
Suasana di cafe itu masih sangat ramai. Semakin malam tamu undangan semakin banyak yang datang. Alunan musik dari Disk Jockey semakin memperiuh suasana. Semua insan muda berpesta ria menikmati acara Annive kali ini.
Arsen duduk di jendela kaca cafe, Ia sesekali menyesap minumanya. Yasmine dan yang lainnya masih setia duduk di sofa cafe sambil di temani Jimmy dan Ervan. Kenan dan lainnya sedang bermain billiard.
Mata Arsen tertuju pada Yasmine yang sedang tertawa. Ia mengamati dengan intens seluk beluk wajah Yasmine. Senyuman tipis terukir di sudur bibir Arsen, ketika Yasmine mengalihkan wajahnya ke Arsen, Ia terlihat gugup dan segera mengalihkan pandangannya.
"Ngelamun aja Bro" seseorang menepuk bahu Arsen, Ia adalah Pandu. Sedari tadi Pandu memperhatikan Arsen yang sedang memandangi Yasmine.
"Pandu?" dengan nada gugup dan bingung Ia melihat wajah Pandu, Ia mencoba menetralkan pikirannya.
"Gue lihat dari tadi Lo lihatin tuh cewe" Pandu menunjuk ke arah Yasmine yang sedang mengambil minumannya.
"Ah engga" elak Arsen.
Pandu terkekeh dengan jawaban bohong Arsen, "Serius?" seolah tak percaya dengan jawaban Arsen.
"Iya serius" jawab Arsen dengan tenang.
Pandu menganggukan kepalanya, "Gue kesana dulu ya, Have fun Brother" Pandu merangkul bahu Arsen dan kemudian pergi ke arah kerumunan yang lainnya.
Arsen berjalan ke arah Yasmine yang sedang duduk, mata Yasmine melihat ke arah Arsen yang duduk di sebelahnya. Yasmine beranjak dari duduknya, sedari tadi Ia menahan sesak ingin buang air kecil.
"Gue mau ke toilet dulu ya" dengan wajah memerah akibat menahan sesak.
"Iya Yas".
Yasmine berlari kecil di kerumunan yang ramai itu, Ia menyelinap di antara manusia - manusia yang sedang berpesta ria. Karena terburu - buru Ia menabrak seseorang.
"Brukkk..." Yasmine menabarak seorang laki - laki yang sedang membawa sebuah minuman yang akhirnya minuman itu membasahi baju laki - laki itu.
"Maaf ya" Yasmine mendongakan kepalanya ke atas untuk melihat siapa yang Ia tabrak.
"Yasmine?" Laki - laki itu menatap heran pada Yasmine, kenapa Yasmine bisa berada di tempat seperti ini.
"Rey?" Yasmine menyebut dengan ragu - ragu pasalnya Ia tidak asing dengan wajah yang Ia tabrak.
"Kok Lo bisa ada disini?" Rey menatap heran pada Yasmine.
"Gue lagi sama temen - temen gue" jawab Yasmine.
"Oh gitu" Rey mengangguk pelan.
"Gue permisi ya, mau ke toilet" Yasmine menunduk izin kepada Rey.
"Silahkan" Rey berjalan mundur untuk memberi jalan kepada Yasmine.
Yasmine berlari ke sebuah toilet wanita. Ia masuk ke dalam sebuah pintu itu. Setelah selesai buang air kecil, Yasmine berdiri di depan pintu toilet wanita. Ia mendengar bisikan dari beberapa orang.
"Lo lihat gak tadi ketua Black Devils?"
"Miller?".
"Iya Miller, sumpah dia keren banget".
"Lebih ganteng Arsen lagi ketua Wolf".
"Tapi Arsen sama cewe".
"Iya gue lihat tadi Arsen sama cewe, cewenya cantik kok".
"Palingan juga jadi mainan Arsen".
"Udah gak usah ngomongin orang ah".
Setelah perempuan - perempuan itu pergi, Yasmine baru keluar dari pintu toilet. Ia berdiri di sebuah kaca, "Apa Arsen kaya gitu?" tanya Yasmine.
"Apa gue cuma mainan Arsen?" kembali Yasmine memasang wajah murung setelah mendengar obrolan perempuan tadi.
"Gue harapa engga" Yasmine menghidupkan keran wastafel dan membasuh wajahnya.
Ketika berjalan ke arah luar pintu utama toilet wanita sudah ada Petra yang berdiri disana. Petra mengedipkan matanya ke arah Yasmine yang baru keluar dari pintu utama toilet.
"Ngapain Lo disini?" Yasmine menatap dengan tatapan risih pada Petra.
"Nunggu Lo" jawab Petra sambil tersenyum.
"Minggir gue mau lewat!" ketus Yasmine sambil mendorong tubuh Petra yang menghalangi jalannya.
"Keep calm baby" Petra terkekeh di telinga Yasmine. Petra menarik tangan Yasmine dan menyeretnya masuk ke dalam tolilet pria.
"Lo lihat muka gue!" Petra menatap tajam pada Yasmine, Yasmine bergidik ngeri melihat mata Petra.
"Ini semua ulah abang Lo si Miller" Petra melepaskan cengkramannya dan menghempaskan tubuh Yasmine ke sebuah wastafel. Petra berjalan ke arah pintu utama toilet dan mengunci pintu, Yasmine yang paham akan maksud Petra langsung berteriak.
"Tolong!" Yasmine berteriak sekeras mungkin.
"Teriak aja sampai mulut Lo berbusa, gak ada orang yang dengar. Semua orang lagi party !" pekik Petra.
Yasmine berlari ke arah pintu utama dan menggedor - gedor pintu, "Tolong! Siapa pun tolongin gue!".
__ADS_1
Petra menarik kasar tangan Yasmine, "Diam Lo!" bentak Petra, Yasmine sudah ketakutan duluan dengan kelakuan Petra.
Di lain sisi Arsen menunggu Yasmine yang belum kembali dari toilet sejak tadi. Ia mencari Pandu untuk bertanya dimana toilet wanita.
"Bro toilet dimana?".
"Oh Arsen, lurus aja ntar belok ke kiri".
"Thank's Bro".
Petra mencengkram tangan Yasmine semakin kuat dan keras, Yasmine meringis kesakitan menahan cengkraman Petra.
"Ssshhh..." ringis Yasmine.
"Sakit? Panggil cowo Lo si Arsen buat nolongin Lo" Petra berbicara di sebelah telinga Yasmine.
Yasmine menggigit tangan Petra dengan kuat, "Arghhh..." teriak Petra. Petra mendengus kesal ke arah Yasmine.
"Sialan Lo! Plakkk..." sebuah tamparan dari Petra mendarat di pipi Yasmine.
Yasmine tertegun ketika mendapat tamparan dari Petra, ini adalah kedua kalinya Petra menampar dirinya.
"Mau berapa kali Lo nampar gue" Yasmine menatap nanar pada Petra yang masih termenung.
"Yasmine!" sebuah dobrakan dari luar pintu utama membuat Yasmine dan Petra terkejut.
"Arsen" seru Yasmine, Ia senang melihat siapa yang datang untuk menyelamatkannya kali ini.
Arsen melihat darah dari sudut bibir Yasmine, Ia menatap tajam pada Petra sudah jelas ini adalah perbuatan Petra.
"Sialan Lo Petra!" sebuah tinjuan kuat mengenai hidung mancung Petra dan mengeluarkan darah segar.
"Argghhh..." Petra memegangi hidungnya yang mengeluarkan darah segar.
"Berapa kali gue harus bilang sama Lo! Jangan ganggu dia!" ketus Arsen sambil mencegkram kerah baju Petra.
"Ancaman Lo gak berlaku sama gue!" Petra menepis tangan Arsen dan berlalu pergi meninggalkan mereka.
"Lo gapapa Yas?" Arsen memegang bahu Yasmine.
"Bibir gue sakit Sen" ringis Yasmine.
"Bibir Lo berdarah Yas" Arsen langsung mengambil sebuah tissue.
"Biar gue bersihin, tahan ya" Arsen mulai membersihkan darah di bibir Yasmine. Jantung Arsen berdegup dengan kencang, Yasmine termenung menatap Arsen.
"Gue mikir apaan sih! Dosa Arsen!" pekik Arsen.
"Sshh... Auww" ringis Yasmine menahan lukanya.
"Tahan, darahnya masih keluar" ujar Arsen.
Setelah selesai membersihkan luka Yasmine, Arsen menarik tangan Yasmine menuju pintu luar toilet. Arsen melepaskan jaket kebanggannya dan memakaikannya ke badan Yasmine.
"Ayok kita udah di tunggu sama yang lain" Arsen mengenggam tangan Yasmine dengan erat.
"Darimana aja Yas? Lama banget" heran Amel.
"Dia hampir di lecehin Petra" ujar Arsen.
"Haa Petra?" pekik Ervan.
"Ga ada kapoknya ya tuh anak" dengus Jimmy.
"Kaya nya kita harus pulang, kita gak bisa biarin cewe - cewe disini lebih lama" ujar Arsen.
"Iya Sen" jawab mereka serempak.
Mereka mencari Pandu untuk pamit pulang. Terlihat Pandu sedang duduk di atas kursi ala Mini Bar.
"Bro gue pamit duluan ya, thank's atas undangannya" Arsen menepuk bahu Pandu.
"Buru - buru amat Sen" Petra meletakan minumnya di atas meja bar.
"Ada Petra, gue gak mau sampai cewe - cewe di ganggu Petra".
Pandu terdiam mendengar omongan Arsen, "Oke hati - hati ya di jalan" mereka berpelukan dengan gaya anak motor.
Mereka berjalan keluar dari cafe, sepasang mata tajam melihat mereka yang keluar dari cafe itu.
"Mirip Yasmine" gumam Miller.
"Ah gak mungkin lah" dengan segera Miller menepis pikirannya. Terlihat Rey yang sedang duduk di sebelah Miller sedang memikirkan sesuatu.
"*Kenapa Yasmine bisa ada disini?".
"Sama siapa coba di kesini?".
"Dia anak baru, mana mungkin ada kenalan*".
__ADS_1
"Ngapain Lo bengong?" Miller membuyarkan lamunan Rey.
"Ahh Mill gue gapapa" Rey kikuk di hadapan Miler.
Miller mengangguk pelan dan berdiri dari duduknya, "Mau kemana Lo Mill?" Rey ikut berdiri.
"Gue mau ngambil minum" Miller berjalan ke sebuah meja kecil yang penuh dengan berbagai minuman.
Saat hendak mengambil minuman, dari arah belakang ada seseorang yang menabrak dirinya.
"Brukkk..." seorang perempuan yang seumuran denga Miller menabrak dari arah belakang.
"Maaf" perempuan itu terlihat menangis dan kelihatan sangat frustasi.
"Eh iya gapapa" jawab Miller.
Perempuan itu hendak pergi namun tangannya di tahan oleh Miller, "Lo kenapa nangis?" Miller merendahkan dirinya untuk menyamai tingginya dengan perempuan itu.
"Cowo gue selingkuh hiks...hiks...hiks" Perempuan itu menangis sesenggukan di hadapan Miller.
"Siapa cowo Lo?" tanya Miller.
"Ngapain Lo disini?" pekik Petra menatap tajam ke perempuan itu.
"Cowo Lo Petra?" tanya Miller.
"Iya".
"Denger ya! Cewe gue itu banyak bukan cuma Lo aja ngerti! Cewe kaya Lo buat apa?! Gak guna!" Petra mendorong tubuh perempuan itu ke arah Miller.
"Lo jangan kurang ajar sama cewe" Miller menatap tajam ke arah Petra sambil memegangi perempuan itu.
"Kalo Lo mau ambil aja! Gue udah gak butuh" Petra meninggalkan mereka.
"Udah gapapa dia udah pergi" ujar Miller sambil membenahi rambut perempuan itu.
"Makasih ya" lirih perempuan itu. Miller memandangi wajah perempuan itu, banyak luka lebam di wajahnya. Matanya sembab di bagian kiri.
"Muka Lo kenapa?" Miller menatap perempuan itu dengan seksama.
"Gue sering di pukul sama Petra hiks..." perempuan itu tiba - tiba menangis, Miller langsung menarik perempuan itu kedalam pelukannya.
"Keluarin semua uneg - uneg Lo" ujar Miller.
Perempuan itu menangis sejadi - jadinya dalam pelukan Miller, "Gue trauma" lirihnya.
"Udah gapapa, Lo masih ada gue kalo Lo perlu bantuan gue" Miller membelai rambut perempuan itu.
"Gue bisa minta tolong sama Lo?" perempuan itu mendongakan kepalanya ke arah Miller.
"Tolong apa?".
"Anterin gue pulang, uang gue udah abis" perempuan itu menyeka air matanya. Miller tersenyum lucu ke perempuan itu.
"Bisa, ayok gue anterin Lo pulang" Miller melepaskan jaketnya dan memakaikannya ke perempuan itu.
Miller berjalan ke arah anggota Black Devils "Guys, gue balik duluan ya".
"Oke Bos".
Miller menghidupkan motor sportnya, perempuan itu naik ke atas tempat duduk motor sport itu. Selama di perjalanan mereka diam tanpa ada pembicaraan sedikitpun kecuali Miller menanyakan alamat rumah perempuan itu.
"Rumah Lo dimana?" Miller menoleh ke arah perempuan itu.
"Jalan Anggrek nomor 21".
Setelah mendengar alamat dari perempuan itu, Miller menambah kecepatannya agar segera sampai.
"Makasih ya" perempuan itu sedikit menunjukan senyumannya.
"Sama - sama" Miller menghidupkan motor sportnya. Perempuan itu menoleh ke arah Miller, "Nama Lo siapa?".
Miller yang mendengar pertanyaan perempuan itu mematikan motornya dan melepas helm fullface nya.
"Gue Miller" Miller tersenyum ke arah perempuan itu. Perempuan itu mengangguk mendengar jawaban Miller.
Perempuan itu berjalan masuk kemudian menoleh ke arah Miller. Ketika hendak menghidupkan kembali motornya, perempuan itu menatap dirinya.
"Gue Diana" perempuan itu tersenyum dan langsung masuk ke dalam rumahnya.
Miller memasang helm fullface nya, senyum indah terukir di bibir Miller yang tertutup helm.
"Nama lo cantik Diana, secantik wajah Lo" gumam Miller.
Bersambungš
Jangan lupa Vote, Like dan Comment ya kakš
Biar author makin semangatā¤.
__ADS_1