Antara Cinta Dan Cinta

Antara Cinta Dan Cinta
Aku mencintai dia karena Allah, dan aku memilih tidak bersama juga karena-Nya.


__ADS_3

"Kamu ngapain di sini?" tanya Salma yang baru saja datang. Ia heran melihat Anton yang berdiri di depan pintu.


"Ngga apa-apa." Jawab Anton cuek lalu meninggalkan Salma begitu saja.


"Dasar pria tua labil. Ditanya baik-baik malah jawabnya kayak gitu," Salma merasa sebal atas jawaban Anton.


Ceklek...Salma membuka pintu.


"Good morning every body." Ucap Salma.


Tara dengan cepat membersihkan sisa air mata yang masih membasahi pipinya.


"Lo, sepi sekali. Belum pada datang ya? Atau mereka semua langsung ke lapangan?" ucap Salma lalu mendudukkan tubuhnya.


Bukannya menjawab Tara segera bangkit dari tempat duduk dan keluar meninggalkan Salma.


"Ra, mau kemana? Tara, Ra!" tanya Salma yang tidak di hiraukan oleh Tara.


"Tadi Anton sekarang Tara kalian ini kenapa sih. Gue jadi bingung bimbang bambang membayang." Celetuk Salma pada dirinya sendiri.


Setelah beberapa menit Anton masuk ke ruangan yang kemudian di susul Tara. Keduanya hanya diam dan tak saling bertegur sapa. Salma yang melihat itu merasa heran.


" Kalian kenapa? Dari tadi diam saja. Eh, Tara kok mata kamu sembab kamu habis nangis ya?" Tanya Salma.


"Ngga." Jawab Tara.

__ADS_1


"Anton kamu ngapain Tara? Gue lihat dari tadi kalian diam saja." Salma berkacak pinggang menghadap Anton meminta penjelasan kepada pria itu.


"Ngga ada apa-apa." Jawab Anton.


"Sudahlah, percuma minta penjelasan dari kalian berdua. Percuma ngga mau ngomong juga. Udah ah, gue mau keluar aja. Di sini gue kayak lagi kerja sama patung." Salma mengambil tas warna hitam miliknya yang ada di atas meja lalu segera keluar dari ruangan.


Beberapa hari kemudian.


" Tara apa ini maksudnya?" tanya Salma. Ia menunjukkan sebuah pesan dari Merry yang memberitahu kalau Tara mengundurkan diri dari pekerjaannya.


"Kenapa? Kebiasaan pagi-pagi heboh sendiri." Jawab Tara dengan tenang.


"Lo mau ninggalin gue ya? Ini kenapa lo mau keluar dari pekerjaan? Kenapa, Ra?" Salma sedikit berteriak kepada Tara.


"Hem, bisa ngomong pelan-pelan ngga? Gue belum tuli."


Perasaan sedih yang akan kehilangan sahabat nya. Mereka sudah bekerja bersama hampir dua tahun bahkan saat Salma terpuruk pun, Tara adalah orang pertama yang menyediakan pundak untuknya. Tapi kenapa sekarang Tara mau pergi? Apakah ada sesuatu yang ia tidak tahu?


"Nanti gue kasih tahu. Sekarang kita kerja dulu ya? Jam kerja masih satu jam lagi. Oh, iya kita shoping yuk! Selain makan di restoran yang enak dan murah, ntar gue yang traktir." Ucap Tara terlihat tenang menjawab pertanyaan Salma.


"Ra, lo ngga apa-apa kan?" tanya Salma lagi, kini air matanya sudah mulai berjatuhan.


...----------------...


Di tempat lain Awan bersama keluarganya sedang perjalanan menuju ke rumah wanita pilihan orang tua nya. Tanpa bertemu Awan sudah menyetujui perjodohan tersebut. Pertama karena sebagai baktinya kepada kedua orang tua dan kedua dia berpikir tidak akan mungkin bisa dirinya bersatu dengan Tara.

__ADS_1


"Kenapa kok diam saja dari tadi?" tanya ibu yang melihat Awan hanya melamun sambil memandang ke arah luar jendela mobil.


"Lihat pemandangan bu. Udah lama ngga lihat yang hijau-hijau gini." Jawab Awan berbohong.


" Ibu kira kamu kenapa. Kamu kepikiran wanita yang ada di Jakarta itu?" tanya ibu Awan.


Ibunya tahu perihal hubungan nya dengan Tara. Rasa cintanya kepada wanita yang ia sakiti hatinya begitu besar tapi ia tidak bisa menuruti egonya. Ada banyak hal yang ia pertimbangan untuk memilih wanita yang di jodohkan dengan nya dari pada Tara. Cinta itu tidak salah dan kita tidak bisa mencegah kapan akan datang dan pada siapa ia datang.


"Iya, hanya memikirkan saja bu. Tidak lebih, karena aku tahu kita tidak mungkin bersama." Jawab Awan.


"Apa kamu yakin akan hal itu mas? Siapa tahu wanita itu mau pindah keyakinan demi cinta nya sama mas Awan. Bukankah tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini." Celetuk Hafis.


"Mungkin dia ngga mau. Dia rajin beribadah juga. Dan mas ngga mau hanya karena cinta nya pada mas membuat dirinya murka dengan keyakinan nya. Selama kita bersama tidak pernah sekalipun mas meminta dia untuk pindah keyakinan begitupun dengan dia. Mas seperti teman biasa untuknya tapi ada perasan diantara kita. Sesekali mas bercerita tentang kisah nabi kita Muhammad SAW. Bahkan masih ingat saat mas cerita tentang putri kesayangan baginda rasul Fatimah Az Zahra dia sampai meneteskan air mata. Hatinya baik dan dia mudah tersentuh akan hal-hal kecil sekalipun. Wajahnya sedikit jutek saat kenalan pertama dengan orang. Tapi saat kau kenal dia kau akan menemukan kebaikan yang luar biasa tulus darinya. Sungguh mas ingin menjadi sandaran untuknya, ingin menjadi rumah baginya sungguh semua karena Allah." Ucap Awan panjang lebar saat mengingat kebersamaan nya dengan Tara. Ia menunduk lalu air mata lolos begitu saja tanpa permisi.


Cinta nya singkat namun terasa membekas bukan bahagia yang di berikan kepada Tara tapi luka yang ia torehkan. Bahkan Awan setiap malam tidak bisa tidur. Sering keluar dari kamar, berjalan keluar untuk melihat apakah lampu kamar Tara sudah padam untuk memastikan wanita itu sudah tidur nyenyak. Betapa ia menahan diri agar tidak mengirim pesan kepada Tara walaupun hanya mengucapkan selamat malam atau selamat pagi. Bukan ia ingin memutus tali silaturahmi tapi dengan cara itulah agar dirinya bisa melupakan Tara.


"Jadi mas ngga pernah tanya pada dia?" tanya Hafis lagi.


"Ngga dek. Karena juga saat itu mas di kampung sudah di jodohkan. Mas sudah mengiyakan perjodohan yang bapak ibu atur dan pada beberapa menit kemudian ia mengirim pesan dirinya mau membangun sebuah hubungan bersama mas. Ngga apa-apa mungkin kita tidak berjodoh. Mas sudah ikhlas, begitupun dengan dia."


" Bukan kah kalau cinta itu di perjuangkan mas? Tapi saya pikir mas belum berjuang apa-apa." Lagi-lagi Hafis bertanya kepada Awan dan mengutarakan pendapatnya perihal usaha Awan untuk mendapatkan Tara.


" Usaha yang seperti apa? Jika rasa cinta mas dan dia begitu besar. Misal mas minta dia untuk pindah keyakinan apakah dia mau? Atau begitupun sebaliknya. Dia meminta bukti cinta mas, dan meminta mas untuk ikut keyakinan nya apakah harus mas penuhi?" Bukan menjawab pertanyaan sang adik, Awan malah bertanya balik.


Hafis dan semua orang yang di dalam mobil terdiam dengan apa yang ucapan yang di lontarkan Awan. Apa yang di katakan dirinya benar. Dan mungkin berpisah adalah jalan terbaik untuk mereka.

__ADS_1


"Aku mencinta dia karena Allah, dan aku memilih tidak bersama juga karena Allah. Ini keputusan ku."


__ADS_2