
Tara diam sejenak, lalu melanjutkan ucapannya.
"Waktu itu aku pulang gereja, dan di ajak mampir ke rumah Anton. Kebetulan orang tua dan saudaranya juga sudah kenal aku lama karena kita satu gereja. Tapi saat aku ke rumahnya ada nenek Anton yang berkunjung. Awal mula dia baik Salma. Tapi, saat aku akan pulang dia mencium pipiku sambil berbisik jangan sampai aku jadi bagian dari keluarganya karena status sosial kami berbeda. Saat itu aku yang mulai ingin bergantung pada Anton dan mulai membuka hati jadi menutup kembali pintu hatiku." Jawab Tara menjelaskan panjang lebar.
" Apa? Atas dasar apa kamu tidak boleh jadi bagian dari keluarga nya? Kamu cantik baik, dan kamu juga wanita yang sangat mandiri dan punya karir yang bagus. Dan bukankah seandainya kalian berjodoh, sampai menikah yang penting kamu dan Anton bukan?" Tanya Salma yang masih kaget dengan penuturan Tara.
" Pernikahan tidak se simpel itu Salma. Bukan hanya dari mempelai pria dan wanita yang memang di dasari cinta. Tapi, juga menyatukan dua keluarga. Dan seperti yang kamu lihat, aku tidak memiliki keluarga. Aku tidak pernah bersandar di pundak seorang wanita yang bernama ibu. Aku tidak pernah bermanja merengek kepada pria yang di sebut ayah. Saat semua orang bilang cinta yang tulus dari orang tua, aku justru tak pernah mendapat itu. Aku di buang aku di abaikan aku tidak diinginkan Salma. Dan pada akhirnya aku tidak percaya cinta."
" Anton tahu soal itu?"
" Tentu saja tidak tahu. Aku tahu dia seperti apa, jadi tentu saja hal seperti ini tidak akan aku beritahu. Ku pikir apa yang di katakan nenek nya benar. Aku tidak layak berada di keluarga nya. Dan juga aku tidak akan berada di tempat yang tidak bisa menerima diriku. Aku masih bisa bersama yang lain dan aku akan tetap bahagia dengan caraku. "
" Kau hebat sekali, gue salut sama lo Ra. Oh, iya dan Awan, kok bisa suka sama dia apa alasannya? "
" Selama enam bulan lebih aku kenal dia. Selalu ada saja sikap dari dia yang buat gue kagum. Cara bicara, sopan dan dia juga taat beribadah. Dia juga selalu bercanda saat aku lagi bad mood. Cara dia menghibur cara di menegur saat aku salah. Semua yang ada pada dirinya aku suka."
" Iya, Awan memang sangat baik ku pikir wanita yang bersama dia akan beruntung nantinya. Dan, gue berharap itu lo."
Tara tersenyum menanggapi ucapan Salma. Dia sendiri juga bingung dengan apa yang akan ia lakukan nanti. Dia dan Awan berbeda keyakinan. Tidak akan mudah untuk mereka bersatu. Tara akan tetap membentengi hatinya sendiri. Akan jadi orang yang tetap tahu diri dan tidak akan berharap lebih. Karena tidak mudah untuk dirinya diterima di keluarga Awan nantinya.
"Entah lah, gue ngga berharap banyak." Ucap Tara dengan sendu.
__ADS_1
"Ngga boleh gitu, pasti semua ada jalannya kalau kalian berjodoh."
"Iya aku tahu, dan semua jalan yang ku lalui terlalu terjal dan banyak batu kerikil. Kadang lelah ya kembali lagi beginilah hidup. Tak ada kebahagiaan yang kekal dan tidak ada kesusahan terus menerus. Karena Tuhan sudah atur semuanya baik."
Salma ikut sedih mendengar cerita Tara. Ia malu karena selama ini masih berkeluh kesah padahal ia punya keluarga utuh punya saudara di sayang semua orang dan tidak pernah kurang satu apapun. Satu contoh bahwa hidup itu akan seimbang kalau ada sedih dan bahagia. Ada saat jumpa dan juga ada saatnya berpisah.
Di Salatiga.
Awan dan semua keluarga pulang ke rumah setelah acara selesai. Seluruh keluarga masih berkumpul di rumah nenek. Kini mereka berada di ruang keluarga dan saling bercengkrama.
"Nah kurang Awan dan Hafis ini yang belum sold out. Ngomong-ngomong kapan kalian nyusul Hasan?" tanya Tante Awan.
"Mana? Kenalin sini sama ibu dan kalau berani langsung ke rumah nya lamar dia." Tanya ibu dan juga menyarankan untuk segera melamar gadis yang di maksud anaknya tersebut.
"Namnya aja aku ngga tahu bu, gimana mau lamar. Oh, iya mbak Nur pasti tahu. Nanti aku tanya deh. Kebetulan tadi ketemu di rumah mbak Nur. Jelas Hafis.
" Mungkin dia salah satu tamu di sana. Atau masih kelurahan jauh dari Nur. Besok coba ibu telepon dia juga untuk menanyakan."
"Nah, ide yang bagus bu. Hafis tunggu kabar baiknya ya, bu." Kali ini Hafis berharap bisq segera mengetahui siapa nama gadis yang ia lihat tadi pagi.
Awan dan yang lainnya hanya mendengarkan obrolan mereka tanpa menimpali sedikit pun. Rasanya sudah lelah seharian di acara pernikahan tadi.
__ADS_1
" Bu, Awan ke kamar dulu. Ngantuk mau tidur sebentar," ucap Awan meminta izin pada sang ibu lalu ia beranjak dari tempat duduknya.
"Eh, sebentar ayah mau bicara sebentar."
Dahi Awan berkerut dalam. Ia heran ada apa ayahnya ingin bicara dengan nya.
"Boleh, mau bicara apa ayah?" Tanya Awan.
Sang ayah berdiri dan menepuk pelan pundak Awan tanda ia ingin mengajak sang anak untuk mengikuti dirinya. Tanpa bertanya Awan yang sudah tahu maksud dari sang ayah langsung mengikuti langkahnya dari belakang.
"Ada apa ayah ingin bicara dengan ku? Apakah ada hal teng yang penting?" Tanya Awan yang sudah tidak sabar ingin mengetahui maksud ayahnya.
"Iya, tentang obrolan kita di telepon beberapa waktu lalu. Ayah ingin menjodohkan kamu dengan anak sahabat ayah. InsyaAllah gadis itu baik dan sholehah. Kalau kamu bersedia bapak dan ibu akan sangat senang. Lagi pula usia kamu juga sudah cukup untuk berumah tangga." Ucap Ayah.
Deg...
Awan tidak mampu berkata-kata selama beberapa menit. Pikirannya kosong seketika dan denyut jantung nya berdegup lebih kencang. Ada rasa takut dan juga bersalah. Tentu saja ini tidak akan mudah untuknya. Bagaimana mungkin ia bisa menolak permintaan orang tuanya. Sementara di sisi lain ada nama wanita lain di hatinya. Takdir apakah yang sedang mempermainkan mereka? Antara cinta kepada orang tua dan juga cinta kepada wanita yang ia ingin jaga.
Sesat ia menunduk sambil beristighfar dalam hati. Akankah ia melukai orang-orang yang ia sayang? Cinta nya pada Tara salah dari awal dan dia tahu itu. Tapi bukankah perasaan yang muncul dari hati itu susah untuk di cegah?
"Kamu kenapa diam? Apa kamu sudah ada wanita lain yang kamu cintai?" tanya ayah, ia melihat Awan tertunduk dan diam membuatnya heran.
__ADS_1