
Tara dengan susah payah menelan makanan nya. Setelah suapan ke empat ia meletakkan mangkuk berisi bubur di atas nampan. Demam dan mual yang hebat di perut membuatnya menghentikan kunyahan nya.
"Ngga di habisin dek?" tanya Ratna.
"Ngga mbak , rasanya udah penuh perut Tara."
"Yasudah, ini obatnya di minum!" Pinta Ratna. Ia menyerahkan sebutir obat parasetamol pada Tara.
Tara segera mengambil obat tersebut dan meminumnya. Setelah itu kembali membaringkan badannya.
"Istirahat lah, mbak mau menyiapkan keperluan Azam dulu." Pamit Ratna. Ia bergegas keluar untuk menemui sang buah hati.
Tara segera merebahkan tubuhnya kembali.
__ADS_1
"Apa yang aku keluhan kepada mu Tuhan? Jawabannya adalah tidak ada. Aku di buang dan tidak mendapatkan cinta dari kedua orang tuaku. Tapi aku punya keluarga lain. Hati ku yang dulu beku, juga sudah bisa mencair. Aku mendapatkan cinta dari pria yang luar biasa walaupun aku tidak bisa bersatu dengannya. Tak apa, semua ini sudah cukup dan aku bahagia. " Ucap Tara dalam hati.
Perlahan, Tara memejamkan matanya. Rasa kantuk karena efek obat yang ia minum.
Di Jakarta
Di ruangan kerja tempat Tara kerja dulu semua berjalan dengan baik. Bahkan sudah ada karyawan baru pengganti Tara. Tak kalah ramai dengan Tara, ia juga suka sekali bercanda dengan semua nya. Tawa mereka bertiga menggema di ruangan. Tapi tidak untuk satu pria, yaitu Anton. Ia diam tanpa mau berkomentar ataupun sekedar menimpali candaan mereka.
"Ngga ada yang berubah sama gue. Kalau rindu, gue ngga jawab lo udah tahu jawabannya." Jawab Anton tanpa ekspresi.
"Sekarang lo lebih banyak diam. Seolah menganggap kita itu patung. Hanya selamat pagi, selamat sore , apa ngga ada obrolan lain?" Merry mulai meninggikan nada suaranya.
"Merry, dari dulu gue redup. Dan sekarang tetap redup."
__ADS_1
"Apa maksudnya lo bilang kayak gitu!" Seru Merry.
"Sebelum Tara datang, gue sudah begini. Saat dia datang memberi warna dan cahaya. Semua berubah indah dan terang. Dan saat cahaya itu hilang, gue yang dulu redup kembali lagi."
"Bukannya lo udah rela kalau dia sama Awan waktu itu. Lalu kenapa seolah sekarang lo adalah manusia paling menderita di bumi. Apakah selemah ini kaum pria?" Ucap Merry dengan kalimat yang menohok.
"Demi Tuhan gue rela Tara bahagia dengan Awan. Tapi, dia sekarang ngga bahagia Merry. Lantas, apakah gue juga layak bahagia, kalau gue adalah salah satu pria penyebab sakit nya Tara? Gue paling tahu dia seperti apa setelah Salma. Gue selalu lihat kedua mata indahnya sembab setelah berdoa. Gue lihat dia diam-diam meneteskan air mata saat melihat ada anak perempuan yang di gendong dan dia cium orang tua nya dengan penuh cinta. Dia se rapuh itu Merry, gue lihat semua nya gue lihat. Sekarang dia pergi entah kemana, gue yakin dia ngga baik-baik saja." Jelas Anton panjang lebar.
" Gue yakin Tara adalah wanita yang kuat. Dia baik ke semua, dan tentunya dia juga akan mendapatkan kebaikan pula." Ucap Merry.
" Itu pasti, Merry. Gue selalu berharap ia bahagia. "
" Kita semua menginginkan hal itu. Yakin lah, semua akan baik-baik saja. " Saut Salma. Ia ikut menimpali obrolan Merry dan Anton.
__ADS_1