
Alunan langkah kaki Yasmine terlihat tenang. Ia melangkahkan kaki panjangnya untuk menyusuri anak tangga rumah mewah itu.
Di meja makan sudah ada Haris dan Miller. Yasmine menarik kursi meja makan di dekat Haris dan mengambil sepiring nasi goreng, Ia melahap dengan pelan.
"Tadi malam pulang jam berapa dek?" Miller menatap Yasmine yang sedang mengambil segelas susu di hadapannya.
"Hmm... Setengah sepuluh kayanya bang" Yasmine kembali melahap nasi gorengnya.
"Papa lihat siapa yang antar Yasmine?" Miller menatap Haris yang sedang merapikan jasnya.
"Lihat" jawab Haris singkat. Miller menaikan sebelah alis matanya, Ia menatap aneh pada Papa nya yang hanya menjawab singkat pada pertanyaanya.
"Dia gimana Pa? Siapa namanya? Perasaan dari dulu gak tahu namanya" ketus Miller sambil melirik ke arah Yasmine.
"Papa gak tahu siapa namanya, tapi anaknya baik terus ganteng juga" Haris memeriksa handphonenya sambil mengambil secangkir kopi di tangan kirinya.
Yasmine membelalakan matanya ke arah Haris, Ia terkejut ketika Haris mengatakan bahwa Arsen tampan.
"Yang penting jangan sampai pacaran, selesaikan dulu sekolah kalian berdua" Haris beranjak dari duduknya.
Miller dan Yasmine saling bertatap mata muka satu sama lain, "Iya Pa" jawab mereka serentak.
Yasmine beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah pintu luar, sudah ada Pak Hadi yang berdiri di depan pintu.
"Mobilnya sudah siap Tuan, Non".
"Yasmine mau berangkat sama Papa?" Haris memegang bahu Yasmine.
"Iya Pa Yasmine sama Papa" Yasmine tersenyum.
"Pulangnya mau abang jemput?" Miller berjalan dari arah dalam sambil memakai jaket hitam kulitnya.
"Gak usah bang, biar di jemput Pak Hadi aja".
"Yaudah kalo gitu" Miller naik ke atas motornya dan langsung pergi.
~
"Nanti saya jemput jam berapa Non?".
"Jam 3 aja pak" Yasmine melangkahkan kakinya keluar dari mobil.
"Baik Non".
Yasmine berjalan sambil memegang erat tas ranselnya, dari arah belakang ada seseorang yang menepuk bahu Yasmine.
"Yasmine" Amel mengejutkan Yasmine dengan suara melengking khas miliknya.
Yasmine terkejut dengan suara Amel, "Eh Amel" Yasmine melirik ke arah Amel.
"Hehe kaget ya" kekeh Amel.
Yasmine tersenyum ke arah Amel, "Sandra mana Mel?".
"Belum datang deh kayanya Yas" celetuk Amel.
Mereka berdua masuk ke dalam kelas dan mendudukan diri mereka di kursi masing - masing.
"Tadi malam Lo langsung pulang Yas?" Amel meletakan tas ranselnya di belakang dirinya.
"Iya Mel gue langsung pulang".
Dari arah luar kelas Arsen dan anggota Wolf yang lainnya masuk ke dalam kelas. Arsen meletakan tas miliknya di atas meja. Ervan mengedipkan matanya ke arah Amel dan membuat wajah Amel seketika langsung memerah.
"Apaan sih Van" Amel menunduk malu di sebelah Ervan.
"Lo ngapain nunduk gitu?" Ervan ikut menundukan dirinya untuk melihat wajah Amel, Yasmine terkekeh melihat situasi itu.
Arsen yang duduk di sebelah depan Yasmine hanya diam dan memperhatikan wajah Yasmine yang tenang. Jimmy menatap aneh kepada Arsen.
"Lo lihatin Yasmine?" tuduh Jimmy sambil melirik ke arah Yasmine yang sedang membaca buku.
Arsen tersadar dengan ucapan Jimmy, "Engga" elak Arsen dengan nada ketusnya.
"Gak usah bohong lah Sen" Jimmy tersenyum ke arah Arsen.
"Gue bukan setahun atau dua tahun kenal sama Lo, gue udah kenal Lo sejak kecil Sen. Jadi Lo gak bisa bohong gitu aja" timpal Jimmy.
Arsen memalingkan wajahnya untuk menghindari wajah Jimmy, "Kayanya Lo suka sama dia deh Sen".
Arsen menaikan sebelah alis matanya dan mengerutkan dahinya, "Engga lah" sekali lagi Arsen mengelak atas tuduhan Jimmy.
Jimmy terkekeh di hadapan Arsen, "Kalo suka bilang aja Sen, jangan sampai Lo kehilangan dia setelah Lo bener - bener jatuh cinta sama dia, jangan sampai kaya gue" untuk pertama kalinya Jimmy mengatakan hal bijak di depan Arsen.
"Udahlah gue gak mau mikirin hal kaya gitu" Arsen berdiri dan berjalan ke arah luar kelasnya. Yasmine melihat Arsen yang bersandar pada dinding luar kelas, rupanya sejak tadi Yasmine mendengarkan obrolan Arsen dan Jimmy.
"Gue harap dugaan Jimmy bener Sen".
Selam pembelajaran di mulai, Arsen tidak fokus dengan materi yang di terangkan oleh guru di depan kelas. Ia masih memikirkan ucapan Jimmy tadi pagi.
"Apa bener gue suka sama Yasmine? Gue aja bingung sama perasaan gue".
__ADS_1
"Arsen Atmanegara!" guru itu memanggil nama Arsen dengan suara yang lantang. Seluruh kelas termasuk Yasmine ikut melihat ke arah Arsen.
Arsen langsung kikuk, "Saya buk".
"Kenapa melamun? Ada masalah?" guru itu meletakan buku panduanya di atas meja.
"Maaf buk" Arsen menunduk untuk meminta.maaf pada guru itu.
"Kembali fokus semuanya!".
Setelah selesai mengikuti pembelajaran seluruh murid boleh keluar untuk istirahat, Yasmine mengambil sebuah buku dari dalam tasnya.
"Kalian duluan aja ya, gue mau ke perpus dulu mau balikin buku" ujar Yasmine kepada dua sahabatnya itu.
"Jangan lama - lama ya Yas, yuk San" Amel menarik tangan Sandra.
Yasmine berjalan sendirian di koridor kelas, Ia memegang buku itu dengan erat. Ia mulai masuk ke dalam perpustakaan untuk mengembalikan buku.
Setelah mengembalikan buku kepada penjaga perpusatakaan Yasmine langsung melangkahkan kakinya untuk ke kantin. Saat membuka pintu Ia terkejut setengah mati karena hampir menabrak seseorang.
"Arsen!" pekiknya sambil menutup mulutnya, jantung Yasmine berdegup dengan cepat karena berpapasan dengan Arsen, hal itu juga berlaku pada Arsen.
"Jantung gue shit!" batin Arsen.
"Lo ngapain disini?" Yasmine menatap wajah Arsen yang terlihat gugup.
"Gue mau minjam buku" Arsen berusah tenang di hadapan Yasmine.
"Mau gue bantu?" Yasmine tersenyum ke arah Arsen.
"Boleh" Arsen melangkahkan kakinya ke dalam perpusatakaan di ikuti Yasmine dari belakang. Ia menelusuri rak buku bertuliskan "Matematika". Arsen mengambil sebuah buku dari rak itu namun di tahan oleh Yasmine.
"Jangan yang itu, gue saranin Lo ambil yang ini" Yasmine mengambil sebuah buku panduan matematika jurusan kimia.
"Kita kan IPA 1 harusnya yang ini, kalo ini untuk IPA 2" jelas Yasmine sambil mengembalikan buku yang di ambil Arsen ke tempat semula.
Arsen hanya diam ketika Yasmine menjelaskan itu padanya, "Oh thank's ya" lirih Arsen.
"Sama - sama Sen".
Setelah selesai meminjam buku mereka berjalan menuju kantin. Disana sudah ada sahabat Yasmine dan anggota Wolf yang lainnya.
"Berduaan terus Bos" Alex terkekeh.
"Iya Bos kita udah ada gebetan nih" celetuk Kevin sambil menyeruput es teh manisnya. Kenan ikut terkekeh mendengar candaan Alex dan Kevin.
Arsen hanya acuh tanpa memperdulilkan omongan teman - temannya, "Sini Yas gabung" Jimmy mempersilahkan tempat duduk untuk Yasmine.
"Tumben bisa berdua?" Amel menatap ke arah Arsen dan Yasmine.
"Tadi ketemu di perpus" jawab Yasmine.
"Kiraiin abis date " tuding Ervan sambil tersenyum ke arah Arsen.
"Engga lah" ketus Arsen sambil mengalihkan wajahnya.
"Hahaha Arsen Arsen" Ervan tertawa terbahak - bahak.
"Gue sama Arsen memang dari perpustakaan" Yasmine berusaha menjelaskan situasi yang mulai agak memanas.
"Iya deh percaya" jawab Ervan. Kedua sahabat Yasmine dan anggota Wolf yang laiinya ikut tertawa.
~
Bel pulang sekolah berbunyi semua murid berlari untuk segera bisa pulang. Yasmine dan kedua sahabatnya berjalan ke arah depan gerbang.
"Duluan ya Yas, San" Amel menghidupkan motor matic nya.
Yasmine melambai ke arah Amel yang mulai menjauh dari pandangannya, "Mau bareng Yas?" mobil jemputan Sandra sudah sampai.
"Duluan aja San, gue bentar lagi dijemput kok".
"Oh gitu, gue duluan ya Yas" Sandra langsung naik ke mobilnya.
Yasmine berdiri di depan gerbang sambil melirik ke arah jam tangan di tangan kirinya, "Palingan juga masih nunggu Papa" gumamnya.
Dari arah belakang Yasmine terdengar suara deru motor yang mendekat ke arahnya, dia lah Arsen. Ia melepaskan helmya dan mematikan motor sportnya.
"Belum di jemput?" Arsen melirik ke arah Yasmine sambil membuka bungkusan permen karet.
"Belum Sen".
Arsen masih dalam keadaan duduk di atas motor sesekali Ia melirik ke arah Yasmine, "Lo sibuk gak?".
"Engga Sen" Yasmine langsung menatap ke arah Arsen, Arsen langsung memalingkan wajahnya dari hadapan Yasmine.
"Temenin gue jalan bisa?" spontan Arsen mengatakan hak itu pada Yasmine.
Yasmine terbelakak mendengar ajakan Arsen, "Jalan?" dengan nada tidak percaya Yasmine menatap wajah Arsen.
"Iya mau gak?" Arsen melirik ke arah Yasmine.
__ADS_1
"Hmmm.. mau Sen" Yasmine menunduk malu.
"Buruan naik" Arsen melepaskan jaket hitamnya dan mengingkatkan ke pinggang Yasmine.
Mereka langsung pergi meninggalkan gerbang sekolah, selama perjalanan mereka hanya diam. Sampai pada akhirnya Arsen berhenti di sebuah taman.
"Lo suka taman gak? Kalo gak suka kita bisa pergi ke tempat lain?" tanya Arsen.
Tidak dengan Yasmine, kelihatannya Yasmine suka dengan pilihan Arsen yaitu sebuah taman yang indah.
"Gue suka taman Sen" Yasmine tersenyum pada Arsen dan membuat Arsen panik.
"Oh... ah kalo gitu kita duduk disana" Arsen menunjuk pada sebuah kursi panjang. Mereka duduk si kursi panjang itu dan menikmati taman yang tidak terlalu ramai.
"Suka ke taman?" Arsen menatap Yasmine yang masih kagum pada taman itu.
"Suka, suka banget" Yasmine terlihat senang seperti anak kecil.
"Terakhir ke taman kapan?" Arsen melepas dasinya.
"3 bulan yang lalu sebelum Alm. Mama gue meninggal" jawab Yasmine.
"Kalo boleh tahu Alm. Mama Lo meninggal karena apa?".
"Mama gue kena kanker darah Sen" lirih Yasmine.
"Gue turut berduka ya".
Yasmine menatap wajah Arsen yang tiba - tiba sendu, "Lo sendiri kapan terakhir ke taman?".
"Kalo gak salah waktu gue SD" jawab Arsen dengan santai.
"Lama juga ya" Yasmine mengangguk pelan.
"Gue beli minum dulu ya, Lo tunggu sini" Arsen beranjak dari duduknya dan menuju ke sebuah kedai di seberang taman. Arsen kembali dari kedai itu dan membawa dua botol minuman.
"Nih minum" Arsen menyodorkan botol minuman itu pada Yasmine.
"Makasih Sen".
"Lo asli jogja?" Arsen meneguk minumannya dan melirik ke arah Yasmine.
"Papa gue asli jogja, Mama besar di Belanda terus ikut ke jogja buat pindah" Yasmine meletakan minumannya di sebelahnya.
"Kakek atau Nenek Lo yang orang Belanda? Arsen menyeka kembali meneguk minumannya.
"Nenek gue asli Belanda Sen. Oh iya kata Jimmy Papa Lo orang Belanda?" Yasmine mengubah posisinya untuk mengadap pada Arsen.
Arsen terkejut dengan respon Yasmine, "Oh iya bener, orangtua dari Papa gue asli Belanda. Dulu gue sempat tinggal di Belanda" jelas Arsen.
"Oh gitu" Yasmine mengangguk.
"Lo pernah pacaran?" tiba - tiba Arsen menanyakan hal itu tanpa berpikir terlebih dahulu.
Yasmine terdiam untuk sesaat, Ia kaget mendengar pertanyaan Arsen, "Oh Eh Ah... belum Sen".
Arsen menatap sorot mata Yasmine, "Oh belum" balas Arsen.
"Kalo Lo Sen? Udah pernah pacaran? Yasmine kembali menanyakan pertanyaan itu pada Arsen.
"Belum, gak ada cewe yang gue suka selama ini" Arsen menatap lurus pemandangan yang ada di depannya sambil meneguk minumannya.
Yasmine melirik jam tangannya waktu sudah menunjukan pukul 5, "Sen pulang yuk udah sore".
"Ayok" Arsen berdiri, tangan Yasmine tiba - tiba menarik tangan Arsen, Arsen terkejut akan hal itu. Jantungnya berdegup kencang, darahnya berdesir dengan cepat.
"Tahan Sen, Lo jangan sampai lepas kendali".
Arsen langsung menghidupkan motornya dan langsung mengantar pulang Yasmine ke rumahnya.
-
"Makasih ya Sen" ujar Yasmine.
"Sama - sama Yas".
"Makasih juga udah ngajak jalan".
Arsen tersenyum kepada Yasmine, ini pertam kalinya Yasmine melihat Arsen tersenyum kepadanya.
"Gue masuk dulu Sen".
Arsen memakai helm fullface nya dan menghidupkan motornya, ketika berada di jalan Arsen berpapasan dengan Miller. Mereka hanya melirik sini satu sama lain dari sebalik helm fullface mereka.
"*Tumben banger ketemu dia di komplek rumah" batin Miller.
"Ngapain Miller disini? Rumah Miller di sini? batin Arsen*.
Bersambung😊
Jangan lupa vote, like and comment ya kak🌻
__ADS_1
Author tunggu yaa❤