
...Bukan aku tidak ingin menerima dirimu. Tapi, aku adalah aku yang tidak punya apa-apa untuk di banggakan. Aku tidak pantas untukmu dan aku takut memulai sebuah hubungan....
Masih marah ya? Jawab nya hem doang."
"Udah ngga usah di bahas."
"Oke. Gimana kalau setelah pulang dari gereja kita pergi ke suatu tempat?" Ajak Tara.
Anton menoleh ke arah Tara seraya berucap "Tumben ngajak pergi duluan, biasanya di ajak aja ngga mau. Emang mau kemana?"
"Em, entah lah bingung juga mau kemana. Enakan di kost rebahan sambil baca novel online aja di aplikasi noveltoon . Oh, iya aku ada bacaan baru bagus tentang kehidupan setelah menikah yang berjudul With You Again kasihan protagonis wanitanya mirip gue gitu sebatang kara yang berjuang gitu, seru ceritanya." Jelas Tara yang dengan semangat menceritakan sebuah novel kesukaannya.
" Yasudah pikir dulu mu ke mana."
Tara diam sambil memangku dagunya. Ia memikirkan hendak pergi kemana bersama Anton.
Mobil yang di kemudikan Anton berhenti di depan sebuah gereja. Dengan segera ia turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Tara. Siapapun yang melihat pasti akan mengira mereka adalah sepasang kekasih. Tapi kenyataannya tidak seperti itu.
"Makasih," ucap Tara sambil tersenyum. Ia membuka seat belt lalu beranjak turun.
"Jangan senyum gitu terus, gue bisa makin cinta sama lo."
"Heleh, apaan cinta? Gue ngga ngerti makanan apa itu?" Tara pura-pura tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan Anton dan berbalik bertanya.
"Makanya lo cobain lah dikit! Pasti ketagihan ntar." Pinta Anton.
__ADS_1
"Big no." Tolak Tara dengan tegas.
Tidak mau berdebat lagi dengan Tara, Anton segera berjalan meninggalkan Tara yang masih berdiri di samping mobil miliknya. Bukan ia tidak peduli dengan Tara. Terkadang Anton lelah membujuk wanita yang sedang bersama dirinya. Saat bibir berucap ingin melepaskan tapi kenyataannya hati masih terpaut dan rasa yang ia rasakan kepada Tara makin dalam. Sifat dan sikap Tara mampu membuat Anton susah menghilangkan perasaan nya kepada wanita asal Surabaya tersebut.
Bahkan Anton beberapa kali mencoba membuka hati untuk wanita lain tapi, kenyataannya hal itu tidak mudah. Ia masih saja menginginkan Tara. Mereka sama-sama keras. Yang satu hatinya sudah jatuh dan tak bisa beranjak pergi. Yang satu belum bisa membuka hati karena luka dan rasa kecewa di masa lalu.
Orang bilang waktu bisa menyembuhkan luka dan semua akan baik-baik saja. Tapi kenyataannya Tara tidak demikian. Ia takut membina hubungan, ia takut kecewa ia takut semua hal. Menurut tidak ada yang benar-benar tulus dan baik selain Tuhan itulah yang jadi pemikiran Tara.
"Anton, tunggu! Kenapa lo ninggalin gue?" Protes Tara, ia sedikit berlari untuk mengejar Anton.
Karena yang di panggil tidak berhenti ataupun menoleh sama sekali Tara memanggil lagi dengan sedikit berteriak "Vinsensius Anton Hermawan tunggu!"
Seketika Anton berhenti walaupun ia tidak menoleh ke belakang. Kalau nama lengkapnya sudah di sebut seperti ini ia yakin Tara sedang marah. Ia masih diam di tempat sambil menunggu wanita pujaannya.
"Anton, kau jalan cepat sekali. Gue pakai haigh heels jadi susah jalan cepat. Kau mau kaki ku lecet?" Keluh Tara.
"Ngga ada." Jawab Tara dengan ketus. Lalu ia berjalan cepat meninggalkan Anton yang masih diam di tempat.
Tara dan Anton duduk di barisan belakang. Biasanya anak muda akan duduk di barisan belakang seperti mereka.
Tara menutup mata dan melipat kedua tangan di depan dada seraya berdoa.
"Tuhan, laki-laki yang ada di sebelah ku baik. Tapi sungguh aku belum bisa membuka hatiku. Biarlah dia bahagia dengan perempuan lain." Ucap Tara dalam hati.
"Perempuan yang ada di sampingku, sungguh aku begitu mencinta dia dari hati dan seluruh jiwa. Tuhan, jika aku boleh meminta aku ingin menghabiskan sisa umur ku bersamanya, membina keluarga dan akan aku curahkan kasih dan sayang utuh untuknya. Iya, sebuah keluarga yang utuh dan penuh cinta di dalamnya. Cukup sudah penderitaan nya dulu, jangan lagi di hari esok dan hari-hari berikutnya." Ucap Anton. Ia berdoa meminta semua kebaikan untuk perempuan yang ia cinta.
__ADS_1
Waktu memang bisa mengubah segalanya. Tapi, segalanya membutuhkan waktu. Seperti hati Tara, rasa percayanya kepada manusia itu tipis, ibarat selembar tisu. Menurut dia tidak ada cinta tulus selain cinta dari Tuhan. Tara hanya belum bisa, ia butuh waktu lebih lama lagi agar bisa merasakan cinta dari Anton.
" Mau kemana kita?" tanya Anton.
Laki-laki tersebut masih fokus dengan kemudinya. Ia tidak sedikit pun menoleh kearah Tara.
Tara menghentikan aktivitas nya yang sedang berselancar di media sosial miliknya. Ia menoleh ke arah Anton sambil berkata. "Kita ke mall saja, gimana?"
"Oke, kita ke mall."
Tara membuang napas kasar. Ia merasa Anton masih marah padanya. Karena tidak biasanya laki-laki tersebut terlihat cuek terhadap Tara.
"Masih marah, ya?" Tanya Tara dengan lirih.
"Ngga." Jawab Anton.
"Pulang aja, ngga usah ke mall." Tara berucap dengan nada yang sedikit ketus.
Tiba-tiba Anton menghentikan mobilnya. Laki-laki tersebut terlihat diam serta pandangan masih fokus ke depan. Sepertinya ada yang sedang ia pikirkan.
"Kenapa berhenti mendadak?"
"Ngga apa-apa. Tara, kenapa lo ngga bisa buka hati buat gue? Dan anehnya gue ngga bisa buka hati gue buat perempuan lain. Setiap doa yang gue panjatkan, selalu berharap lo bisa lihat tulusnya cinta gue. Bingung harus dengan cara apa agar hati kamu yang beku itu bisa cair." Anton bicara tanpa menoleh sedikit pun ke arah Tara.
" Lihat gue! Lo itu baik dan punya segalanya. Tapi lihat perempuan yang ada di samping lo kayak gini, gue ngga punya apa-apa yang bisa banggakan. Lo hidup kuat karena kasih sayang orang tua. Sedangkan gue kuat karena luka. Lo tahu kenapa alasan gue ketemu Mama lo selalu peluk? Gue rindu pelukan seorang Ibu. Hari-hari gue selalu terlihat tegar dan penuh senyum. Tapi, gue selalu menangis di gelapnya malam. Bukan gue ngga terima nasib, tapi gue ingin memulai hubungan takut. Gue takut terluka gue takut di buang gue takut kecewa gue takut semua hal. Gue takut semua Anton, " Tara menunduk setelah berucap dengan lantang dan bulir bening sudah lolos dari kedua sudut mata indahnya.
__ADS_1
Tidak ada sautan lagi dari Anton. Laki-laki tersebut merengkuh tubuh ramping Tara. Ada penyesalan dalam diri laki-laki tersebut. Semua gara-gara dirinya yang selalu menanyakan bagaimana mencairkan hati Tara yang beku. Kenapa perempuan tersebut sulit sekali membuka hati. Anton lupa kalau tidak ada siapapun yang bisa mengubah hati seseorang kecuali orang yang punya hati tersebut.
Iya, cinta itu tidak bisa di paksakan. Bukan sang pejuang yang kurang gigih tapi hati yang pernah terluka yang sudah beku lah yang susah mencair.