Antara Cinta Dan Cinta

Antara Cinta Dan Cinta
Harapan yang ku pikir indah, ternyata hanya semu.


__ADS_3

Aku diam bukan berarti aku tidak tahu apapun. Mataku melihat, telingaku pendengar dan hatiku juga bisa merasakan. Tapi bibirku bungkam. Karena aku tidak berhak untuk bicara perihal sakit yang kau rasa. Tapi kapanpun kau butuh pundak bersandar aku akan selalu menyediakan nya. Aku adalah pria yang selalu besama mu tapi tidak bisa bersatu denganmu.


- ***Anton*** -


Iya, aku mengerti. Pilih lah, apa yang jadi kehendak orang tuamu. Lagi pula kita masih bisa berteman bukan?" ucap Tara yang memaksakan senyum nya kepada Awan.


" Ra, maafkan aku." Ucap Awan dengan penuh penyesalan.


" Iya, ngga apa-apa. Kalau kita tidak bersama artinya kita tidak jodoh. Yuk, pulang udah malam," Ajak Tara. Wanita itu segera berdiri dan berjalan menuju tempat parkir mobi.


Awan hanya melihat Tara dari belakang dengan mata yang sudah memerah menahan tangis. Berat, tapi inilah jalan yang harus ia ambil.


Mobil Awan melaju dengan kecepatan sedang. Di dalam mobil tak ada obrolan dari keduanya. Hanya sesekali Awan melirik Tara yang memandang keluar.


"Aku masuk dulu, makasih untuk hari ini," ucap Tara tersenyum lalu masuk ke dalam kamar kost nya.


"Iya." Jawab Awan.


Tara masuk dan menutup pintu kamar nya rapat- rapat. Seketika tubuh Tara luruh di atas lantai keramik warna putih tak ada ruangan atau teriakan yang terlontar dari bibirnya. Memukul pelan dadanya yang terasa sesak. Baru saja ia menaruh harapan kepada seseorang yang ia pikir akan bisa di jadikan tempat bersandar, tapi kenyataannya takdir tidak mengizinkannya.


"Maafkan aku Tara, maaf... maaf.... Aku terlalu pengecut jadi pria, tidak bisa memperjuangkan cinta kita. Maaf," ucap Awan yang juga menangis di dalam kamar kos.


Hanya kata maaf yang Awan ucapkan berkali-kali. Dari awal dia tahu bahwa dirinya dan Tara mungkin tidak bisa bersama karena berbeda keyakinan. Sebuah rasa yang muncul dari hati yang di sebut cinta muncul dan tidak bisa dilakukan cegah. Sekarang dirinya harus mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan tersebut.


Setelah malam itu Tara bersikap biasa saja. Seolah tidak ada rasa sakit pada dirinya. Semua tidak ada yang berubah senyumnya masih sama. Bahkan Salma juga tidak tahu kesedihan Tara saat ini. Dia masih bekerja dengan Awan membahas semua pekerjaan tanpa melibatkan perasaan.

__ADS_1


"Ini ada titipan makanan dari mama," Ujar Anton ia meletakkan paper bah berwarna putih tepat di depan Tara.


"Wow... apa ini? Makasih. Udah lama ngga ketemu tante gimana kabarnya?" Tara mengucapkan terima kasih dan menanyakan kabar mama Anton.


" Itu masakan mama. Kabar mama baik, dan beliau juga berpesan kapan-kapan suruh main ke rumah. Kangen kamu katanya."


" Iya, deh kapan-kapan aku ke rumah kamu."


" Tara, are you okay?" tanya Anton.


"I'am okay." Jawab Tara.


Anton membuang napas kasar. Ia tahu pasti Tara tidak akan mengatakan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja. Dia pandai menutup sedihnya di depan orang lain tapi tidak di depan Anton.


"Mataku melihat, telingaku mendengar dan hatiku bisa merasakan. Tapi bibirku bungkam. Aku tidak berhak bertanya apapun perihal apa yang membuatmu sedih." Ucap Anton.


"Aku ngga lagi bersedih. Aku baik-baik saja." Jawab Tara datar.


"Semakin kamu bilang baik-baik saja justru di situ semakin kamu rapuh. Jangan sok kuat kalau memang kamu sedang dalam keadaan lemah."


Tara sejenak diam lalu menghela napas panjang. Percuma menutupi kesedihannya dari Anton yang memang sudah banyak makan asam garam. Satu-satunya yang harus ia lakukan adalah jujur tentang apa yang ia alami. Kalau tidak, Anton tidak akan bertanya tapi dia akan memberikan perhatian yang lebih kepadanya dan Tara tidak ingin hal itu terjadi.


"Iya, aku sedang jatuh di lembah lautan cinta. Bayangan indah harapan bersama ternyata hanya semu. Berharap pada manusia adalah sebuah lelucon terbodoh. Sekarang aku tahu dan aku harus lebih sadar diri, iya sadar diri. Tidak ada orang yang benar-benar bisa di jadikan tempat bersandar. Dan lucunya angan gue udah melambung tinggi. Bukan dia yang salah, tapi aku yang terlalu berharap," Ujar Tara panjang lebar.


" Sejak awal bukankah kau tahu, bahwa Awan dan kau tidak mudah untuk bersama. Tapi kenapa kau ngga bisa lawan rasa cinta mu itu. Bukankah kau tahu ini adalah konsekuensi yang harus kamu ambil." Ada sedikit getaran emosi di nada suara Anton.

__ADS_1


Iya, dia tahu bahwa Tara dan Awan tidak akan mudah bersatu. Dan wanita yang ada di depannya ini masih saja menaruh harapan. Lalu apa yang harus wanita itu pilih? Cinta pada Tuhannya atau cinta dari seorang pria yang belum pasti bisa memberikan kebahagiaan sampai akhir.


"Aku selalu bilang bahwa orang yang sedang jatuh cinta itu akan menjadi keras kepala. Dan sekarang aku mengalami hal itu. Awan di jodohkan orang tuanya. Dan aku bilang dia harus memilih wanita yang di pulihkan orang tuanya. Aku sudah sendiri di dunia ini sejak awal dan kesedihan beberapa kali tidak akan mudah menjatuhkan diriku. Hal sakit dan kesepian biasa ku rasa, dan aku sudah terbiasa. Jadi, jangan khawatir tuan Anton," Tara berucap dengan datar tanpa ekspresi.


" Jadi karena di jodohkan? Tapi harusnya dia bisa memperjuangkan hubungan kalian."


" Ngga ada yang perlu di perjuangkan. Sudah jangan di bahas lagi. Semua udah berlalu." Tara tidak mau mengingat tentang Awan.


"Oh, iya aku dan dia juga masih berteman dengan baik." Lanjutnya kemudian.


"Tapi, Ra-" Suara Anton tertahan.


"Stop! Jangan di bahas lagi," Tara mengangkat tangan kanan nya sebagai isyarat agar Anton tidak melanjutkan pembicaraan yang membahas masalah hubungan nya dan Awan.


"Baiklah kalau itu mau kamu. Tapi ingat aku ada bersama dengan mu. Datang kapanpun kalau butuh pundak untuk bersandar. Itupun kalau kamu mau," ucap Anton dengan tulus lalu ia pergi keluar ruangan meninggalkan Tara begitu saja.


Tangis Tara pecah saat pintu tertutup sempurna. Ia tahu Anton selalu ada untuknya tapi ia tidak bisa bersandar di pundak pria itu. Salma dan Merry juga di sibukkan dengan pekerjaan mereka yang sering luar kota. Sungguh ia tidak mau membebani siapapun. Ia memilih memendam semua sendiri.


Anton tidak benar-benar pergi, ia masih berada di balik pintu ruangan kerjanya. Samar terdengar isakan tangis dari dalam. Saat ini wanita yang ia cintai sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Catatan author : Hai guys, jangan lupa like dan komen ya 🤗


Di chapter ini aku nulis sampai nangis. Perasaan cinta yang tiba-tiba harus di lupakan begitu saja. Harapan yang indah ingin di raih tapi pada akhirnya hanya semu belaka. Ya, tapi beginilah kadang hidup. Kita sebagai manusia hanya bisa berencana dan semua yang menentukan adalah Tuhan. Bukankah kesedihan dan kebahagiaan itu akan datang silih berganti?


Kadang capek dan ya, tak jarang ada keluhan yang terlantar dari bibir kita. Tapi, itu hanya sesaat. Bangkit lagi, dan semangat lagi. Ingat bahagia itu ada dan nyata.

__ADS_1


Salam sayang dariku ❤️


__ADS_2