
Satu bulan kemudian.
Kehidupan Tara kembali seperti semula sebelum mengenal Awan. Ia masih menjadi wanita yang ramah tapi ada sisi misteriusnya.
"Malam ini ke restoran baru yang ada di kawasan Kalideres."
"Boleh, jam berapa?" Jawab Tara dan juga bertanya pada Anton.
"Jam setengah tujuh aku jemput ya? Oh, iya, satu lagi, jangan dandan cantik ya!"
Tara menautkan alis nya karena heran. Di mana-mana minta pasangan nya dandan yang cantik, lah, ini malah kebalikannya. Agak aneh memang ini Anton.
"Lo kok aku pengen tampil cantik di depan Anton. Duh, ada yang salah ini sama hatiku." Ucap Tara dalam hati.
"Oke, lagian mau dandan atau ngga sama aja aku jelek kok."
"Cantik kok buat gue. Udah, kerja lagi buat masa depan kita. Dan sampai bertemu nanti malam ya!" Ujar Anton.
Pria itu kembali ke tempat duduknya untuk melanjutkan lagi pekerjaan.
"Kalian mau kencan ya?" tanya Salma.
Biasa lah, miss kepo selalu ingin urusan orang lain. Udah urusi suami satu ngga cukup masih aja urusin masalah sahabatnya.
"Mau tahu aja, apa mau tahu banget?"
"Mulai nyebelin lo ya!" protes Salma.
__ADS_1
"Kan niru gaya, lo yang nyebelin itu. Lagian urus suami kamu tuh! Bukan urus orang lain."
"Udah gue urus, palingan yang dia butuhin juga sentuhan gue di malam hari."
"Kejar setoran ya?" tanya Tara sambil tertawa.
"Iya, nih, belum juga jadi. Padahal tiap hari udah ngebut bikinnya." Ucap Salma dengan sendu.
"Anak itu rejeki dari Tuhan. Akan ada saat nya datang di waktu yang tepat. Terus lah, berusaha dan jangan patah semangat dalam berdoa." Tara memberikan nasihat pada Salma.
"Iya, aku akan berusaha lebih keras lagi," ucap Salma dengan mengepalkan satu tangan nya.
"Nah gitu dong, baru sahabat ku."
Tara memeluk Salma, saling memberi dukungan dan menguatkan satu sama lain.
"Yuk, kita nikah!" Ajak Anton tiba-tiba.
Uhuk.... Tara tersedak mendengar perkataan Anton. Kebetulan ia sedang minum saat Anton mengucapkan kata itu.
"Maaf," dengan sigap Anton mengambil tisu dan memberikan nya pada Tara.
"Huh, ngagetin aja."
"Jadi, gimana? Mau ngga?" tanya Anton.
__ADS_1
Pria itu tidak suka basa-basi ia akan langsung ke inti percakapan. Walaupun itu hal lamaran karena dia bukan tipe yang bisa romantis.
"Oh iya, soal nenek jangan khawatir. Beliau sudah setuju kok. Kapan-kapan kalau dia ke Tangerang mau ketemu kamu langsung."
"Untuk apa?"
"Untuk minta maaf. Lagian juga ini kan hidupku, aku yang tentukan . Yang penting mama dan papa setuju. Bahkan mama paling mendukung hubungan kita. Jangan khawatir!"
"Aku pikirkan dulu,"
"Aku tunggu satu jam dari sekarang."
"Apa satu jam, ngga sekalian satu menit sekalian. Tuan Anton yang suka maksa."
"Ngga bisa nyonya Anton. Udah pernah kehilangan kesempatan sekali, dan sekarang ngga mau lagi kehilangan."
"Jadi, bagaimana? Mau aja ya?"
Tara mencubit dengan keras lengan kanan Anton. Ada saja pria melamar dengan paksa seperti dia.
"Aduh! Ini namanya penganiayaan pada suami," Anton memang bekas cubitan Tara yang sedikit terasa perih.
"Masih calon, belum sah jadi suami." Jawab Tara dengan lirih.
"Apa? Jadi mau, di ajak nikah?"
"Mau tapi ada syarat nya."
__ADS_1
"Syarat apa?"