Antara Cinta Dan Cinta

Antara Cinta Dan Cinta
Bertemu kembali.


__ADS_3

Kau yang pergi mungkin memang tak kembali. Jadi, biarlah aku yang mencari dan pada akhirnya berhasil mengikat hati.


- ***Awan*** -


Ratna menutup mulut tak percaya. Apa ini takdir, atau hanya kebetulan semata? Jarak jauh yang di ambil Tara tak berarti sekarang. Kini mereka berdua kembali dekat. Bahkan saat Tara sakit Awan ada di sisinya.


"Boleh saya, mendekat kak?" tanya Awan pada Ratna.


"Boleh silahkan." Jawab Ratna.


Pria tampan dengan senyum khas lesung pipi itu mendekat. Hatinya berdebar dan mata nya mulai berkaca-kaca. Ia duduk di samping tubuh Tara. Matanya terpejam hatinya tak henti berucap syukur.


"Tara, aku ada di sini. Bangun lah! Aku menunggu mu," pinta Awan dengan lirih. Ia tertunduk serta cairan bening lolos begitu saja tanpa permisi dari sudut mata indahnya.


Sayangnya wanita yang ada di hadapan nya tak bisa mendengar. Hanya wajah pucat nya yang masih terlihat cantik walaupun tanpa makeup. Tidur nya sangat nyenyak, hingga ia enggan untuk bangun.


"Biarkan ia istirahat dulu. Nanti kita ke mari lagi." Ujar Damar. Ia tidak ingin Awan mengganggu istirahat Tara.


"Kalian pergilah! Aku akan menunggu dia sampai bangun." Ucap Awan dengan tegas.

__ADS_1


"Tapi, pak-" Ucapan Damar terhenti saat melihat isyarat tangan dari Awan.


"Aku tahu apa yang aku lakukan. Tolong percaya padaku, dan pergilah! Kalian istirahat lah di rumah. Saat Tara bangun saya akan mengabari kalian." Ucap Awan dengan tegas.


"Ayo, kita pulang! Kakak percaya sama dia," ajak Ratna yang menggandeng tangan Damar dengan paksa.


Di ruangan yang kurang dari 3x3 meter tersebut sunyi. Hanya bunyi jarum jam yang terdengar nyari g di telinga. Awan dengan setia menunggu Tara untuk bangun tapi sudah hampir malam tak kunjung bangun juga.


"Udah waktunya sholat maghrib, aku sholat dulu saja di mushola rumah sakit." Ucap Awan yang hanya di dengar dirinya sendiri.


Awan bergegas ke mushola saat suara adzan sudah terdengar. Tak ada yang akan membuat ia tenang selain menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim.


Setelah melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim Awan kembali ke ruangan Tara. Hatinya lebih tenang saat ia mengadu kepada Allah SWT. Ia menarik napas dalam-dalam saat sudah sampai di depan ruangan.


Ceklek...


"Assalamualaikum," ucap Awan memberi salam dengan tersenyum saat melihat Tara sedang duduk menatap ke arah jendela.


"Waalaikumsalam," jawab Tara yang juga mengalihkan pandangan nya kepada Awan.

__ADS_1


Deg... Tara merasa sesak melingkupi rongga paru-paru nya. Bagaimana mungkin Awan bisa di hadapan nya saat ini. Sedangkan dia sudah pergi jauh.


"Alhamdulillah kamu sudah bangun. Aku panggil dokter dulu," ujar Awan, tangan kanan nya menekan tombol yang ada di atas ranjang Tara untuk memanggil dokter.


"Kamu kok ada di sini?" tanya Tara.


"Aku di pindah tugaskan di sini. Baru siang sampai." Jawab Awan.


"Maksudku kenapa kamu bisa di rumah sakit sama aku?" Tara mengulang lagi pertanyaan nya.


" Takdir." Jawab Awan.


Tara diam dan dengan cepat ia memalingkan wajahnya ke jendela.


"Aku di sini, kenapa kau lihat ke sana?" tanya Awan dengan lembut.


" Kenapa kita bertemu lagi?" tanya Tara. Mata nya sudah digenangi air mata.


"Kau memang pergi, tapi aku selalu mencari." Jawab Awan.

__ADS_1


__ADS_2