ARSEN

ARSEN
Terima Kasih Untuk Semuanya


__ADS_3

Mereka berjalan beriringan satu sama lain. Motor Arsen memimpin di depan, mata tajam itu fokus ke jalanan. Sedangkan Ervan ada di sisi kanan sambil berbicara dengan Amel dan di ikuti Jimmy di sisi kiri yang hanya fokus dengan perjalanannya.


Ervan melajukan motornya ke sisi kanan Arsen, Ia membuka kaca helm fullface nya dan sedikit mendekat ke arah Arsen.


"Sen cari makan dulu lah, laper nih" sebelah tangan Ervan mengelus perutnya. Arsen hanya menjawab dengan anggukan kepalanya. Ervan membelok kan motornya mendekati Jimmy, "Cari makan dulu" seru Ervan, Jimmy hanya mengangguk.


Mereka menepikan motor mereka ke bahu jalan dan memarkirkan motor sport itu di sebelah gerobak nasi goreng. Arsen melepas helm fullface nya, rambut yang acak - acakan membuat perhatian seluruh pelanggan yang sedang makan teralihkan ke arahnya, dan tetap saja Arsen memilih tidak peduli dengan tatapan kekaguman mereka.


"Guys, kita makan dulu ya. Gue laper banget soalnya" Ervan langsung mencari tempat duduk.


"Ah elah Van, keburu kemalaman ntar" sungut Amel.


"Bentaran doang Mel, bokap lo kan juga kenal sama gue gak usah takut lah" Ervan menggidikan bahunya.


"Lo gapapa pulang malam?" Arsen duduk di sebelah Yasmine.


"Gapapa kok gue udah bilang sama bokap gue" Yasmine menunduk di hadapan Arsen, setiap di dekat Arsen Ia akan sangat malu - malu kucing.


"Bang Nasi gorengnya 6 ya" tangan Ervam membentuk enam jari.


"Ada tambahan gak kang?" si penjual nasi goreng itu meracik bumbu untuk membuat nasi goreng.


"Punya saya gak usah pake telor bang" Yasmine menampak kan kepalanya pada penjual nasi goreng itu.


"Gue juga gak pake" sambar Amel.


"Gue sama juga" timpal Sandra.


Ketiga laki - laki itu menatap bingung pada mereka, kenapa mereka serentak tidak pakai telur.


"Lo pada lagi diet ya?" Ervan menatap curiga pada ketiga perempuan itu.


"Ah sewot aja lo Van" Amel menatap malas pada Ervan.


Tak lama pesanan mereka tiba di atas meja, 6 porsi nasi goreng. 3 porsi dengan telur dan 3 porsi tanpa telur.


"Buruan abisin, ini udah malam" Arsen menatap serius pada teman - temannya. Merka hanya menganggukan kepala yang menandakan mereka setuju.


Setelah selesai makan mereka langsung menuju ke motor masing - masing. Arsen dan lainnya memakai helm fullface mereka masing - masing. Arsen memimpin perjalanan mereka, Jimmy dan Ervan tepat di belakang Arsen.


Terdengar suara deru motor sport dari arah belakang, Jimmy yang mendengar suara motor itu mengurangi kecepatannya dan menghadap ke arah belakang, dan benar saja di belakang mereka ada sekumpulan geng motor yang sangat ramai dengan mengenakan motor sport berwarna hijau dan jaket berlambang "W" sudah jelas mereka adalah Warrior.


Ervan juga mendengar hal yang sama Ia menepikan motornya di sebelah Jimmy, "Warrior Jim?" Ervan menatap serius pada Jimmy, "Iya Van".


Amel yang merasa takut akan hal itu langsung bertanya pada Ervan, "Van ada yang ngikutin kita dari belakang" Amel menoleh ke arah belakang sekali lagi.


"Lo tenang aja. Pegangan yang kuat" Amel memegang pinggang Ervan.


Sandra menoleh ke belakang Ia tidak takut seperti Amel, "Musuh lo?" Sandra mendekatkan bibirnya di telinga helm Jimmy.


"Iya San, lo tenang aja gue bakal lindungin lo" Jimmy meyakinkan Sandra.


Jimmy menambah kecepatan motornya dan mendekat ke sisi kiri Arsen, " Ada Warrior di belakang kita Sen" Jimmy menatap Arsen.


"Sialan!" umpat Arsen dalam hati.


"Kita hadapi Warrior malam ini!" ketus Arsen.


"Apa kita perlu hubungin anak - anak. Mereka banyak juga" Jimmy masih di sisi kiri Arsen.


Arsen menoleh ke arah Jimmy, "Gak perlu, kita aja udah cukup".


Jimmy memberikan kode pada Ervan dengan mengacungkan jari telujuk ke arah depan. Yasmine yang mendengar kata Warrior langsung bergidik ngeri, haruskah hal ini terjadi lagi?


Warrior menambah kecepatan mereka untuk mengimbangi motor Arsen yang berada paling depan. Mereka mengahadangi jalan Arsen, menggeber - geberkan motor mereka untuk membuat lawannya ketakutan. Tapi hal itu tidak membuat Arsen takut, hanya membuat Yasmine saja yang takut.


Arsen mematikan motor sportnya, Jimmy dan Ervan juga mengikuti Arsen. Arsen turun dari motornya dan melepaskan helm fullface nya dan di ikuti oleh Jimmy dan Ervan.


"Kalian bertiga diem disini. Saling jaga satu sama lain!" ketus Arsen.


Arsen berjalan santai ke arah lawannya di ikuti oleh Jimmy dan Ervan. Arsen menatap tajam dan serius pada ketua geng Warrior yakini Petra.

__ADS_1


"Mau apa lagi lo?!" dengan suara dingin dan ketus khas milik Arsen membuat Petra hanya tersenyum jahat.


"Gue mau cewe lo semua." Petra tersenyum nakal pada Yasmine, Yasmine yang menyadari hal itu langsung teringat kejadian beberapa hari lalu yang membuatnya begitu takut. Amel hanya menunduk ketakutan dan Sandra terlihat tenang tanpa ada rada takut sama sekali.


"Lo gak usah ganggu mereka! Kalo ada masalah selesaiin aja sama kita!" Arsen menatap pada kedua sahabatnya.


"Berisik lo! Serang!" Petra memerintahkan anak buahnya untuk menghabis Arsen dan teman - temannya.


**Bugh


Bugh


Bugh**


Arsen berhasil menangkis serangan anak buah Petra, Jimmy dan Ervan tidak kesulitan melawan Warrior karna pasalnya mereka semua jago bela diri.


"Maju lo sialan!" umpat salah seorang anak buah Petra.


"Berisik!" Jimmy menghabisi laki - laki itu tanpa ada perlawanan dari lawannya itu.


Arsen masih melawan anak buah Petra, "Sialan lo!" pekik Arsen, Arsen melawan tiga orang anak Warrior tanpa ada kesulitan sedikit pun, "Bugh...Bugh...Bugh" bogeman itu mampu membuat lawan Arsen kalah telak.


"Gini kok mau ngelawan kita. Dasar lemah!" ejek Ervan sambil menginjak bahu kanan lawannya. Karna terlalu serius melawan Warrior mereka tidak sadar jika Petra dan anak buah yang lainnya mencuri kesempatan mendekat ke arah tiga perempuan cantik itu.


"Come on baby, yesterday we failed play and know please play with us!" Petra mendekatkan telinga nya ke arah Yasmine.


"Lo jangan kurang ajar ya!" Yasmine berusaha memberanikan dirinya di hadapan Petra.


"Dasar brengsek!" umpat Sandra pada teman Petra yang sejak tadi memandangi dirinya dengan tatapan nakal.


"Arghh... Gila lo ya!" Amel sudah tidak tahan lagi dengan situasi ini, Ia menendang tulang kering Arsen dan menarik Yasmine ke arah belakang dirinya.


"Shit!" umpat Petra, karna kesal Petra menampar pipi kanan Amel, Sandra juga mendapat tamparan dari laki - laki yang Ia umpati tadi. "Plak" suara tamparan itu membuat Arsen dan yang lainnya menoleh ke sunber suara.


"Ame Sandral!" teriak Yasmine


Sejenak Amel tertunduk dan terdiam, Ia benar - benar kaget dengan tamparan itu. Ia menyentuh bekas tamparan tadi.


"Sialan lo petra!" Ervan membogem wajah Petra dengan tinjuan nya yang bertubi - tubi, "Bugh...Bugh...Bugh" darah segar mengalir dari hidung mancung Petra.


"Lo apaiin cewe gue Brengsek!" Jimmy mencengkram kerja baju laki - laki itu, "Mati aja lo sialan!" Jimmy menghabisi lawannya tanpa ampun sedikit pun.


Yasmine terlihat ketakutan, karna sangat ketakutan Ia hampir tumbang dan tepat di belakangnya Arsen berdiri untuk menangkap tubuh semampai itu. Mata Arsen dan Yasmine saling bertemu sama lain, terlihat Yasmine hampir menitikan air matanya karna melihat kejadian itu.


Setelah selesai menghabisi Warrior, Ervan dan Jimmy menghampiri Amel dan Sandra.


"Mel mana yang sakit?" Ervan menarik tangan Amel.


"Gue takut Van, gue ketakutan" Amel menangis di pelukan Ervan, Ervan dengan sabar mengelus punggung Amel.


"Udah jangan takut lagi ya. Gue di sini Mel" Ervan berusah menenangkan keadaan Amel.


"Sandra!" pekik Jimmy.


"Aku gapapa. Gak usah khawatir" dingin Sandra.


"Maaf San udah libatin kamu" lirih Jimmy.


"Bukan salah lo juga" Sandra menatap datar pada Jimmy.


Arsen dan yang lainnya berjalan ke arah Petra, Arsen menginjak bahu kanan Petra, "Arggghhh..." Petra berteriak kesakitan.


"Sekali lagi Lo ganggu geng gue abis lo Brengsek!" Arsen menatap tajam pada Petra, Petra hanya tersenyum kecil.


"Dengerin itu sialan" pekik Ervan sambil mengenggam tangan Amel.


"Dasar ********!" umpat Jimmy yang di ikuti Sandra dari belakang.


Mereka langsung menaiki motor sport mereka masing - masing tanpa memperdulikan keadaan Warrior yang sudah terkapar lemah di jalanan sepi itu.


"Langsung pisah aja!" ucap Arsen.

__ADS_1


"Oke Sen" jawab serentak Jimmy dan Ervan.


~


Arsen sampai di rumah Yasmine, Ia mematikan motornya dan menatap datar pada Yasmine, "Maaf udah libatin Lo".


Yasmine menggeleng pelan, "Gak Sen. Gue harusnya terima kasih sama Lo udah nyelamatin gue untuk ke sekian kalinya. Makasih ya" Yasmine tersenyum manis pada Arsen, Seketika jantung Arsen berdegup kencang, "Jantung sialan. Shit!" umpat Arsen dalam hatinya.


Ervan juga sampai di rumah Amel, terlihat Amel menghapus air matanya.


"Sorry ya Mel, karna gue Lo jadi gini" Ervan merasa bersalah terhadap Amel.


Amel langsung memeluk Ervan, "Makasih Van, maaf gue suka kasar sama Lo" lirih Amel.


Ervan mengelus kepala Amel, "Gapapa itu udah kewajiban gue. Masuk gih udah malam".


"Iya".


Dilain sisi Sandra turun dari motor sport Jimmy, "Thank's Jim" dingin Sandra.


"Sama - sama San. Maaf ya" lirih Jimmy.


"Yaudah" ketus Sandra.


"San kamu sampai mau kaya gini sama aku?" Jimmy menatap sendu dan lesu pada Sandra.


Sandra menoleh ke arah Jimmy, "Lupaiin aja Jim. Gue males untuk inget yang dulu" Sandra melangkah masuk ke dalam rumahnya tanpa menghiraukan Jimmy.


"Aku gak bisa kaya gini terus San. Aku mau kita kaya dulu lagi" batin Jimmy.


Yasmine masih berdiri di hadapan Arsen, "Sen gue mohon sama Lo jangan libatin gue ke dalam masalah geng Lo" lirih Yasmine sambil menunduk. Ia sudah tidak mau berususan dengan geng motor mana pun.


"Terlambat, Mereka semua udah tau kalo Lo itu ada di tangan gue. Tenang aja gue bakal lindungin Lo" Arsen langsung mengedarkan pandangannya ke arah kanan.


"Hmm gitu. Makasih" singkat Yasmine.


"Buruan masuk, udah malam" Arsen memakai helm fullface nya.


"Gue balik" Arsen menghidupkan motornya dan langsung pergi.


Ketika hendak membuka pagar rumahnya, Miller terlebih dahulu menyambut kepulangan adiknya itu.


"Pulang sama siapa dek? Abang denger suara motor tadi?" Miller mencari sosok yang mengantar adiknya itu.


"Temen Yasmine bang, yang kemaren nganter Yasmine juga" Yasmine bejalan masuk di sebelah kanan Miller.


"Dia ganteng? Baik?" Miller penasaran dengan sosok laki - laki itu.


"Iya ganteng, baik juga" jawab Yasmine jujur.


"Kamu suka sama dia dek?" Miller menatap serius pada Yasmine.


"Eng.. Engga lah bang" Yasmine terbata - bata menjawab pertanyaan Miller.


"Kelihatan banget bohongnya. Akuin aja" ledek Miller.


"Abang apaansih" Yasmine kesal dengan ledekan Miller.


"Nama nya siapa sih? Penasaran deh" Miller sangat penasaran dengan laki - laki itu.


"Kapan - kapan aja deh Yasmine cerita ke Abang" Yasmine tertunduk malu di depan Miller.


"Kapan - kapan Kenalin ya" Miller tertawa.


"Iya".


*Bersambung...


Don't forget to Vote, Like and Comment🌻.


Author tunggu ya, Terima kasih* :)

__ADS_1


__ADS_2