
Laki - laki itu masih menindih tubuh Yasmine, Ia segera menarik rambut Yasmine secara kasar dan paksa, menyentuh paha putih Yasmine, "Brengsek!" Yasmine meneriaki laki - laki itu dengan umpatannya.
Laki - laki itu menatap tajam pada Yasmine, "Plak..." Laki - laki itu menampar pipi Yasmine dan membuat bibir Yasmine mengeluarkan darah karna tamparan yang sangat kuat.
Sesaat Yasmine terdiam, Ia termenung kaget belum pernah ada yang melakukan ini pada nya, Ia menatap nanar pada laki - laki yang barusan menamparnya, Yasmine menangis semakin keras.
"Hiks...Hiks lepasin gue!" Ia tetap berusaha melepaskan diri dari laki - laki itu, "Diam!" Laki - laki itu kembali menampar Yasmine dan membuat bibir Yasmine mengeluarkan darah.
Laki - laki itu menarik Turtleneck yang Yasmine pakai, "Krek..." terdengar suara robekan dari perbuatannya. Dan benar saja, bahu sebelah kanan Yasmine sudah robek dan menampakkan kuit putihnya, segera Yasmine menutupnya.
"Pergi lo Brengsek!" Yasmine mendorong tubuh laki - laki itu dan tetap saja dia tidak bisa lari, "Guys, do it know" ke empat laki - laki itu mendekati Yasmine.
Sebuah motor sport berwarna merah berhenti di jalanan itu, tepat di hadapan sekumpulan laki - laki itu. Ia turun dari motornya dan menerjang salah seorang dari mereka.
"BUGH...BUG**H...BUGH**..." Arsen menghajar mereka satu persatu, Ya dia Arsen, Ia mendengar teriakan minta tolong dari seseorang dan melihat ada sekumupulan motor sport di jalan sepi, akhirnya ia memutuskan untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.
Laki - laki itu berdiri dari tubuh Yasmine, " Mau jadi pahlawan lo!" Laki - laki itu langsung melayangkan tinjunya ke arah Arsen, dengan cepat Arsen menangkis serangan lawannya dan membuat tangan laki - laki itu hampir patah, "Arghhh..." Laki - laki itu terjatuh di atas aspal dan terlihat begitu kesakitan.
Arsen hanya acuh pada laki - laki itu, dan berjalan mendekati pada gadis yang terududuk ketakutan, "Yasmine!" Arsen melihat penampilan Yasmine begitu berantakan, rambut acak - acakan, bibir berdarah, wajah lebam, dan baju yang robek. Yasmine hanya menunduk ketakutan, Arsen dengan singgap menarik Yasmine dalam pelukannya. Tangis Yasmine pecah ketika berada di pelukan Arsen, " Arsen...Hiks...Hiks..Hiks" Tangan Arsen membelai kepala Yasmine, entah kenapa sebelumnya Arsen terlihat sangat tidak suka pada Yasmine tapi saat ini ia benar - benar sakit dan marah melihat Yasmine di perlakukan seperti ini, Yasmine di lecehkan di hadapannya.
"Jangang takut, gue disini" Arsen berusaha menenangkan Yasmine yang masih ketakutan, tubuh Yasmine bergetar ketakutan, Arsen yang sadar akan hal itu langsung melepaskan pelukannya, dan memasangkan jaket hitamnya pada Yasmine.
Yasmine masih dalam keadaan syok, " Kalo lo gak datang sekarang, gue udah gak tau nasib gue sekarang Sen Hiks...Hiks...Hiks..." Yasmine menunduk di hadapan Arsen, Arsen mengenggam tangan Yasmine dan menatap dingin datar padanya, "Udah jangan nangis lagi. Gue anter lo balik" Arsen beranjak dan menarik Yasmine. Ia berjalan melewati laki - laki itu yang masih kesakitan, mengingak telapak tangan laki - laki itu, "Awas kalo lo berani ganggu dia! Gue abisin lo!" Arsen menginjak tangan itu dengan keras, "Arghhh".
~
Mereka berdua sampai di rumah Yasmine, Arsen dan Yasmine turun dari motor sport itu, "Makasih ya Sen" Yasmine masih menunduk takut, dan melepaskan jaket yang membalut tubuh nya itu.
"Iya sama - sama. Besok - besok jangan sendirian kalo malam" Arsen memperingati Yasmine agar tidak terjadi hal seperti ini lagi, Yasmine mengangguka kecil.
"Buruan masuk!" ketus Arsen, Yasmine mendadak bingung. Tadi Arsen bersikap lembut, sekarang kembali dingin.
"Iya".
__ADS_1
Haris yang duduk di ruang tamu melihat jam dinding yang menunjukan pukul 8, "Adik kamu kok belum pulang juga Miller? Coba telfon" perintah Haris.
Miller mencoba menghubungi Yasmine, " Gak di angkat pah" Miller mendengus lesu.
"Asalamualaikum" Yasmine masuk ke dalam rumahnya dengan penampilan yang begitu acak - acakan.
Haris dan Miller terkejut melihat keadaan Yasmine, Miller mendekati Yasmine, "Kamu kenapa dek?!" Miller menaikan nada bicaranya begitu melihat Yasmine seperti ini.
"Hiks...Hiks...Hiks. Yasmine hampir di lecehin Bang" Yasmine menangis dalam pelukan Miller, Haris dan Miller terkejut mendengar pernyataan Yasmine.
Haris memeluk putrinya itu, "Siapa yang ngelakuin dek?! Bilang sama papa nak!" Haris sangat marah mendengar anak kesayangannya hampir di lecehkan.
"Yasmine gak tau siapa pah, dia laki - laki pakai motor sport warna hijau Hiks...Hiks" Yasmine masih menangis kala mengingat kejadian tadi.
"Hijau? Apalagi ciri - ciri yang adek ingat?! Miller semakin marah mendengar pernyataan adiknya.
"Dia pakai jaket warna hitam - hijau Hiks.., Ada lambang huruf W di jaket mereka" Yasmine mengingat ciri - ciri dari mereka.
Miller langsung naik pitam mendengar nya, segera Ia menarik tangan Yasmine. Ia tahu siapa yang sudah berbuat kurang ajar pada adiknya, "Ikut abang!" Yasmine berjalan di belakang Miller.
"Miller mau cari orangnya pah. Papa diem aja di rumah!" tanpa sengaja Miller membentak Haris, Haris hanya terdiam.
Miller mengeluarkab handphone nya dari saku celana, "Lo semua kumupul di basecamp! Gue tunggu 10 menit, Sekarang!" Miller langsung mematikan handphone nya.
Miller dan Yasmine sampai di basecamp Balck Devils, "Semua udah pada ngumpul?!" Miller melihat anak buahnya.
"Udah Mill, kita semua udah pada ngumpul" jawab Rey.
Ini pertama kalinya Yasmine melihat geng motor Miller, ia melihat dengan perasaan takut, ternyata begini teman - teman abangnya.
"Kita habisi Warrior malam ini!" Pekik Miller, Ia langsung menghidupkan motornya, di ikuti oleh anak buahnya.
Akhirnya mereka sampai di basecamp Warrior , terlihat ada beberapa orang yang duduk di atas motor. Miller berjalan sambil memegang tangan Yasmine, Ia menatap tajam pada mereka anak buah Warrior .
__ADS_1
"Petra! Keluar lo petra! Keluar lo Brengsek!" Kali ini amarah Miller benar - benar sudah tidak bisa terkendali, Yasmine benar - benar takut melihat Miller seperti ini, belum pernah Ia melihat Miller di luar kendali seperti ini.
Petra Erlangga ketua geng Warrior , laki - laki berumur 18 tahun itu adalah blasteran Inggris - Indonesia. Dia adalah badboy, casanova, dan dia sangat suka membuat masalah dengan siapa pun.
Petra keluar dari basecamp nya, ia terlihat kesakitan dengan telapak tangannya, "Mau apa..." belum selesai Petra bicara, Miller sudah lebih dulu meninju wajahnya. "Sialan lo! Brengsek!", "Bugh...Bugh...Bugh" Miller tidak berhenti begitu saja, Ia juga meninju perut Petra, anak buahnya ikut serta dalam perkelahian itu.
"Lo apain adek gue Sialan?!, Jawab!" Miller mencengkram kerah kemeja Petra, Petra tercengang mendengar ucapan Miller, "Jadi gue hampir per**** adik Miller?" gumamnya.
Yasmine berusaha menenangkan Miller, "Abang udah" Yasmine menarik tangan Miller, "Gak bisa, dia harus abang habisin hari ini juga!" Miller menatap tajam pada Petra, Petra memegang wajahnya yang lebam karna Miller.
"Gue gak tau kalo dia adek lo. But she is very beautifull and sexy" Petra memicingkan mata nya ke arah Yasmine, walau babak belur Ia tetap menggoda Yasmine, " And the last one, She's make me passion. You know, "Passion"!" Petra tertawa keras setelah mengatakan hal tersebut.
Miller yang mendengar kata "Passion" langsung naik pitam, Ia melayangkan tinjuannya ke wajah blasteran itu, "Mati lo Keparat!" "Bugh...Bugh...Bugh".
Petra yang sudah terkulai lemas masih tetap terkekeh, "Tunggu pembalasan gue Mill, Gue bakal buat lo dan adek lo itu menderita!" batin Petra.
Miller hanya menatap jijik pada Petra, "Cabut!" Ia memerintahkan anak buah nya untuk pergu dari sini.
~
"Maafin Yasmine Bang, kalo aja Yasmine gak nolak ajakan Abang, pasti nya gak bakal kaya gini" Yasmine menangis di pelukan Miller.
"Udah gapapa dek, yang penting adek ga kenapa - kenapa" Miller membelai lembut kepala Yasmine, Haris berjalan mendekati anak - anak nya dan memeluk mereka.
Handphone Miller berdering, "Sebenernya ada apa Mill? Kenapa kita tadi habisin Warrior ?" yang menelfon Miller adalah Rey.
Miller menarik nafasnya begitu kasar, " Petra lecehin adek gue" Miller memejamkan matanya. Rey yang mendengar hal itu langsung emosi, "Sialan!" lirih Rey.
"Udah gapapa, kalo dia berani macam - macam lagi, gue gak segan - segan bakal bunuh dia! Yaudah, gue mau tidur. Gue capek" Miller mematikan handphone nya.
"Iya Mill".
Passion \= Gairah
__ADS_1
Bersambung...
Don' t forget to like and comment guys🌻