
Tara tak bergeming. Ia masih menatap Salma dengan air mata yang juga sudah membasahi pipinya. Ia tak bisa menyalahkan Salma. Karena apa yang di katakan sahabat nya benar.
"Pergi!" Salma kembali berteriak.
Tara mendekat ke arah sahabat nya. "Maaf," ucapnya sambil menunduk.
"Apa kamu tahu, apa makna kata maaf itu?"
"Salma, maaf." Hanya kata itu yang mampu Tara ucapkan.
Tara memeluk Salma. Ia menangis tersedu meluapkan rasa rindu nya pada sang sahabat. Betapa ia rindu dengan sosok Salma yang penuh canda itu. Hanya kata maaf yang mampu Tara ucapkan. Maaf karena dia pergi begitu saja, maaf karena ia meninggalkan sahabatnya. Maaf untuk semua yang ia lakukan.
"Lepas! Lepasin gue! Salma meronta ia menolak pelukan Tara. Rasa marah dan kecewa masih menguasai diri Salma.
" Maki aku, pukul aku, ayo lakukan kalau itu bisa buat kamu maafin aku, "
" Ngga mau, maafin kamu. Ngga mau, " Salma masih menangis tersedu. Tangan kanan nya mulai mendekap tubuh ramping Tara.
__ADS_1
Inilah yang namanya sahabat sejati. Tanpa memandang status tanpa mengharap kembali saat yang lain memberi. Rindu saat jauh, ikut sakit kalau dia sakit dan tidak bisa benar-benar marah. Rasa marah dan sakit hatinya hanya sesaat semua kalah dengan persahabatan yang tulus.
"Tega banget sih lo, ninggalin gue. Lo ngga ada kabar, lo ngga anggap gue sahabat, Ra!"
"Maaf, Salma."
Kedua orang yang saling bersahabat itu melepas rindu dengan saling berpelukan. Anton dan Merry ikut terharu melihat keduanya bisa bertemu kembali.
"Udah nangis nya?" tanya Merry.
"Kayak lo, ngga nangis sih Mer." Protes Salma.
Mereka bertiga berpelukan. Sambil tertawa bahagia. Pada akhirnya Tara kembali ke Jakarta dan bersama Salma lagi.
"Jadi, gimana dong?" tanya Salma.
Mereka bertempat sedang nongkrong untuk sekedar minum kopi di sebuah cafe dekat kantor.
__ADS_1
"Em, kamu masih cinta ngga?" tanya Tara.
"Masih lah, kelihatan tuh pandangan nya sama Darren ngga lepas." Saut Anton.
"Sama kayak kamu yang masih cinta sama Tara kan?" Tak mau kalah Salma melontarkan pertanyaan yang membuat Anton bungkam seketika.
"Alasan, gue takut jatuh cinta ya, gini." Merry menggelengkan kepala nya.
Diantara mereka, Merry adalah pribadi paling tertutup soal percintaan. Bahkan ia tidak mau mengenal yang namanya pria. Kegagalan dari orang tuanya lah, yang membuat Merry enggan untuk jatuh cinta. Paras nya cantik, sifat nya tak di ragukan lagi ia baik. Keturunan ras Cina dan Jawa, mata bulat nya dan kulit nya yang putih akan membuat siapa saja terpesona. Tapi tak satupun pria yang mampu meluluhkan hati Merry.
"Rasanya itu..." Salma menggantungkan ucapannya.
"Indah, dan juga dahsyat, tapi-"
Tara memotong perkataan Anton.
"Tapi juga perih." Ucap Tara lirih.
__ADS_1
Cinta adalah rasa yang indah, dahsyat juga perih. Akan ada suka dan juga tak jarang banyak duka di dalam nya. Perlu pengorbanan dan tetesan air mata yang harus di rasakan dua insan dalam suatu hubungan yang mengatasnamakan cinta.
" Hadeh, makanya gue ngga mau jatuh cinta. Jomblo bahagia itu sesuatu buat gue. Ngga kayak kalian merana tanpa daya. Nangis di pojokan karena senang dan juga sedih. Heleh, cinta oh... cinta... bikin sahabat gue gila." Ucap Merry.