
Ia masih mencoba lagi dan lagi tapi belum juga berhasil. Setelah hampir tiga puluh menit akhirnya Awan meletakkan ponselnya di atas nakas. Dan ia berbaring di atas ranjang. Tak lama kemudian napasnya mulai teratur iapun terlelap karena rasa ngantuk.
Hari pernikahan pun tiba. Ruang tamu yang di sulap sedemikian rupa akan terlihat cantik saat acara pesta. Rombongan dari mempelai pria juga sudah mulai berdatangan. Karena sebentar lagi ijab kobul akan di laksanakan.
"Arman, jangan lari ke sana! Sini aja tante kasih permen." Pinta Aini, dengan napa yang naik turun. Ia pagi ini sedikit kualahan dengan tingkah keponakan nya yang baru berumur tiga tahun.
Bukannya mendekat ke arah Aini, keponakannya itu semakin berlari mendekat ke arah kerumunan orang-orang.
" Astagfirullah, capek juga ngasuh bocah umur tiga tahun," keluh Aini sambil sesekali menyeka keringat.
Arman duduk di depan seorang laki-laki yang memakai baju putih dan celana hitam. Ia memandang ke arah pria itu tanpa kedip.
Aini masih bingung mau ke sana menjemput Arman atau ia memanggil kakaknya. Tapi, bukankah tadi kakaknya masih sibuk. Dengan perasaan yang bingung akhirnya Aini mendekat ke arah rombongan besan.
"Adik kecil yang lucu, mana mama kamu nak?Ini bakpao isi nya penuh sekali. Rasa kacang ijo atau cokelat." Hafis dengan gemas mencubit pipi gembul Arman.
"Itu, mama," tunjuk Arman ke arah Aini yang mulai mendekat ke arah nya Hafis dan Arman.
Hafis menoleh ke arah Aini. Pandangan nya tak lepas dari wanita itu. Wajahnya yang cantik serta santun itulah kesan pertama yang dilihat Hafis. Kemudian dia sadar bahwa Arman bilang kalau ia mama nya.
"Astagfirullah, istri orang aku pandangi terus," ucap Hafis lalu mengalihkan pandangan nya.
"Arman, ayo masuk udah di panggil mama tuh. Tante gendong ya?" Ujar Aini dengan mengulurkan kedua tangan nya bersiap untung menggendong Arman.
"Lah, ini bukan anak mbak ya?" tanya Hafis dengan spontan.
Aini tersenyum lalu menjawab. "Bukan, mas. Ini Arman anak dari kakak pertama saya. Kebetulan mama nya sedang di rias tadi dan papa nya juga sibuk menyambut rombongan besan tadi. Jadi, anaknya sama saya."
"Hem... tadi di tanya Om nunjuk ke sana di kira mama nya beneran lo. Alhamdulillah kalau bukan jadi, Om masih punya kesempatan dong. Bismillah semoga berjodoh." Ujar Hafis dengan lirih agar tidak di dengar Aini.
__ADS_1
Saat melihat Aini pertama kali dia sudah kagum dengan kecantikan tentunya dan dari cara pakaian Aini itu mencerminkan seorang wanita sholehah. Hafis berharap ia bisa berjodoh dengan wanita yang baru ia jumpai ini.
"Mama lama sekali, aku udah capek," Arman berlari ke arah seorang wanita yang tadi sudah berada di belakang Aini. Dia adalah mama Arman.
Arman meninggalkan Hafis dan Aini yang masih diam di tempat. Ia sudah tidak peduli lagi dengan dua orang yang sedang di buat pusing olehnya.
"Kan benar itu mama nya mas. Mungkin mbak Desi tadi jalan di belakang saya." Ucap Aini menjelaskan.
"Iya juga ya mbak, saya yang tidak memperhatikan. Kenalkan saya, Hafis. Nama mbak siapa?" tanya Hafis dan sambil memperkenalkan diri.
"Nama, saya A-" ucapan Aini tertahan saat seseorang memanggil.
"Nduk ke sini sebentar!" pinta seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah tante Aini.
"Maaf mas, saya ke dalam dulu, assalamualaikum," Aini melipat kedua tangannya di dada sebagai tanda salam pamit pada Hafis. Lalu ia berjalan mengikuti tante nya.
"Waalaikumsalam, calon makmum ku." Jawab Hafis.
"Nanti bilang bapak untuk melamar dia." Lanjut Hafis.
"Mau melamar siapa kamu? Emang ada yang mau?" tanya Awan yang mendekat ke tempat duduk Hafis.
Awan merasa heran melihat adiknya yang senyum-senyum sendiri dari tadi.
"Ada wanita cantik dan sholeh. Sepertinya dia adiknya mbak Nur deh. Sungguh aku ingin menikahi dia karena Allah kak." Jawab Hafis.
"Yakin kamu?" tanya Awan memastikan lagi tentang pernyataan adiknya.
"Yakin kak." Jawab Hafis tanpa ada keraguan.
__ADS_1
Ternyata Aini juga tertarik dengan Hafis. Pria itu terlihat sopan dan juga tampan. Tanpa ia sadari setelah bertemu dengan Hafis ia tersenyum sendiri.
"Kamu kenapa nduk, kok senyum-senyum sendiri?" tanya Tante Aini.
"Ngga apa-apa tante."
"Kayak lagi jatuh cinta pada pandangan pertama aja." Tebak Tante Aini.
"Tante asal tebak aja deh. Udah ngga apa-apa. Itu tadi Arman biasa tingkah nya bikin aku ketawa. Masa tadi ada yang tanya mana mama nya, aku yang di tunjuk." Aini sengaja menceritakan tentang keponakannya.
"Oh, tante kira kamu sedang jatuh cinta."
Saat acara ijab kobul sudah selesai sekarang waktunya menikmati hidangan yang tersaji sambil berbincang dengan kerabat. Karena memang acara ijab kobul di laksanakan di rumah yang hanya di hadiri dua belah pihak keluarga. Untuk resepsi akan di adakan besok di salah satu hotel di Salatiga.
Aini mendekat ke arah Abah dan Umi nya. Ia merasa heran apakah ada hal yang penting yang akan di sampaikan kedua orang tuanya.
"Abah manggil Aini ada apa ya?" Aini bertanya sesaat setelah pendudukan tubuhnya di samping umi.
"Abah kasih tahu pria yang akan abah jodohkan dengan kamu. Dia ada di salah satu rombongan besan Abah. Dia sepupu dari mas Hasan."
"Mana abah? Banyak pria di sana. Bingung aku lihatnya. Mana semua juga ganteng-ganteng." Celetuk Aini sambil bercanda.
"Sebentar, abah juga masih mencari. Nah, itu dia yang memakai kemeja putih duduk di barisan belakang," tunjuk Abah ke arah Awan yang sedang menyantap nasi rawon.
Aini masih diam menutup mata dan menghela napas panjang. Ia takut melihat ke arah pria yang di jodohkan dengan dirinya. Seandainya ia punya kekuatan untuk bilang ke abah bahwa tadi ia melihat pria yang tampan dan juga sholeh. Apakah abah nya akan menghentikan niat nya untuk menjodohkan dirinya dengan anak sahabatnya. Walaupun keputusan tetap di tangan Aini tapi ia tak kuasa menolak permintaan kedua orang tuanya. Karena ia berpikir pilihan orang tua pasti baik untuknya. Ya, walaupun tidak semua pilihan itu baik.
Dengan perlahan Aini membuka mata lalu melihat pria itu. Spontan ia menutup mulutnya. Apakah ia sedang mimpi kenapa bisa kebetulan seperti ini. Jantungnya berdegup kencang dalam hati ia tidak berhenti untuk beristigfar.
"Gimana menurut kamu, nak? Abah tegaskan sekali lagi keputusan ada di tangan mu." Tanya Abah yang menepuk pundak anak bungsunya. Pandangan abah sudah tidak lagi melihat ke arah Awan. Ia sudah berbalik dan melihat ke arah Aini.
__ADS_1
"Ya Allah, apakah dia benar akan menjadi takdir ku?" ucap Aini lirih, tanpa di sadari air matanya menetes tanpa permisi.