja, ngga usah mereka ke sini lagi. Sebentar, aku telepon Damar biar ngga usah jemput.


" Sama kak Ratna aja. Ngga mau kalau sama kamu aja berdua." Tolak Tara dengan halus.

__ADS_1


" Tapi, aku mau. Udah nurut aja!"


Tara mengerucutkan bibirnya. Antara ia senang dan juga jengkel. Awan tidak terima penolakan. Selalu memaksakan kehendak nya. Ya, walaupun itu memang untuk kebaikan nya.


Awan segera membantu Tara untuk mengemas pakaiannya. Sesaat setelah tadi ia telepon Damar agar tidak menjemput Tara di rumah sakit.


"Udah pesan taksi online kah?" tanya Tara.


"Sudah, ayo kita pulang!" Awan mengulurkan tangan kanan nya pada Tara.


"Ayo," jawab Tara yang langsung berjalan mendahului Awan.


***


Dua orang hanya diam dan sesekali saling lirik. Minuman hangat yang mereka pesan sudah dingin. Bahkan makanan pun tak tersentuh sedikit pun. Seolah lidah mereka kelu. Bingung harus memulai dari mana percakapan mereka. Bahkan jam di dinding pun mencemooh kebodohan mereka. Waktu berlalu tapi mereka hanya berhadapan tanpa kata.


Ego keduanya saling berperang dalam pikiran. Hati menjerit mengiba sebuah rasa. Ingin mengulang segala rasa yang pernah terjalin dulu. Ingin memeluk tanpa ada sekat, ingin mencumbu tanpa ada batas.

__ADS_1


"Aku-" Ucap mereka bersamaan.


"Kamu dulu!" Ujar sang wanita.


"Ladies first." Ucap sang pria.


Wanita itu menarik napas dalam-dalam menghirup pasokan oksigen sebanyak mungkin untuk memenuhi rongga paru-paru nya.


"Mau apa kita bertemu? Belum cukup kau hancurkan hidupku? Oh, iya pria memang selalu seperti itu. Saat semua sudah di dapat ia akan pergi dan membuang wanita itu layaknya sebuah sampah." Ucap Salma dengan bergetar.


"Iya, maaf kan aku." Darren hanya mampu berucap kata itu. Ia tak memungkiri sedikit pun kesalahan nya.


"Atau jangan-jangan kau tak puas dengan wanita mu yang sekarang ya?" tanya Salma menohok.


"Maaf kan aku." Jawab Darren lagi.


Tak dapat berucap hal lain, hanya kata itu yang mampu ia ucapkan. Sungguh ia lah yang paling menderita sebenarnya saat melihat Salma terpuruk dengan melampiaskan nya pada alkohol dan pesta di klub malam.

__ADS_1


"Jangan katakan maaf, kalau kau ngga benar-benar tahu apa maknanya. Aku muak dengan pria seperti kau. Aku muak, Darren."


"Tampar aku, maki aku sepuas mu. Dan, ayo kita menikah!"


__ADS_2