
Tak terasa sudah satu jam Karan berada dalam ruangannya, selama itu jika galah istri dan putranya tidur di dalam kamar pribadinya. Dia juga belum menyadari istri dan putranya berada kamar pribadinya.
Karan memanggil Sekretaris barunya, itu untuk masuk keruangan nya.
"Chaca bawakan berkas yang tadi saya suruh kamu periksa, sekarang!" perintah Karan di telepon.
Hanya beberapa detik saja, Chaca sudah mengketok pintu ruangan Karan. Setelah mendengar suara perintah dari Karan, Chaca langsung masuk kedalam sambil berjalan dengan langkah bergaya. Dia ingin membuat Karan terpikat olehnya.
***
Angel yang lagi tidur, terganggu karena putranya memukul wajahnya dengan pelan. Angel dengan pelan-pelan membuka matanya, dia melihat putranya sudah terbangun.
"Papa" ucap putranya sambil menarik tangan Angel. Angel langsung duduk.
"Baiklah sayang. Kita lihat papa sudah datang apa belum, ya!" ucap Angel. Angel pun merapikan bajunya yang sudah terlihat berantakan, dan rambutnya. Setelah dia merasa dirinya sudah rapi kembali. Angel langsung menurunkan putranya dari tempat tidur.
***
Saat Chaca memberikan dokumen yang dibutukan Karan, dengan sengaja Chaca meletakkan dokumen itu di dekat kopi Karan, sehingga kopi Karan terjatuh dan mengenai baju Karan.
Dengan berakting panik Chaca mendekati Karan dan mengambil tissue yang ada dimeja Karan.
"Maaf, pak! Saya tidak sengaja!" ucap Chaca sambil mengelap kopi yang tertumpah di baju Karan. Dengan penuh menggoda Chaca sengaja menundukkan tubuhnya, untuk memperlihatkan dadanya kepada Karan, karena baju yang dipakainya bagian dadanya terjatuh. Karan menolak bantuan dari Chaca, dia tahu kalau saat ini Chaca berusaha menggodanya.
Karan tidak menyadari kalau istri dan anaknya melihat semua kejadian itu. Adelio yang sudah tampak kelihatan dewasa dan pintar, meskipun masih berumur satu tahun lebih, mengerti perasaan mamanya, karena dia melihat mamanya meneteskan air mata.
Adelio langsung menarik tangannya dari mamanya, dan menghampiri papanya.
"Papa!" teriak Adelio dengan gaya berkaca pinggang.
__ADS_1
Karan dan Chaca sangat kaget mendengar suara Adelio di ruangan Karan. Karan langsung mendorong tubuh Chaca dari dirinya dan bangkit berdiri dari kursinya, Chaca pun hampir terjatuh karena perbuatan Karan.
"Lio, sayang!" ucap Karan yang masih fokus kepada putranya. Karan masih kaget dan bingung sejak kapan putranya berada di ruangannya.
Adelio langsung mengalihkan pandangannya ke mamanya, Karan mengikuti arah pandangan putranya.
"Sayang!" ucap Karan dengan gugup. Dia melihat wajah cantik istrinya berada di ruangan kamar pribadinya. Karan langsung berlari mendekati istrinya.
"Sayang kapan kalian datang?" tanya Karan kepada Angel setelah berdiri didepan Angel. Dan dia melihat jelas air mata istrinya sudah keluar.
"Apa dia melihat semuanya? Ya, Tuhan jangan sampai dia salah paham!" gumam Karan dalam hatinya. Karan langsung menarik kedua tangan Angel dan menggemgam nya.
"Sayang apa yang kamu lihat, tidak lah semuanya benar! Jangan salah paham saya g!" ucap Karan dengan panik. Angel hanya diam saja, dia terus menatap suaminya.
"Hai, bibi! Apa kamu mau merebut papa, ku?" ucap Adelio dengan berteriak sambil menatap Chaca tajam.
Chaca yang dari tadi hanya diam saja, dia bingung dengan apa yang terjadi.
"Jangan seperti itu sayang!" ucap Karan kepada putranya. Dia tidak suka melihat putra berbicara kasar dan tidak sopan pada orang yang lebih tua.
Angel pun langsung masuk ke kamar dan mengambil tasnya. Setelah mengambil tasnya, Angel mendekati Karan dan putranya. Tanpa aba-aba Angel menggendong putranya dan membawanya pergi. Sebelum melangkah jauh, Karan menarik tangan Angel.
"Sayang dengarkan dulu penjelasan ku!" ucap Karan. Angel tetap diam saja, dia langsung menarik tangannya dari genggaman Karan. Setelah Angel keluar, Karan menatap tajam Chaca. Chaca sangat takut ketika melihat tatapan Karan yang sangat tajam padanya, sangat berbeda tatapan Karan padanya yang tadi.
"Maaf, pak!" ucap Chaca dengan gugup sambil menundukkan wajahnya.
"Tubuh, mu tidak sebanding dengan tubuh istriku! Sekarang kamu dipecat!" ucap Karan dengan tajam.
Mendengar dia dipecat Chaca jadi lemas, seolah kakinya tidak sanggup menopang tubuhnya sehingga dia jatuh lemas kelantai sambil menangis.
__ADS_1
Tanpa mengketok pintu Frans masuk kedalam, dan dia mendengar semua ucapan Karan.
"Kenapa nona Angel menangis bos?" tanya Frans.
Flass back
Sebelum, masuk ke ruangan Karan, Frans melihat Angel dan Adelio depan lift. Dia melihat Angel menghapus air mata yang mengalir di pipinya, dan Adelio memeluk mamanya dengan erat seolah memberi kekuatan pada mamanya. Frans pun berinisiatif berjalan mendekati Angel, dia ingin tahu kenapa Angel menangis. Tapi, percuma saat dia mendekati Angel langsung masuk kedalam Lift. Jadi dia pun langsung berlari keruangan Karan, dia takut Karan telah melakukan hal yang kasar pada Angel.
Saat dia berjalan mendekati ruangan Karan, dia tidak melihat sekretaris Karan yang baru di mejanya. Dan dia juga mendengar suara Karan berbicara dengan suara yang dingin. Dan tanpa ijin dari Karan, Frans langsung masuk kedalam. Karan melihat Chaca sudah menangis dan duduk dilantai.
Flass back end
"Aku harus mengejarnya! Sekarang kamu urus dia! Kemari kunci, mu!" ucap Karan pada Frans. Frans pun hanya menganggukkan kepalanya saja. Sedangkan Karan langsung berlari setelah mendapatkan kunci dari Karan.
Dengan cepat, Karan melajukan mobilnya, berharap istri dan anaknya belum pergi jauh. Saat keluar dari gedung perusahaannya, Karan melihat anak dan istrinya baru saja naik taxi. Karan pun mengejar taxi yang ditumpangi istrinya. Dengan kecepatan tinggi, akhirnya Karan bisa menghalangi taxi itu.
Supir taxi, Angel dan Adelio sangat kaget, ketika mobil mereka dihalangi, dan yang membuat Angel semakin terkejut, saat Karan keluar dari mobil yang menghalangi taxi yang di naikkan ya.
"Papa!" ucap Adelio dengan senyum, dia sangat senang melihat papanya datang kepada mereka.
Karan langsung membuka pintu belakang taxi itu. Saat dia membuka dengan tanpa ragu-ragu Karan langsung berlutut. Supir taxi itu hanya bisa diam saja, dia tidak mau ikut campur. Karena dia tahu, itu urusan rumah tangga orang lain.
"Sayang, maaf! Itu tidak seperti yang kamu pikirkan sayang! Hanya kamu wanita yang ada di hatiku!" ucap Karan sambil menggemgam tangan Angel.
"Siapa dia?" tanya Angel dengan menahan suara tangisnya tidak keluar.
"Dia sekretaris ku sayang. Aku hanya mencintai mu, sayang! Aku tidak ada punya hubungan dengannya sayang. Percayalah!" ucap Karan. Angel menatap mata Karan, dia ingin lihat kebenaran dari mata suaminya itu.
Angel melihat tidak menunjukan kebohongan dari mata suaminya. Entah kenapa dia langsung menangis ketika mengingat bagaimana dekatnya perempuan itu kepada suaminya.
__ADS_1
***